Monday, May 26, 2008

Gerai Buku

Ketika Suami Saya Begitu Jauh…….

Laki-laki itu menghentikan motornya tepat didepan bangunan itu. Saya segera turun dari motor tua kesayangannya dan mencium tangan beliau meminta izin sembari mengucap terima kasih. Lalu motor tua itu pun melaju pulang.

Saya tersenyum. Betapa sayangnya saya pada laki-laki senja itu. Meski putrinya telah menikah, bahkan memberinya cucu, masih saja mau direpotkan untuk urusan antar mengantar seputar Bogor. Tapi seperti cerita Mama, setelah saya menikah dan tinggal di Jakarta, ternyata Papa kehilangan – dan bahkan merindukan -- aktivitasnya untuk antar-mengantar mengelilingi Bogor. Antar Desi ke pengajian. Antar Desi ikut seminar. Antar Desi ke toko buku. Hehhee... Dan saya justru menikmati naik motor berdua saja dengannya. Melibas angin. Menentang sore.

Siang masih menggelinding. Bahkan panas pun mulai menyimpulkan teriknya. Bangunan itu dua lantai dengan pintu kaca yang didepannya terpasang tanda ”Buka” besar-besar dengan warna merah. Gerai Buku. Aaah.. masih sama. Seperti dulu. Saya tersenyum sekilas. Berusaha mengenang aktivitas favorit sepanjang masa mmm...saat saya lebih muda dulu hehhe...

Saya memasukinya. Angin dingin AC serentak menyergap. Mata saya segera menyapu buku-buku yang berjajar rapi. Terkategorikan seksama. Jika saya nanti diberi keluangan niat dan kemauan untuk berbisnis, jenis bisnis seperti Gerai Buku inilah yang akan saya buat. Lantai satu ini penuh buku-buku baru yang dijual dengan harga sedikit lebih murah jika dibandingkan harga buku di toko buku besar lainnya seperti Gramedia. Ruangannya tidak terlalu luas, sehingga tidak lengkap semua buku ada disini. Tapi terus terang, buku-buku pilihan yang ada disini justru hampir semuanya saya katakan menarik. Dan saya dapat simpulkan sang pemilik Gerai Buku ini selera bukunya ’tajam’. Ia mengambil tema-tema unik dalam setiap kategori. Dan indahnya seperti pelangi. Indah saja.

Lantai duanya dulu juga penuh buku, hanya saja ditengah-tengahnya lapang. Dan banyak anak-anak bergelimpangan alias membaca buku santai dengan banyak bantal-bantal empuk. Lantai dua dulunya unit penyewaan buku. Mulai dari novel, komik, buku motivasi, buku ekonomi sampai buku resep masakan tersedia untuk disewakan. Bahkan kita juga bisa request buku baru yang dijual dibawah untuk disewa. Ooh... Indahnya dunia.

“Iya, mba?” sapa sang penjaga toko yang melihat saya kebingungan mencari tangga menuju lantai dua. Akhirnya setelah dijelaskan, saya jadi sedikit menyesalkan strategi bisnis sang pemilik yang mungkin positif dari segi pemasukan, tapi tidak memupuk subur minat baca. Ternyata tangga telah ditutup, dan lantai dua sekarang telah dijadikan penyewaan play station dan warnet. Sedihnya... hukum supply dan demand disini berlaku. Penyewa buku bagus jarang datang. Akhirnya supaya tidak merugi, banting setir dengan merusak moral anak bangsa dengan play station. Makanya jika saya ingin berbisnis toko buku, saya harus jadi konglomerat dulu, bisnis hanya sebagai hobi, pemasukan urutan kesekian gigallion deh. Hehhe...

Tapi usaha sewa buku di Gerai Buku ini tidak dihilangkan, hanya saja buku-buku yang terpampang tinggal novel dan komik. Satu dua buku bagus –sangat terbatas-- untuk disewa. Salah satu yang layak baca, World is Flat ada disana. Ngilu juga.

Tapi sudahlah, toh tujuan saya disini rendezvous. Suami saya sedang kunjungan kedua kalinya ke Mexico, -kalau suami saya bilang, sudah kaya pulang kampung aja, lebih bahkan, toh pulang kampung saja cuma setahun sekali-, saya pun mengungsi ke rumah Neneknya Safwa. Dan waktu –saat suami saya begitu jauh-terasa begitu panjang. Rindu pun sudah dilucuti. Maka saat air merindukan lautnya, lembar-lembar waktu pun bergulung berputar-putar. Putih saja.

Proses mengenang memang menguras energi. Setelah dua jam menekuri semuanya, saya menaruh perhatian pada buku ’Panduan Lengkap Homeschoolling’. Safwa baru 10 bulan, tapi saya bertekad dari sayalah dia belajar baca quran, belajar baca alfabet, dan belajar lainnya, karena saya capable untuk itu semua dibandingkan perempuan lainnya didunia, karena saya adalah bundanya. Yang akan melimpahinya dengan cinta seorang ibu. Lalu ada ’jangan mau gak nulis seumur hidup’nya-Gola Gong. Karena saya meyakini saya adalah penulis. Meski sangat tidak produktif. Tapi menulis bagi saya adalah berbagi. Berbagi itu sedekah. Sedang sedekah adalah salah satu pintu ridho-Nya. Juga ada ’Bunda Luar Biasa’-nya Ahmad Ghozali yang kemudian memasuki relung pikiran saya untuk mulai buat bisnis kecil-kecilan. Ada lagi buku ’Semua Bunda adalah Bintang’-nya Neno Warisman sebagai cemilan ibu-ibu setelah memasak hehhe. .. Terakhir dari segi non fiksi ada ’Eneagram : Panduan Mendidik Anak’, yang meyakinkan saya kalau saya menikahi pria dengan tipe 2 alias Suka Penolong. Dan semuanya masuk kantong belanja saya, masih kantong plastik hitam, L, niatnya pengen buat tas belanja sendiri yang dipakai ulang untuk setiap belanja, sayang bumi dong. Sayang anak cucu juga.

Segi Fiksi, ada novel ras di amerika : To Kill Mockingbird, yang alurnya mulus lus lus kaya jalan tol, terus ada novel detektif pembunuhan tentang sekte agama gitu, dan terakhir ada Sherlock Holmes – Misteri tak terpecahkan tapi yang ngarang tentunya bukan Conan Doyle, tapi ditulis oleh orang lain, agak semangat bacanya tapi lemes diprosesnya, teriming-imingi tulisan depan dari New York Times : Sangat mengharukan !! Padahal.......

Kalau Dee ’Supernova’ bilang, proses baca-tulis baginya adalah proses bernapas, yaitu membaca seperti menghirup udara, dan menulis diumpamakan mengeluarkan udara. Maka saya ingin sekali tulisan saya ini –yang merupakan proses mencuri waktu saat Safwa sedang terlelap-- merupakan upaya untuk berbagi untuk semuanya. Apapun itu. Insyaallah keberkahan. Dan kebaikan. Amiin...

Thursday, May 08, 2008

Barakallah ya...

Bismillahirrohmanirrohim…

Di acara rekruitmen bank yang paling dinantikan tiap tahun.
”Ooh, udah nikah ya... Aku belum Des, nunggu dapat kerjaan tetap dulu, pacarku sih udah tetap kerjanya, tapi kan aku belum. Biar penghasilan keluarganya mantap nih. Makanya doain ya. Biar keterima nih.” Seloroh gadis teman SMU ku dulu. Pekerjaan ya, hhmm...

Ngobrol siang-siang dengan majalah terbuka dan hembusan sepoi-sepoi.
”Gak Des, belum euy, ini masih hunting rumah, setelah rumahnya udah pasti, baru mulai serius nyusun nikahan. Ada rekomendasi nda? ”. Ujar teman kuliah saya. Hhhm.. rumah ya.

Sambil memegang dua undangan, saya menceritakan dua kisah diatas itu semuanya saat kami sedang menikmati air mancur di FEUI -- Duduk di taman. Langit begitu senja. Untunglah Safwa ada dipangkuan saya. Jika tidak nanti timbul gosip lagi ada mahasiswi berjilbab pacaran depan taman. Halah.. serasa tampang masih mahasiswi aja hehe.. -- Suami saya berujar, ”Semoga dilapangkan hati orang-orang yang akan menikah itu..” Hhhmm.. amiin...

Saya jadi teringat dulu saat menikah. Saya sudah dua tahun kerja di sebuah perusahaan. Karyawan tetap. Tunjangan kesehatan dan keuarga lengkap. Tapi sejak awal menikah pun saya sudah mulai rewel ingin keluar kerjaan. Approval dari suami sih langsung sekejap. Tapi approval dari manager baru setahun kemudian terpenuhi. Lebih karena moral hazard sih, transfer kerjaan harus smooth samapi ke centralnya di Kuala Lumpur. Sedang suami baru saja menyelesaikan studi S2-nya. Ia sudah terikat kontrak lima tahun balik ke kampus sebagai dosen karena beasiswanya. Tapi saat itu satu mata kuliah pun untuk diajar belum didapatkan. Sekarang saya ibu rumah tangga. Suami masih di kampus. Mengajar. Tapi dalam setahun ini, sudah dua kali menolak ajakan temannya untuk jalan-jalan keliling eropa saat pulang dari Mexico karena terlalu merindukan anak istrinya yang sudah ditinggal hampir dua minggu. Perjalanan selanjutnya bakal diiiyakan ajakannya, karena ada juga tugas yang harus dikerjakan di Belanda. Maka keseluruhan suami saya akan melakukan lima kali perjalanan dengan lebih dari 26 jam minus transit (satu kali perjalanannya) dalam setahun ini.

Waktu saya menikah dulu, boro-boro mikirin mau rumah dimana, mempelai laki-lakinya saja baru pulang dari sekolahnya di Aussie H-3 minggu. Hehhe.. Satu minggu kecapean. Satu minggu memperkenalkan diri dengan keluarga – berhubung baru lewat foto saja sebelumnya--. Satu minggu menjamu keluarga besar yang datang ke Bogor. Jangankan ngomongin rumah, ngomongin tetek bengek nikah aja banyak yang dilewat hehehe... Lalu, kami tinggal seminggu di rumah orangtua. Setelahnya ngekost satu kamar di Setiabudi. Iya, satu kamar di belakang kantor saya. Hanya ada tempat tidur dan lemari – yang itu pun perabot dari kost-annya--. Kamar mandi di dalam kamar, yang seingat saya jika kamar mandi dibuka, yang tidur di tempat tidur bisa merasakan percik-percik air basahannya deh. Hhaha...
Sebulan setelahnya baru ngontrak di Pramuka. Tapi sekarang saya sedang mensyukuri tiap bata yang menyusun rumah kami. Dulu kalau hitungan logis, tak terpikir akan membangun rumah sendiri dalam usia pernikahan sesingkat ini. Saya dan suami bukan keluarga orang kaya. Penghasilan kami pun ala kadarnya. Tapi memang hanya Allah-lah pemilik skenario terbaik.

Terakhir, tulisan ini tidak bermaksud lain kecuali ditulis dengan penuh doa bagi orang-orang yang berlapang hati untuk menyempurnakan agamanya. Karena menikah adalah ibadah. Dan semoga selalu ikhlas. Sehingga bisa melihat keindahan dalam setiap kepingannya.

Ps: Barokallah untuk Ai&Adi dan Didith&Dika

Tuesday, May 06, 2008

Please enjoy reading my old file

18 April 2008. Setelah mengajar di lab akun. Menunggu suami tersayang. Dengan backsound lagu Rayuan Pulau Kelapa (halahh J) dari komputer lab. Ditingkahi suara indah percik hujan diluar sana. Hanya ingin berbagi. Please enjoy reading, file lama saya, tahun 2005, sepulang kantor.

Bismillah…..

Kereta api pakuan, selepas stasiun depok lama.…

Jam pulang kerja sore, kereta memang selalu padat. Puncaknya kereta pakuan jam setengah enam sore. Jangan terlalu banyak berharap bisa duduk di kursi jika datang ke stasiun lewat dari jam lima seperempat. Atau berharap bisa memeras sedikit letih dengan duduk beralas koran pun baru bisa setelah hampir separuh penumpangnya turun di stasiun depok lama. Karena alasan itulah, biasanya jika hari-hari normal workload, saya berusaha keras untuk naik kereta jam lima. Aturannya bebas tempat duduk, sedikit berebut tapi biasanya semua orang dapat kursi, hanya satu dua yang berdiri.

Seperti hari ini. Saya duduk dengan nyamannya. Bicara dengan bapak-bapak yang sudah sepuh disebelah saya. Tersenyum lebar sembari mengangguk dan sesekali mengomentari. Dan pikiran saya melayang, jika saya seusianya, saya pikir yang saya inginkan pun hanya didengarkan, mengenang dan berbicara. Tadinya saya pikir bapak ini terkena post syndrom mungkin ya. Dengan usia yang membuat hampir seluruh rambut di kepalanya memutih, usia yang sudah lepas dari usia pensiun, beliau masih giat bekerja. Anggota kehormatan di jajaran auditor sebuah perusahaan karena jenjang karir gemilangnya yang lama di dunia tersebut. Tapi ternyata bukan itu, bukan untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Istrinya pun bekerja, ceritanya. Sedang mereka tidak dikaruniai putra. Jadi, lebih bermakna jika waktu yang tersisa dikontribusikan untuk yang lain, ceritanya singkat. Senyum bapak ini luruh. Masih tersisa gurat-gura pilu disana. Tapi senyumnya menulari saya. Saya tersenyum. Luruh. Dengan doa yang tumpah seketika untuk kebahagiaannya. Apapun itu, toh Allah pembuat skenario yang terindah.

Lepas stasiun depok lama, kereta mulai hening. Dan dinginnya AC – yang katanya cuma punya dua tombol, hidup atau mati tanpa ada setting dingin, lebih dingin, atau sangat dingin – mulai menusuk. Semua orang mulai merapatkan jaketnya. Sedang diluar hujan mulai berisik. Bapak tadi sudah turun dengan meninggalkan bekas di hati saya. Saya tidak tahu namanya, bayangkan. Tapi kami berbagi sesuatu. Allah Maha Mengetahui kapasitas kita masing-masing, yakinlah, ujar saya berulang-ulang. Biar menghujam jauh hingga lubuk hati.

Saya menarik perlahan jaket saya. Menghisap hangatnya. Mendengar sayup-sayup dan akhirnya melihat mereka. Saya – entah mengapa – jadi terbiasa mengingatnya, menghapal tiap personilnya, jenis-jenis lagu yang biasa mereka dendangkan hingga gaya pembuka dan penutupnya. Yup, mereka adalah pengamen. Sekelompok laki-laki usia pertengahan yang berdandan seadanya tapi nyatanya cukup berhasil menghibur. Mmh.. mungkin karena alasan terakhir inilah saya jadi mengingatnya.

Mereka mulai berdendang di gerbong yang saya tumpangi. Sedikit beradu mungkin jika jendela terbuka dengan deburan hujan di luar sana. Beberapa orang yang tertidur mulai menggeliat. Merasa terusik. Tapi saya tidak. Saya senang. Pertama kali saya melihatnya saat di kereta ekonomi larut malam saat saya pulang kantor. Kebetulan kereta kami mogok di tengah sawah dengan hujan yang semakin deras. Sedang kereta saat itu padat sekali. Mungkin karena kereta sebelumnya dibatalkan karena ada pohon tumbang yang akhirnya membuat kereta berjalan satu jalur. Hal luar biasa kah ? nope, kasus biasa jika hujan, dan orang-orang ini – termasuk saya mungkin --- sudah sangat pasrah hingga mendekati apatis. Dan mereka bernyanyi hampir sepuluh lagu saya hitung. Lebih karena mereka menikmati menghibur dan mengisi waktu hingga kereta berjalan lagi sedang mereka tidak bisa berpindah gerbong saking padatnya penumpang, bukan karena ingin upah yang lebih banyak dari para penumpang. Subhanallah kan..

Saat ini pun sepertinya saya dejavu, kereta pakuan kami pun mogok, menunggu sinyal dari stasiun depan atau semacamnya, itupun hanya menebak-nebak. Karena penumpang dibiarkan menunggu tanpa alasan apalagi kepastian. Tapi yah, sudah biasa sekali dan tingkatannya kini sudah sampai menikmati tidak lagi mengeluh. Dan saya menutup buku yang sedang saya baca dan menikmati mereka bernyanyi. Kalau di atas kertas, mungkin suara mereka sangat sumbang sekali. Tapi bernyanyi saya pikir bukan hanya soal suara dan pendengaran, tapi juga tentang suasana hati yang tercipta, tentang perasaan yang dibagi, tentang batas-batas yang ingin dilewati, tentang kemelut yang ingin ditaklukan.. Lho, kok bisa ?? Lucu memang, tapi sejujurnya itu yang saya rasakan. Dan kini mereka pun melakukan hal yang sama. Mereka tidak pelit menyanyi satu dua. Mereka menyanyi banyak sekali. Mungkin karena gerbong yang saya tempati gerbong paling ujung dan mereka sudah melewati bernyanyi di gerbong-gerbong sebelumnya. Mungkin mereka juga ingin membunuh rasa bosan menunggu kereta yang tidak juga bergerak. Apapun alasan pastinya, akhirnya penumpang gerbong ini mulai cerah karena alunan lagu mereka. Subhanallah ya pekerjaan sesederhana seperti mengamen itu. Jika mampu menghibur orang lain dan efeknya balik ke diri kita sendiri, membahagiakan hati karena membahagiakan orang lain. Bukankah itu indah ?

Akhirnya kereta kami mulai bergerak, perlahan. Saya melirik jam tangan saya, sudah hampir satu jam. Duh Gusti, limpahkan kesabaran sebanyak Engkau melimpahkan titik-titik air di balik jendela ini, harap saya. Mereka istirahat bernyanyi, dan mulai mengobrol. Saya mendengarnya. Lelucon-lelucon hangat episode persahabatan
.

Sunday, April 06, 2008

Safwa cintaku


Assalamualaikum semua, bagaimana kabarnya ? Mau idul adha kan, sudah siapkan kurbannya belum ?

Aahhh….lama sekali saya tidak menulis, rasanya sudah berabad-abad J Rindu. Rindu. Dan rindu.

Sekarang saya adalah seorang ibu rumah tangga, mendampingi laki-laki baik hati yang saya cium tangannya tiap pagi dan seorang peri mungil yang bersinar penuh kemilau seperti namanya. Setahun yang lalu, saya sibuk sekali mensyukuri setiap bilangan hari, tak putus. Atas laki-laki asing yang datang menetap dalam hati saya lalu menumpahinya dengan sejuta doa dan perasaan. Semoga hingga di akhirat ya sayang…


Menapaki tahun kedua, saya malah tak bisa beranjak. Peri mungil yang sekarang genap enam bulan dan begitu meyukai buku dan tasbih sebagai mainannya (semoga hingga kelak pun seperti itu selalu, Nak. Aamiin. Sholehah dan cerdas), begitu mencuri hati saya. Saya tak hentinya memelototinya, jika tidak, akan begitu banyak hal yang terlewat. Karena cepat sekali pertumbuhannya. Rasanya dulu saat saya menangis meminta melihat bayi saya untuk kedua kalinya setelah dioperasi caesar, ia hanya sekecil ini. Eh, tidak terlihat ya ? J Mungil dan tampak rapuh deh. Alasannya dulu kenapa ya, minta lihat bayi lagi, mmh.. niatnya mau IMD – inisiasi menyusui dini yang bayinya diletak didada sang ibu dan selama satu jam atau lebih bayi akan bergerak sendiri untuk menyusui, subhanallah, Allahu Akbar deh lihat vcdnya… , tapi ga jadi gara-gara belum kongkalingkong sama dokternya, maklum operasi caesar saya sito alias dadakan. Sampai seminggu setelahnya saya hanya memperhatikan suster yang memandikannya karena tubuh saya masih dalam masa pemulihan. Mmh.. hehe alasan, itu terlebih karena saya begitu takut menyentuhnya. She is sooo gorgeous. Soooo tiny… dan saya jatuh cinta begitu saja.

Saya hanya bisa mengingat satu hari dimana begitu lelahnya terjaga di malam hari, lalu akhirnya saya biarkan suami saya menggendong Safwa hingga saya terlelap. Hehehe.. bukannya Safwa yang terlelap, malah sayanya. Selebihnya saya begitu takjub atas pertumbuhannya. Sekarang dia pandai sekali telungkup. Tiba-tiba nanti sudah diujung tempat tidur, guling-guling sendiri. Kepalanya sudah diangkat-angkat, semangat untuk duduk tegak. Dan dia sholehah sekali. Tidak pernah merepotkan. Jika saya katakan, "Nak, Bunda mau sholat dulu ya, yang sabar ya, main kertas dulu"
maka dia akan asyik sekali main kertas. Sembari ngomel-ngomel atau nyanyi-nyanyi dengan bahasa bayinya – mungkin turunan dari ibunya hehhe – . Safwa suka sekali dipeluk. Dia akan terkikik-kikik sendiri dengan giginya yang ompong alias belum tumbuh gigi. Dan dia akan bersinar saat dicium. Safwa sangat menikmati saat begitu banyak sayang menyentuhnya. Aahh..

Terkadang saat larut dan ia tertidur, saya suka sekali berlama-lama menatapnya. Mengatakan bahwa saya mencintainya. Hingga rasanya sesak. Lalu bertukar pandang dengan suami saya yang matanya sering basah penuh syukur. "Allah baik banget sama kita ya Bun". Dan saya hanya sanggup mengiyakan dengan tangan menyeka mata. Allah….. Pernah beberapa malam, dalam lautan syukur saya, saya tergugu dan dengan gagu berujar, " Rob, jadikan kecintaanku kepada Safwa hanya berujung padaMu.. hanya padaMu… bahwa ia milikMu.. adalah titipanMu… "

Dan kelulah bibir ini…. Allah…

Maka tolong ingatkan saya jika terlontar ucap keluh, kuatkan saya, karena apalah semua ketika begitu banyak kedamaian mengiringi langkah saya.

Wassalam,
Bundanya Safwa

Friday, May 11, 2007

Saat kelam menggulung kilau, perlahan...

Saat kelam menggulung kilau, perlahan...

Aku ingin selalu menuliskanmu puisi-puisi
mangalir seperti aliran darah membawa energi
hingga ke sel-sel yang tersembunyi
berhembus dalam setiap helaan nafas hidupku

Tapi sayang...itu bukan puisi untuk kita, seorang hamba
Itu adalah rentetan-rentetan suku kata dan rasa
untuk Yang Maha Indah
aliran syair bagi Pemilik Jiwa
puisi-puisi kita pada Sang Pencipta

Kita kan tuliskan puisi-puisi,
rentetan kata dan rasa,
aliran syair dan cerita,
untukNya
pada tiap aliran darah,
pada tiap helaan nafas hidup kita

Cucuran darah kan menjadi warna indah pada tinta puisi kita
Engahnya nafas menjadi rentak dalam pembuktiannya
Kita kan selalu menuliskanNya puisi-puisi
mengalir seperti aliran darah membawa energi
hingga ke sel-sel yang tersembunyi
berhembus dalam setiap helaan nafas kita

Puisi-puisi yang menjadi sempurna saat aliran darah terhenti
saat hembusan nafas senyap
saat sempurna melihat wajahNya..

Bersediakah kau sayang....????


"Lakukanlah apa yang kita mampu dan tahu,
biarkan Allah memampukan dan memberitahukan
apa yang kita tak mampu dan apa yang kita tak
mengetahuinya."



Note : Puisi di atas ditulis oleh belahan hati saya. Yang bagi saya pribadi merupakan puisi penggerak, saat jiwa mulai layu. Puisi penggubah cahaya saat kelam mulai berjejak. Sekaligus merupakan puisi yang tiap baitnya begitu indah dan menghujam hingga jauh setelahnya.

Sekolah Alam (Part 1)

Tentang Kepindahan
Banyak alasan untuk pindah.
Pindah untuk mendapatkan yang lebih baik.
Pindah untuk lebih dibebaskan menjadi diri sendiri.
Dan pindah untuk diakui sebagai pribadi yang unik.
Itulah beberapa alasan utama mereka pindah ke Sekolah Alam.


Gramedia Bogor, pertengahan oktober 2005, saat mentari begitu menyengat,

Liburan?? Hhmm, menurut saya adalah toko buku. Ya Gramedia, Gunung Agung, Al-Amin, Nurul Fikri, Bazaar-bazaar buku, Gerai Buku, sampai mas-mas ramah dengan senyum lebarnya di stasiun Sudirman yang menjajakan majalah super lengkap mulai dari Cita Cinta, SWA sampai Tarbawi. Hah, Serius? Hhaha.. iyya, karena liburan bagi saya ya identik dengan arung jeram, outbond, bungee jumping, kemping gitu, atau jalan-jalan ke desanya teman saya di Lampung. Tapi berhubung di Bogor minim sekali pilihannya, jadi saat melerai setiap otak yang kusut ya dengan jalan-jalan melalui buku, tapi terlebih dahulu ya dibeli dulu bukunya hehe, dan dimana lagi kalau bukan toko buku.

Maka jadilah toko buku tempat favorit saya. Meski cuma memelototi setiap buku dan memaksa mas-mas penjaganya merobek plastik bukunya supaya saya bisa melihat detail isinya, sudah melegakan hati. Yah, walaupun karena bukunya tidak bermutu, terkadang tanpa rasa malu saya letakkan buku yang sudah susah payah dirobek plastiknya itu disertai senyum manis dan kata-kata maaf yang ajaib untuk penjaganya. Dan bereslah semua. Oh ya, ada satu hal lagi yang membuat saya memfavoritkan toko buku, pertemuan-pertemuan tak disengaja dengan teman-teman lama saya. Ya, seperti hari itu. Tatapan saya menubruk seseorang diujung sana, bagian buku-buku laris.

“ Sigiiitt ??!! “
“ Desii ??!! “

Huaah, saya bertemu teman SMU saya, teman satu organisasi dulu. Dan dia tidak berubah banyak. Masih seseorang yang beraura kebapakan dengan senyum lebarnya yang khas. Lalu obrolan pun mengalir. Dan kami pun bertukar kabar. Sigit lulusan IPB. Dia kini seorang guru. Sekolah Alam, ujarnya berjeda. Dan saya mengenalinya sebagai rasa bangga. Hingga kami berbalas salam, dan dia menghilang di kasir, saya masih merasakan rasa bangganya. Pada profesinya. Pada sekolah tempatnya mengajar. Hhhm, menarik.. Dan saya pun kembali menekuri buku-buku di deretan berikutnya.

Saya langsung teringat Sigit saat saya menemukan sebuah buku. Covernya lucu. Coret-coretan seorang anak umur lima tahun. Kok saya tahu, habis persis coretan adik saya yang kecil. Judulnya, Menemukan Sekolah yang Membebaskan ditulis oleh Komunitas Sekolah Alam. Kali ini saya tidak memaksa penjaganya membuka plastiknya, saya masukkan langsung ke keranjang. Lebih karena rasa ingin tahu saya akan rasa bangganya Sigit pada Sekolah Alam dan sedikit woman’ s feeling bahwa buku ini buku yang bagus.

Maka mulailah liburan saya kali ini. Saya menghabiskannya di kereta. Dan setelahnya saya ingin sekali menuliskan rentetan kata-kata yang dimulai dengan ranting-ranting merah di bawah pohon perdu, percik air dalam warna bulan atau semburat-semburat jingga dalam lembayung pagi dan berjuta kata-kata indah lainnya yang bisa terangkai. Betapa kita memiliki kilau sejati berlian yang tidak pupus, kekuatan dan ketabahan hati-hati yang lapang untuk menanggung beban dan amanah umat. Ya, anak-anak. Makhluk suci berparas cahaya.

Kata pengantar yang ditutur oleh ustadz kesayangan saya, ustadz Anis Matta, selalu seperti biasanya, menoreh sangat dalam. Beliau berbicara tentang belajar adalah proses berubah secara konstan. Tentang ’luka persepsi’ saat usia dini yang mungkin melahirkan ’luka emosi’ saat usia menanjak dewasa. Tentang wajah-wajah penuh cahaya yang dilahirkan tidak untuk menanggung obsesi-obsesi sang orang tua. Tentang ’menjadi’, bukan ’menguasai’ sesuatu. Tentang belajar matematika yang melatih kemampuan logika seseorang, tentang belajar sejarah yang menajamkan kesadaran atas identitas kolektif. Tentang pengetahuan adalah sebuah ’fungsi’ bukan ’barang’ yang diperdagangkan dalam komoditas sekolah. Tentang tradisi ilmiah, tentang pengembangan intelektual berkesinambungan, tentang sikap seseorang terhadap pengetahuan, bukan hanya ’sekedar’ prestasi belajar. Dan begitu banyak ’tentang’ lainnya yang beliau petik dari pengalamannya menyekolahkan keempat anaknya di Sekolah Alam.

Dan selebihnya buku tersebut menggulirkan apa yang ada. Begitu terbuka. Sehingga yang lahir hanyalah keindahan. Tak lebih.

Proyek idealis membangun bangsa, simpul saya saat menyudahinya. Buku ringan yang tak disangka sangat berat. Gabungan dari begitu banyak pola pikir, tulisan dan patahan-patahan episode hidup. Mulai dari penggagas ide, pendiri, guru, orang tua murid hingga murid-muridnya sendiri. Semuanya bercerita. Dan percik-percik yang tertampung begitu sederhananya mengalun. Dari kisah tentang menitikberatkan pada konsep manusia sebagai makhluk individu yang unik, tidak hanya ’kecerdasan’ yang diukur dari angka-angka, tanpa diberi kesempatan untuk menampilkan keunikannya. Lalu kisah tentang sekolah yang mendidik, bukan hanya mengajar. Ada lagi kisah menginap di sekolah untuk mengamati planet Mars, outbond lengkap dengan tali temali dan kolam pasir, market day saat belajar mengenai uang dengan praktik berjualan, tidak adanya seragam, kepercayaan bahwa setiap anak dilahirkan sebagai anak pandai dengan cara yang mungkin berbeda-beda, tentang saung sebagai ruang kelas, tentang rumah pohon, tentang kolam ikan dan berbagai macam tumbuhan, tentang sekolah yang membebaskan anak-anak untuk menjadi dirinya sendiri. Kisah lainnya tentang seorang anak yang menasehati bundanya saat sedang marah, “Bunda, jangan marah... surga bagimu, ayo Bunda, istighfar ya... “. Sekolah yang tidak hanya bemurid anak-anak, tapi orangtua murid pun turut serta ikut belajar, bahkan hingga khadimat-khadimatnya. Sekolah yang memiliki kurikulum ’belajar untuk hidup’ dan bukan ’belajar untuk sekolah’. Hhh... hati saya berdegup. Saya harus melihat sekolah ini.
-- bersambung ke part 2 --

Saturday, November 25, 2006

Facial ? ;p

Ritz Carlton, pertengahan hari di bulan November, tahun 2005…

Dia akhir empat puluh tebakanku. Mmmh.... nope, pertengahan lima puluh tepatnya. Ya rasanya begitu, dibalik segala ”persenjataan perang”-nya mulai dari pelembab, bedak dan blush on serta gradasi warna sepatu yang match dengan tas dan busananya, dia layak menjadi nenek seseorang. Gerak-geriknya energik. Dan saya memperhatikannya. Ya iyalah, dia kan pembicara dan saya peserta. Sebuah conference yang kebetulan diadakan oleh kantor saya. Bertema Woman and Leadership.

Tapi berbeda dengan pembicara sebelumnya, yang semuanya adalah perempuan, baik itu direktur utama sebuah bank milik pemerintah yang terkemuka, pemilik perusahaan yang sedang berkembang pesat hingga salah seorang tokoh penggerak bangkitnya perfilman Indonesia, ibu satu ini tidak sedikit pun menyentuh tema kepemimpinan, karena memang beliau mendapat peran menjelaskan tentang hakikat perempuan. Dan beliau pun sibuk mempromosikan buku terbarunya. Yang kebetulan baru saja terbit. Saya sempat melihat buku terbarunya di Gramedia. Buku ekslusif yang harganya bersaing keras dengan Keown-nya anak Accounting. Isinya tidak lain, bagaimana menghadiri sebuah pesta, tata busana, tata krama hingga penggunaan sendok dan pisau serta tidak lupa cara berjalan dan bergaul. Whoooaa… buku ibu-ibu pejabat, waktu dulu saya menyimpulkannya demikian, atau ibu-ibu yang kebanyakan waktu dan uang yang begitu mementingkan keserasian busana dan pernak-pernik lainnya dibandingkan isi kepalanya. Oalahh desi, sentimen berat !!

Saya tersenyum simpul. Mencoba sedikit lebih realistis. Ada kok tipe ibu-ibu yang akan masuk di antrian pertama pembeli buku ekslusif tadi. Saya melirik modul sekilas, sekarang masuk bagian kepribadian perempuan. Hhhh… bukannya saya tidak antusias dengan ceramah-ceramahnya, tapi sebaliknya, saya tertarik sekali. Hanya saja saya tidak begitu nyaman dengan cara beliau membawakannya. Sehingga berkali-kali ekor mata saya hinggap di jam tangan atau melayang memperhatikan interior ball room Ritz yang baru dibangun ini atau sekedar reaksi orang-orang di sekitar saya.

Dan memacu pikiran saya agar tetap tertuju padanya dibutuhkan upaya cukup keras. Dan saat saya akhirnya berhasil menyimak ceramahnya, beliau sedang menyinggung tema mengenai kebersihan. Hmm, layak didengarkan. Beliau menekankan tentang pentingnya perawatan pakaian dan tubuh, mulai dari mengganti pakaian dari ujung kepala sampai ujung kaki dan pakaian terluar sampai pakaian terdalam sehari sekali, hingga teraturnya luluran, creambath, facial dan perawatan tubuh lainnya. Hihihi.. saya meringis pelan. Antara miris dengan geli.

Percayalah, saya baru berkenalan dengan salon akhir-akhir ini. Haha… benar kok, saya tidak bohong. Salon dalam artian sesungguhnya ya, bukan salon untuk potong rambut tok ya, tapi perawatan tubuh keseluruhan. Saat saya mampu menghasilkan uang sendiri yang setelah ditempatkan pada beberapa pos wajib masih bersisa. Saat saya berganti status dari mahasiswa menjadi karyawan. Saat saya mendapati kenyataan bahwa kecepatan membeli buku saya melebihi kecepatan membaca buku itu sendiri, akibat waktu luang yang mulai terpangkas. Haha.. betapa dilemanya hidup.

Tapi saya ingat perkenalan awal saya dulu dengan tempat yang bernama salon. Letaknya di deretan Margonda. Beberapa bulan yang lalu selesai menghadiri acara HUT FE. Tengah hari yang terik saat badan terasa tanpa penopang karena “dipaksa” bangun sedemikian pagi. Lalu teringat ucapan seorang teman kalau di salon bisa menghilangkan lelah dan penat, akhirnya saya singgah juga. Alasan yang terdengar sedikit konyol memang, tapi akhirnya saya berada di resepsionis, memelototi daftar jasa yang tersedia. Facial buah, facial ekstra.., facial mawar, etc etc.. lalu creambath dan kesekian puluh jenisnya, dan berlembar-lembar keterangan dan produk jasa lainnya. Wuihh… banyaknya. Dan pada akhirnya memutuskan ringan mungkin saya harus mencoba creambath dulu, saya berpapasan dengan adik kelas saya, masih tingkat dua. Ia sudah menyelesaikan facialnya. Dan berujar cepat bahwa facialnya untuk mengatasi masalah jerawatnya. Hihihi, saya tersenyum geli, saat seusianya saya bahkan tidak terpikir facial itu untuk apa. Saya menyelesaikan creambath dengan sedikit lega, dan sedikit lebih segar serta sedikit patah tulang, karena saya benar-benar menikmati ‘proses pemijatannya’. Hahaha…

Kali kedua, saya diajak mengunjungi salon yang berbeda, tapi masih salon muslimah. Yang pada akhirnya jadi salon favorit saya. Masih berlokasi di Margonda. Tapi dengan suasana yang lebih nyaman dan corak ornamen jawa kental yang membuat pelanggannya serasa putri keraton. Kali ini saya memilih facial. Dan untuk produk jasa ini saya terpaksa mengiyakan pendapat teman kantor saya yang bersikeras kalau perempuan itu harus tahan sakit. Ia berpendapat demikian karena proses siklus bulanannya dan melahirkan oleh perempuan pada umumnya. Tapi menurut saya, bahkan dalam rangka perawatan pun, perempuan harus bersakit-sakit ria, karena difacial itu sakit saudara-saudara. Saya tidak melihat apa yang mereka lakukan, karena saya berbaring sambil terpejam, tapi saya bisa merasakannya. Seperti ada aliran listrik yang disentuhkan pada wajah kita, lalu bunyi besi yang berderit-derit dan begitu memilukan, dan wajah kita ditarik-tarik dengan benda yang terasa seperti pencabut botol. Huaahh... saat itu dalam pikiran saya, mungkin ini yang pertama dan terakhir kalinya saya difacial, mengingat untuk menghilangkan komedo dan jerawat saja mesti berkali-kali minta tissue kering untuk mengusap daerah sekitar mata yang tiba-tiba basah. Dan setelahnya, saat saya menengok teman saya yang juga difacial, saya mendapati matanya juga sama sembabnya dengan mata saya. Hahaha...

Kembali ke bangunan dengan bentuk aneh yang sulit dikategorikan segi empat atau segi tiga yang kebetulan dinamai Ritz Carlton, dengan senyum lebar, menertawai episode lalu saya dan juga gaya ibu pembicara di depan yang menggambarkan seorang perempuan yang tidak rajin melakukan perawatan tubuh, pikiran saya seperti dilecut dengan beberapa pernyataan seperti perempuan itu harus cantik, harus menarik, menghargai dirinya agar dihargai orang lain dengan cara merawat tubuhnya, dan karena memang demikianlah hakikat perempuan.

Untuk beberapa jangka, saya terdiam mengiyakan, saya sepakat kita harus merawat tubuh kita – terlepas dari bagaimana pun bentuk perawataanya -- karena dengan begitu berarti kita mensyukuri nikmat Allah, menjaga amanah-Nya dan juga menghargai diri kita sehingga orang pun secara tidak langsung akan menghargai kita. Tapi selebihnya, mengingat konteks dan konsep buah pikirannya, hati saya menggeleng keras.

Pikiran saya segera terbang pada beberapa raut wajah yang begitu saya kenal. Wajah sederhana tanpa polesan make-up. Namun, saat tersenyum, seakan seluruh cahaya mentari tumpah ruah di wajahnya. Ia selalu tersenyum sangat tulus. Dan ketulusannya melekat jauh ke dalam hati. Ada lagi wajah polos sederhana lainya, tapi matanya begitu berkilau saat ia mendengarkan gundahmu, melerai setiap pahit ceritamu, dan ia pun menjelma menjadi bidadari tercantik yang hadir ke bumi karena ia menerimamu begitu apa adanya. Hhh....

Maka, dalam perjalanan pulang dalam taksi menuju Stasiun Sudirman, saya pun berseru dalam hati. Wahai perempuan dimana saja, mari kita berdoa bersama, semoga seseorang yang memilih kita untuk dijadikan pelipur laranya, pelepas gundahnya dan penenang gelisahnya bukan dari lembutnya kulit kita, halusnya wajah kita, lentiknya jari jemari kita, bukan hanya sekedar bungkus. Bukan karena sesuatu yang begitu rapuh dan mudah luruh. Begitu gampang hilang dan tersapu waktu seperti apa yang begitu jelas terpampang.

Semoga kita dipilih karena keimanan kita, buah pikiran kita, kehalusan kepribadian kita, kelembutan akhlak kita, dan kelapangan hati dan jiwa kita. Yang keseluruhan berpadu dalam sinaran yang memancar dari aura kita, saya yakin demikian. Karena itulah hakikat perempuan. Sebenarnya. Aah.. itulah doa terindah saya hari itu.

Sunday, July 30, 2006

maka, beribu doa pun melangit..

’Bunda sayang, izinkan aku, ya ?’

pintaku lembut saat itu,

dan semburat jingga pun bertabur dalam damai,

sedang penggalan-penggalannya menjelma beribu cahaya,

memercik luruh relung-relung yang tiba-tiba menyeruak,

menyisakan harap yang kian bergulir,

matamu meredup, peluh pun mulai jatuh,

beriringan, dan tatapmu nanar,

sedang raut kelam berdesing keras menguak sepi,

melekat gundah sedemikian erat,

’tidakkah sayapmu masih rentan, Nak?

sedang angin di luar pun sedemikian keras berderak,

bahkan mentari seringnya menyengat tajam,

dan itu membuatku galau, sungguh... ’

aku memeluknya,

menyimpan lapis demi lapis cintanya,

menitipkannya pada sinaran yang melingkar,

hanya sesaat,

karena dadaku sedemikian sesak,

sedang cintanya bergulir tanpa putus...

‘....insyaAllah, dia laki-laki terbaik pilihan Allah, bunda, untukku…

tidakkah itu indah ?

laki-laki terbaik pilihan Allah, bunda, untukku...’, pekikku parau

helaan napas panjang, berbaur rindu,

dan syahdu yang mengumandang, kini menjejak kuat

lalu, ia mengusap kepalaku, menyandarkan separuh napasnya

dan mungkin seluruh, karena kini haru mulai berbercak

’sayapku mungkin masih rentan, tapi sayap kami akan saling menyangga kan, bunda ?

hingga akhirnya mampu mengepak seluas dahaga sekuat sayap bunda kelak,

bukankah itu yang bunda ajarkan ?’

’bukankah bunda yang memanggilnya datang,

lewat doa-doa panjang bunda,

lewat sujud-sujud syahdu bunda,

dan dalam perjalanannya meniti langit, ia kini mengajakku serta,

bukankah ini yang bunda adukan dulu pada Pemilik Hati ?’

’................... dan bunda,

ia mencintai Allah,

belajar mencintai Allah sedemikian kuat,

tidakkah itu sudah cukup, bunda ?’

napasnya kini berbalur haru,

luruh sudah segala,

maka, beribu doa pun melangit,

memenggal setiap gulita,

melebur pupus,

dalam rangkaian panjang sebuah cita,

hanya Allah saja ………

Sunday, April 02, 2006

Azzamku

Aku bersumpah wahai diri

Masuklah engkau ke medan ini

Aatau kupaksakan dirimu

Bila semua orang berteriak “Maju“

Mengapa masih juga membenci surga !!!!!



Sudah lama hidupmu dalam tenang

Jiwa,….. oh jiwa…..

Kalaupun tak terbunuh di jalan ini

Dirimu akan mati jua

Inilah jalan keabadian

Yang paling sempurna

Lakukanlah, kau akan bahagia

Elakanlah, kau akan celaka



Abdullah bin Ruwahah – saat perang Uhud ---

Sunday, March 19, 2006

Puisi Pembangun Jiwa


mas kawin untuk bidadariku

adalah sekuntum bunga melati

yang aku petik

dari sujud sembahyangku

setiap hari


buah cintaku

dengan bidadariku

adalah lahirnya sejuta generasi teladan

yang menggendong tempayan-tempayan kemanfaatan

bagi manusia dan kemanusiaan

pada setiap tempat, pada setiap zaman


mereka lahir demi kesejatian sebuah pengabdian

dalam abad-abad yang susah,

abad-abad tidak mengenal Tuhan

abad-abad hilang naluri kemanusiaan

abad-abad berkuasa rezim-rezim kemungkaran

dan mereka tetap kekar dan setia

membela kebenaran

dan keadilan


estafet perjuangan kami berkelanjutan

sambung-menyambung pada setiap generasi

tak berpenghabisan

terus bergerak

mengaliri ladang-ladang peradaban

seperti cintaku

pada bidadariku

yang terus tumbuh

semakin subur

dari hari ke hari

laksana kalimat-kalimat suci

di hati para salehin

di hati para nabi

(Habiburrahman El Shirazy, ”Bidadariku”, 2000)



untuk sebuah hati. yang jauh. saat Allah menyusupkan ketenangan dengan begitu mudahnya.

Monday, January 30, 2006

Ada banyak ruang di hati kita ....

Ada banyak ruang di hati kita. Ada ruang untuk berkeluh kesah. Ada ruang untuk berduka. Ada ruang untuk merasa kesepian. Ada ruang untuk merasa lega. Ada ruang untuk berbahagia. Ada ruang untuk rasa-rasa tak bernama. Dan begitu banyak ruang untuk setiap jeda dalam hidup kita.

But, life is about choosing wisely, rite ?

Sekarang, berarti tinggal kitanya, mau dan bisa tidak untuk memilih secara bijak.

Kita bisa menghabiskan separuh napas kita untuk berada dalam ruang berkeluh kesah. Atau kita pun bisa memangkas habis seluruh hayat kita dalam ruang bernama kesepian. Semuanya hanya sebuah pilihan. Dan seperti halnya sebuah pilihan, dibelakangnya berderet berantai konsekuensi. Jika dan jika, hanya dan bila, lalu dan kemudian. Hhh...

Ada banyak ruang di hati kita. Ada ruang untuk mengurai letih. Ada ruang untuk merangkai cita. Ada ruang untuk memecah penat. Ada ruang untuk menabur kemilau. Ada ruang untuk rasa-rasa tak bernama, dan begitu banyak ruang untuk setiap jeda dalam hidup kita.

Again, life is about choosing wisely, rite ?

Seluruhnya pilihan. Beribu jalan membentang di hadapan. Bertaut pintu terbuka siap dimasuki. Dengan jutaan kilau pesona warna yang ditawarkan. Dan seluruhnya hanya sebuah pilihan.

Look, betapa hebatnya manusia ciptaan Allah ya ? Sanggup memilih. Untuk membangkang. Atau tunduk pasrah. Untuk hina. Atau mulia. Untuk bahagia utuh dan seluruh. Atau pilu penuh sesal di setiap jarak.

Hhmm.. tapi manusia adalah manusia. Sejatinya manusia. Bukan alunan cahaya. Bukan pula kobaran api. Hanya tanah. Dan seluruhnya adalah tanah. Ia mulia karena ruh yang ditiupkan-Nya. Ia mulia karena kehendak, kemauan dan kemampuan. Ia akan tetap mulia. Sungguh mulia. Karena pilihan-pilihan. Ia pun bisa hina. Sungguh terpuruk. Karena pilihan-pilihan. Dan seluruhnya hanya sebuah pilihan.

Ada banyak ruang di hati kita. Ada ruang untuk menyemai bintang. Ada ruang untuk setiap tatapan. Ada ruang untuk seluruh pagi dan senja. Ada ruang untuk rasa rentan yang bertahan. Ada ruang untuk setiap kerapuhan. Ada ruang untuk rasa-rasa tak bernama, dan begitu banyak ruang untuk setiap jeda dalam hidup kita.

But, again, life is about choosing wisely, rite ?

Karena manusia hakikatnya adalah jalinan sendu. Maka, mari sejenak berkunjung ke ruang kerapuhan, ruang mengurai perih, ruang setiap guliran pupus. Ruang yang tampak hanya biru di setiap sisinya. Nikmati setiap jamuannya. Dan jadilah manusia. Namun saat semua mulai menghujam, segeralah berpamitan. Ingat, kita hanya berkunjung. Sejenak. Kita hanya meletakkan lara kita saja. Meninggalkannya di sana. Dan berlatih untuk bersabar. Hingga setelahnya, jauh setelahnya, langkah kita terasa ringan.

Karena manusia hakikatnya adalah rautan gelak tawa. Maka, mari sejenak berkunjung ke ruang penuh kelegaan, ruang menuai kemilau, ruang penuh sinar berbalut semburat hijau. Ruang yang melayangkan setiap berat yang kerap hadir. Nikmati setiap jamuannya. Dan jadilah manusia. Namun saat semua mulai melambung, segeralah berpamitan. Ingat, kita hanya berkunjung. Sejenak. Kita hanya meletakkan lega kita saja. Menitipkannya di sana. Dan berlatih untuk bersyukur. Hingga setelahnya, jauh setelahnya, langkah kita terasa ringan.

Karena begitulah hakikatnya ruang dan rasa. Semuanya bermuara pada Allah. Saja. Allah yang mencipta setiap ruang. Allah yang menghadirkan setiap rasa. Ia pemilik segalanya. Kita hanya pelaksana saja. Menunaikan segala sesuatunya sesuai dengan porsinya. Tidak berlebihan. Karena yang cukup itu baik. Baik untuk kesehatan jiwa. Baik untuk ketenangan Hingga diujung jalan nanti, yang mendekap kita hanya kebaikan semata. Lalu damai pun menyelubungi. Maka jadilah manusia. Maka, jadilah jiwa-jiwa tenang. Will you ?

Desi Novita Sari

Bismillah, dengan hati menuju tenang

29 jan 06, 11:08 pm

Friday, January 13, 2006

Perasaan saya tentang Novel ”I don’t know how she does it” by Allison Pearson

From : Kate Reddy, Wrothly, Yorkshire

To : Debra Richardson

Debs sayang, bagaimana kabarmu?

……………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………..

Kau tahu aku selalu mengatakan ingin bersama anak-anakku. Oke, aku benar-benar ingin bersama anak-anakku. Kadang-kadang, kalau pulang terlambat untuk mengantar Emily tidur, aku menghampiri keranjang cucian dan Menghirup Bau Pakaian Mereka. Aku begitu kehilangan mereka. Aku belum pernah mengatakan ini pada siapa pun. Tapi begitu aku bersama mereka, seperti sekarang ini, kebutuhan mereka jadi seperti tak ada habisnya. Rasanya seperti hubungan cinta yang dijejalkan ke dalam satu akhir minggu yang panjang – hasrat, ciuman, air mata, aku sayang padamu, jangan tinggalkan aku, aku mau minum, kau lebih sayang dia daripada aku, bawa aku ke ranjangmu, rambutmu bagus, peluk aku, aku benci padamu.

Capek dan ngeri dan ingin buru-buru kembali kerja supaya bisa istirahat. Ibu macam apa yang takut pada anak-anaknya sendiri ?

Salam dari Wrothly,

K8 xxxxx

Saya pertama kali melihatnya di toko buku Gunung Agung. Niatnya sih sekedar membeli DVD Akal untuk adik saya. Dan berwanti-wanti dalam hati untuk tidak membeli novel lagi. Dengan tanda seru dan garis bawah tiga rangkap !! Tapi saya tidak bisa menahan diri untuk sekedar melewati rak novel. Saya pikir, ah kan cuma lewat saja. Melirik tidak mengindikasikan akan membeli bukan ? Dan ya, saya pun melewatinya. Melenggang perlahan. Berkata dalam hati, cukup sudah belanja buku. Minggu kemarin kamu baru saja menghabiskan budget buku untuk tiga bulan mendatang. Jangan boros. Dan saya mengangguk berkali-kali. Ya. Ya. Ya. Jikalau saya menemukan buku bagus, berati tunggu empat bulan lagi. Oke. Berdamai dengan hati.

Dan lalu saya menemukannya. Di baris keempat. Warna covernya ramai, khas chiklit. Heyy, ini chiklit. Bayangkan, saya bahkan belum pernah tertarik pada chiklit sebelumnya. Saya pikir chiklit adalah bacaan yang terlalu ringan dan saking ringannya seperti melayang di udara, tidak berbekas bacanya. Huh !! Tapi rasanya rumusan tadi tidak berlaku. Saya meraihnya. Begitu saja. Membaca selintas judulnya : ”I don’t know how she does it ” yang diterjemahkan ”Sibuk Berat ”. Lalu membaca cover belakangnya.

”Kate Reddy, seorang manager investasi.............“

Huahh, mungkin saya langsung jatuh cinta pada buku ini gara-gara kata investasi. Terus terang saya rindu sekali bahasan investasi. Saya menekuninya saat kuliah. Felt like this topic is my blood. Tapi lalu mengikisnya perlahan karena bidang pekerjaan saya sekarang jauh sekali dari lingkupan investasi L.

”..............., ibu dua anak. Hidupnya diperhitungkan hingga ke menitnya, dan kepalanya berisi jutaan hal yang harus diingat. Presentasi, konser Natal di sekolah, telekonferensi dengan klien, membatalkan janji spa, mengecek indeks Dow Jones. ..... Dengan begitu banyak bola yang melayang di udara, cepat atau lambat salah satunya pasti jatuh juga. ”

Oke, ---dalam hati saya sok menyimpulkan---, jadi tokoh utamanya seorang ibu dua anak yang juga manager investasi yang super sibuk. Dan dia membagi – entah jika memang ada yang bisa dibagi – antara rumah dan kantornya. Baiklah, topik yang sensitif.

Di kantor saya, topik ini seperti gigitan nyamuk, kau tak bisa menikmatinya jika tidak menggaruknya. Bolehlah kantor saya mendapat award ”the best company for working mother”, tapi seorang perempuan adalah seorang ibu, bahkan sebelum dia menjadi karyawan, saat dia dilahirkan ke dunia pun dia sudah berpredikat seorang calon ibu. Dia tidak menikmati penuh pekerjaannya sebenarnya, dia hanya membagi perasaanya menjadi dua dan diharapkan pengorbanan itu sudah cukup. Ah, betapa sok tahunya saya, kan saya belum menjadi seorang ibu J.

Saya masih menggigiti bibir, saat melenggang keluar Gunung Agung tanpa buku itu. Padahal saya sudah hampir menghabiskan bab satu tanpa keluhan satu pun – bayangkan, saya yang selalu mengeluh setiap saat kali ini tidak mengeluh -- dan dengan berat hati meletakkannya kembali. Ini gara-gara saya beli buku ”Jika Einsten jadi Koki”, ”Growth Everyday”-nya Dottie siapa itu, terus delapan buku lainnya yang saya beli saat saya ’kalap’ minggu kemarin. Disiplin desi, disiplin, ujar saya berkali-kali.

Oke, baiklah, jika saya tidak boleh membelinya mengingat integritas saya dan janji bodoh untuk menepati pada diri sendiri – hikks. Kita kan bisa menyewanya. Ide bagus ( sungguh ? ). Maka keesokan harinya – yang kebetulan masih libur lebaran --, saya pergi ke Gerai Buku. Tempat penyewaan buku yang punya konsep bagus mulai dari tempat yang luas dan bersih, sofa-sofa empuk, buku-buku rapih yang bersampul jali, musik yang easy listening, hingga hari peminjaman yang cuma satu hari serta denda yang ekstra ketat. Konsep yang sama juga diterapkan oleh BUBU yang berlokasi di Margonda – UI – tapi dengan ukuran yang lebih kecil dan tingkat kenyaman tempat beberapa derajat lebih rendah.

Buku ini lumayan tebal – 468 halaman. Sebenarnya saya bisa membacanya habis dalam empat jam non stop. Tapi ternyata saya menghabiskannya dalam waktu enam hari – untung saya menyewa enam buku di Gerai Buku, pemborosan sejati karena tidak dibaca, kalau tidak bisa dibilang tindakan yang bodoh -- hikks. Karena setiap satu halaman, saya hanya harus berpikir sebentar dan lalu tertawa miris. Terlalu penuh kepala saya jika saya memaksa membaca keseluruhan buku tanpa mencerna dan mengunyahnya perlahan-lahan hingga saya menemukan inti sarinya. Karena itulah dibutuhkan waktu untuk sehari membaca penuh dan tertawa seminggu setelahnya.

Betapa miripnya apa yang dituliskan Allison Pearson dengan apa yang saya jalani setiap hari atau working mother lainnya. Draft untuk telecon nanti siang, review super singkat dengan bos besar yang tidak bisa terima hal lain kecuali kabar baik, bahan untuk meeting dengan cross team mate, dan kekacaubalauan lainnya yang sering terjadi di kantor. Atau telepon dini hari saat team mate menelepon mengatakan kondisi darurat di customer. Dan mengharuskan saya membuka laptop saya dan bicara dengan orang-orang Austria mengenai satu license keys yang harus selesai saat matahari terbit di negara saya. Tak terbayangkan jika saya punya suami nanti, apakah dia akan mengizinkan saya berada dalam ’kehidupan nyata’ kalau tidak dibilang ’kegilaan yang konsisten’. Haha... Belum lagi ditambah dengan aktivitas sebagai ibu yang tidak tergantikan. Wwoow.. .. i don’t know how she does it !! And i don’t know how you all do it, moms !!

Saya suka membaca novel ini karena seperti membaca bagian hidup seseorang yang begitu dekat. Seperti membaca buku harian seseorang dan merasa bersalah karena meneruskannya hingga lembar terakhir. Alurnya yang super cepat, naik turun, konflik-konfliknya yang menyedot tabungan emosi saya untuk tertawa, miris, jijik dan ber-mellow ria. Semuanya menakjubkan. Bahkan hingga epilognya yang menutup kisah ini dengan cukup bijak – yah setidaknya begitulah menurut saya. Ia memaparkan secara luwes apa yang mendorong seorang ibu bekerja, mulai dari materi yang lebih untuk memberikan seluruh fasilitas hidup terbaik bagi anak dan keluarga hingga materi lagi dan materi lagi. Hahaha…

Saya jadi teringat dulu saat masa sekolah, setiap pulang latihan Taekwondo, saya selalu melewati Yamaha Music tempat les piano. Saya hanya bisa memandangnya dari balik kaca. Seluruh piano dan alat musik lainnya yang begitu tampak mewah. Dan berpikir, mungkin suatu hari nanti, anak cucu saya harus dengan mudah bisa mengikuti seluruh les yang dia mau. Apapun itu. Hhmm.. sepertinya saya begitu mudahnya memahami Kate Reddy.

Selain masalah double occupation – as a mother and full time employee – dan perkembangan terbaru pasar saham dunia serta tak lupa Alan Greenspans-nya, Allison Pearson pun menyinggung diskriminasi gender di perusahaan, peran laki-laki – sebagai suami dan ayah -- dalam sebuah keluarga, hubungan mertua-menantu, sexual harrasment yang ‘terkesan’ wajar dan akhir yang manis dari persengkokolan para wanita – haha.. saya suka sekali bagian ini :p

Jeda lunch break, saya sempatkan untuk mencari informasi mengenai Allison Pearson di Google. Ternyata buku ini mendapatkan award pada tahun 2003 untuk beberapa kategori – saya tidak ingat detailnya, mungkin Critic Book of the Year-nya UK etc. Awalnya adalah tulisan lepas di Daily Telegraph-nya Inggris dan setelah itu dibukukan. Saya tidak meneruskan pencarian informasi mengenai background Mrs Pearson. Tapi saya meyakini jika ia pernah menjadi seorang manager investasi karena menggambarkan alur yang begitu cerdas dan tepat, dan jika ternyata tidak, berarti ia penulis yang saya cintai kedua setelah Mba Imun J.

Untuk buku ini, meski Amazon.com memberinya empat jempol dari lima yang ada, maka saya memberinya satu hati saya dan teriakan : Heyy guys, buku ini sangat layak dibaca, direnungi dan ditertawakan – itu harus, karena selera humor seringnya memudahkan seesorang bertahan di sebuah dunia yang berputar. Terus berputar. Dan berputar.

Maka sore ini, saat saya menggadaikan integritas saya dan berjanji inilah hal terakhir yang tidak saya tepati, saya menelepon inibuku.com dan menambahkan satu buku dalam keranjang belanja saya sambil mengitung sisa hari hingga gajian bulan ini.

”.... ya, mba, ……judul bahasa indonesianya, Sibuk Berat.. benar… Allison Pearson, ……Oke, .. lantai 32 ya, langsung hubungi nomer saya.... cash on delivery, baiklah.. terima kasih ..”

Hhh, ada yang membuncah seketika, haru dan penghargaan…

Salam hormat saya untuk seluruh ibu di dunia. Betapa kalian begitu sangat hebatnya !!!

Ulasan Novel Negara Kelima-nya ES Ito

“Ibu, Aku Ingin Mengubah Bintang.....“

Hhhh... indah sekali. Sesederhana itu. Dan saya jatuh cinta. Seketika.

Haha.. saya tidak sedang menulis tentang seseorang. Tapi tentang sesuatu. Sebuah buku. Mmh.. sebuah novel tepatnya. Seorang teman merekomendasikannya awal Desember kemarin. Dan saya menemukannya beberapa hari yang lalu. Tadinya saya sempat hopeless. Wong, saya browse di toko buku online langganan saya aja – yang super update itu -- gak ketemu. Eh, ternyata saya menemukannya secara tidak sengaja pas lunch break jum’at siang di Gramedia, Plangi. Yee, itu kan toko buku besar, kenapa gak dari kemarin aja ke sana, haha.. iya, soalnya ga sempat. Lagipula saya pikir, sepertinya tidak mugkin ada di Gramedia kalau di toko buku onlinenya aja nihil. Yaah, ternyata saya salah. Dan akhirnya saya mencatat rekor belanja buku tercepat. Pffiuhh...

Saya menemukannya di deretan buku-buku baru. Agak tersembunyi. Yah, pertama memang karena covernya gak eye catching – hitam suram dengan guratan-guratan biru kelam. Terus judulnya juga gak komersil : Negara Kelima. Terakhir, nama pengarangnya juga ga menjual : ES Ito. Hehe.. dasar desi, komentator sejati. Tapi toh saya tidak sempat berpikir dua kali, tidak sempat intip-intip isi novelnya (iyalah, kan diplastikin), tidak sempat pilih-pilih cetakan yang lebih bagus, segera novel itu saya bawa lari ke Kassa. Pertama karena hp saya berdering terus dengan suara galak plus ancaman teman kantor saya diujung sana kalau gak keluar Gramedia sekarang juga ditinggal pulang ke kantor – hiyyy galak deh, maklum, hampir lewat jam satu. Kedua, dan yang paling penting, karena saya mengenal pengarangnya.

’ES Ito, lahir pada tahun seribu sembilan ratus delapan puluh satu. Ibunya seorang petani, bapaknya seorang pedagang.’

Yupp, hanya itu saja keterangan tentang penulis. Letaknya di halaman terakhir. Dia ingin menyembunyikan identitasnya. Dan saya akan menghargainya dengan tidak menyebutkan secara eksplisit namanya. Tapi dia senior saya di kampus. Salah seorang aktivis kampus. Dulu, saya biasa membaca guratan-guratan pikirannya di mading BOE (Badan Otonom Economica FEUI) dengan pegal. Lho, kok pegal? hehe.. kan bacanya sambil berdiri. Dan tulisannya bisa berlembar-lembar panjangnya. Sarat akan semangat, gelisah dan harapan akan sebuah perubahan. Penuh realita.

Hhm.. tadinya saya berpikir jangan-jangan saya akan menemukan realita juga di novel ini. Bukan jenis tulisan yang akan saya pilih saat week end. Saya lebih menyukai negeri-negeri dongeng pada sebuah novel. Tentang mimpi dan cita-cita. Yah, tipikal LOTR, Harry Potter atau novel-novel indah yang sarat akan rasa-nya FLP. Hahha.. karena alasan sederhana, kita terbiasa melihat realita di sekitar kita. Di kereta api. Di tivi. Di kampus. Di kantor. Di jalanan. Dan bisa jadi pikiran kita akan terlampau penat. Sedang kita harus belajar untuk bermimpi. Tentang sesuatu yang lebih baik. Sesuatu yang lebih indah. Yah, begitulah...

Tapi toh, saya justru membacanya saat libur kompensasi tahun baru. Dalam semalam. Kalimat pembukanya – seperti yang saya tulis diatas – sangat indah. Mungkin karena mengandung unsur kata ’Ibu’. Sedang menurut saya, ’Ibu’ adalah salah satu kata terindah yang tercipta. Hhh...

By the way, novel ini unik. Genre yang berbeda dari yang biasa saya baca. Berarti bukan tipe melow dong? Hehe.. yupp, bukan tipe yang menyayat-nyayat perasaan saya. Saya tidak merasa terlibat secara emosional dengan alur dan para pelakunya. Saya juga tidak merasa terjun dan menyelami perasaan tiap tokohnya. Saya merasa seperti orang lain diluar lingkaran besarnya. Menatapi setiap putaran lewat kaca jendelanya. Alurnya mengalir. Lancar. Teratur. Dan bisa ditebak endingnya – itu menurut saya. Tapi tidak demikian halnya dengan komentar Bapak Maman S. Mahayana yang dosen FIB UI itu. Beliau memuji novel ini yang katanya menjanjikan ketegangan yang tiada habis, mengalir deras, berkelok-kelok, penuh kejutan, spekulatif, penuh intrik, dan narasinya yang tak terduga.

Meski demikian, ide ceritanya kreatif. Sangat bahkan. Dan saya menyukai setiap patahan konsep ceritanya. Meski dimulai dengan kasus pembunuhan. Tapi saya melihat sesuatu yang berbeda. Tentunya karena settingnya berbeda dengan novel yang biasa saya baca. Rasanya lucu membaca Polda Metro Jaya versus Reserse Kriminal. Karena saya biasa mendapati Kepolisian New York, misalnya, atau setting New Orleans di novel-novelnya Sidney Sheldon, Agatha Christie, atau novel-novel sejenis. Hehe.. gaya bener desi. Tapi jujur, novel ini membumi sekali. Seperti yang saya duga sebelumnya. Penuh realita. Tapi juga penuh mimpi dan cita-cita. Nah lho, bingung kan? Tapi ES Ito, menurut saya, cukup cerdas mengawinkan antara keduanya, mimpi dan realitas.

Baiklah, meski saya malas menceritakan kisahnya, ada baiknya juga membuat tergiur dengan beberapa potong episode yang mungkin akan menambah rasa penasaran lebih lanjut. Pucuk ceritanya tentang sebuah benda. Bernama Serat Ilmu. Selintas mirip idenya cincin di Lord of The Ring atau Lukisan Monalisanya Da Vinci Code ya. Tapi cuma selintas kok, selebihnya bertolak belakang. Jauh lebih luas ruang lingkupnya. Dan rentang waktunya dari masa Gunung Krakatau meletus, melewati Sultan Iskandar Agung, hingga Sjafruddin Prawiranegara dan generasi terancam hilang anak muda sekarang. Juga tentang zaman Mpu Gandring hingga Museum Nasional yang minim perawatan itu. Lha, des, jadi ini novel sejarah ? Mmh.. bolehlah, karena setelah membacanya saya jadi tahu Tambo-nya suku Minang. Tahu fiosofis matrilineal-nya Padang. Tahu sejarahnya Minang. Lha, kok Padang semua ? Hehe.. iyya, teman saya bilang novel ini narsis Padang sekali. Yah, tapi bolehlah, wong suka-suka novelisnya lah. Haha.. Mmh, tapi novel ini juga diselingi episode roman yang saya pikir kurang konflik. Atau jikalau ada, kurang dipertajam konfliknya. Sehingga ruang hati saya yang bernama ruang ’ konflik’ minus drastis.

Novel ini juga bicara banyak tentang dunia remaja elite yang penuh skandal pergaulan bebas. Dan mmh.. juga bicara tentang dunia bebas di luar sana. Tentang sifat-sifat mendasar manusia, tentang egoisme, tentang ketamakan, tentang idealisme, tentang rasa bangga akan sebuah identitas, tentang semangat, tentang perjuangan, tentang jalan panjang, dan juga tentang banyak kebaikan. Sebuah novel yang humanis. Meski di beberapa sisi ada hal-hal yang ditolak logika saya, tapi ini murni kecenderungan seseorang terhadap sesuatu. Namun secara keseluruhan, novel ini layak dibaca. Dan saya memberikan satu bintang untuknya. Hanya satu. Karena saya hanya punya satu bintang untuk merasakan – hanya merasakan lho, saya nda pantas lah menilai, hanya merasakan tok, sebagai penikmat novel sejati -- novel genre ini.

Namun, terlepas dari betapa cintanya saya pada ide ceritanya, saya yakin ES Ito memiliki berjuta gelisah dan harapan akan sebuah perubahan yang sanggup ia tuangkan dalam novel-novel berikutnya. Yang mungkin di novel selanjutnya, ia akan mengenalkan saya pada pelakunya dan mendorong saya terjun untuk setiap alurnya. Tidak membiarkan saya berdiri dibalik kaca menatapi semuanya bergulir seperti dalam novel ini.

Oh ya, ada satu hal yang membuat saya terharu biru, yaitu saat membaca satu bait bab akhir yang redaksionalnya seingat saya berbunyi : “Mahasiswa adalah kegelisahan. Dan derapnya adalah pergerakan..“ juga salah satu kalimat pelaku utama yang kembali seingat saya berbunyi : “Anak muda cerdas mana di Indonesia ini yang tidak menginginkan revolusi. Bangsa ini sudah rusak.“ Aaahh...

Seketika ada yang berderak jauh di lubuk hati saya. Sebuah perubahan. Dan sebuah proses. Dan diantara keduanya ada rentang berliku yang berisi pergulatan. Dan itu berarti perjuangan. Yang semuanya adalah jalan panjang. Maka, hanya kesabaranlah yang sanggup melaluinya. Mengisinya dengan begitu banyak kebaikan. Tanpa merusak dan menghancurkan. Kesabaran menjalani setiap proses. Kesabaran menitinya dengan doa dan usaha. Bahwa di setiapnya akan tumbuh begitu banyak kebaikan. Hingga Allah mengantar kita pada sebuah titik, yang terangnya telah menyilaukan. Entah kapan. Tapi yakinlah ada. Untuk diri kita. Untuk keluarga kita. Untuk masyarakat kita. Untuk bangsa kita. Untuk Islam dan tegaknya. Untuk semuanya yang berbalut cahaya. Aamiin.

Terakhir, jika teknis penulisannya dan senjata-senjata ES Ito untuk terjun ke medan perang publik – dimana mba-mba dan mas-mas jagonya di milis FLP ini – telah terasah dan jam terbangnya sudah tinggi, saya yakin saya akan lebih bahagia setelah membacanya. Saya ingat, saat itu pukul 11:58 tengah malam saat saya menutup novel ini dan tersenyum sambil menutup mata. Tertidur. Dan setelahnya saya bermimpi tentang semburat ungu dan hijau yang bertebaran acak. Indah sekali.

Baiklah, Bapak ES Ito yang terhormat, tetap semangat berkarya, saya tunggu karya berikutnya dengan berjuta pemikiran, idealisme, semangat, gelisah, harap dan cita untuk sebuah perubahan. Ke arah yang lebih baik. Pastinya.

Desi Novita Sari

Tuesday, December 27, 2005

Sepasang Burung

Di suatu tempat,

Entah di mana, di dunia

Seseorang menunggumu, berdoa

Seperti doa yang biasa engkau ucapkan sehabis sholat

Pada suatu saat, entah apabila, di dunia

Seseorang merindukanmu, berjaga-jaga

Seperti malam-malammu yang berlalu sangat lambat

Seseorang menunggu, merindu, berjaga dan berdoa

Di suatu tempat, pada setiap..

Seperti engkau, selalu.....

(Ajip Rosidi, ”Ular dan Kabut”, 1972)

Pada akhirnya seseorang memang akan menemukan padanan sayapnya. Lalu terbang dengan sepasang. Membumbung. Ke langit.

Untuk seorang sahabat,

Untuk seluruh diskusi-diskusi kita,

Barakallahu lakum....

Aaah... Woman....

Bunderan HI, saat mentari begitu ramah menjelang hujan…

Taxi kami tersendat. Ada demonstrasi di ujung sana. Tapi sepertinya jenis yang beradab. Perempuan semua. Jumlahnya tidak lebih dari lima puluh. Hanya satu spanduk. Dan begitu banyak selebaran-selebaran berwarna biru. Berjudul Campaign United Nations for the Elimination of Violence against Women. Saya membacanya tekun. Baris demi baris. Mereka mengkalim hak tentang maternitas, perlindungan perempuan pekerja dan ratifikasi konvensi ILO No. 183. Hhhm.. saya tersenyum. Sebaris. Sejak dulu perempuan berjuang dan mungkin akan terus berjuang hingga akhir.

”Is it in english, Des? I want to read it” suara Mr Punjabi dari kursi depan.

Mr Punjabi adalah CFO kami. Ia orang India. Sangat kebapakan dan tampak bijak meski usianya baru awal 40. Dan percaya atau tidak, di kantor kami belum pernah ada CFO asli Indonesia, semuanya import. Dan ini menjadi bahan tertawaan rekan saya di negara lain. Satu-satunya negara di ASEAN yang selalu mengimpor CFO. Indonesia. Tolong tepuk tangannya.

Di samping saya mba Mita. Dan dibelakang saya ada dua taksi lainnya. Kami diundang Free Lunch oleh Mr Punjabi. Sebagai penghargaan atas kerja keras kami quarter end yang lalu, katanya. Tidak semua yang diundang, selected people only, and I felt so guilty because it will make others envy. Saya ingin mendebatnya tentang ini, semua orang bekerja, Mr Punjabi. Di kantor kami mana ada pekerjaan yang dimanage oleh dua orang, satu job description, satu orang yang handle. Dan untuk alasan itu dan alasan kesehatan jiwa saat bekerja, seharusnya semuanya diundang. Tapi seperti biasa, saya kalem saat menyadari mungkin maksud saya tidak akan jelas tersampaikan mengingat kemampuan bahasa saya yang tidak layak sekali. Depresi berat kalau mengingat ketidakmampuan saya ini, berkali-kali hendak reserve conversation class di The British Institute, tapi lalu di cancel lagi, gara-gara 1,5 juta per dua bulan yang satu kali seminggu, benar-benar perampokan, saudara-saudara !!

Minggu kemarinnya saya iri berat dengan mba Prita, anaknya IwanPonco itu lho, dia handle Treasury Country, mba yang cantik luar biasa ini ternyata luar biasa fasih saat presentasi tentang Investment for Your Life. Bahasa inggrisnya sempurna. Dan saya manyun sambil membesarkan hati, wajaar dong, kan lulusan Aussie. Hhhh, desi, selalu cari pembenaran. Besoknya saya berburu kaset-kaset, niatnya terlalu tinggi, british style english, tapi sampai sekarang masih sering tersandung. Pasti butuh lebih banyak niat lagi !!

Saya mengangsurkan kertas biru itu. Menjelaskan dengan patah-patah kondisi perempuan pekerja. Sebatas pengetahuan saya yang minim dan sebatas bahasa inggris saya yang luar biasa payah. Padahal saya ingin sekali menjelaskan perbedaan filosofis perempuan di berbagai negara. Latar belakang sejarah mereka. Mendebat pendapatnya tentang wanita India. Dan begitu banyak ide yang berloncatan. Tapi saya hanya merespon ucapan Mr Punjabi dengan ”yes, Mr Punjabi, you right. I don’t think so, Mr Punjabi. This is the reality, Mr Punjabi.” Duuh, sedihnya, mengapa hal sesimple bahasa begitu jadi kendala yah.

Taksi kami pun memutar, ambil jalur Kebon Sirih. Penang Bistro restaurant. Dari jauh saya melihat kumpulan perempuan yang berseragam kaus putih itu masih sibuk membagi-bagikan selebaran biru. Perusahaan kapitalis yang orientasinya hanya laba tentu akan berpikir banyak untuk merekrut perempuan. Cuti hamil tiga bulan tapi makan gaji buta full, cuti period tiap bulan, cuti karena anak sakit, cuti karena anak pertama masuk sekolah, cuti karena suami sakit, cuti karena ada pekerja bangunan di rumah dan lain-lain. Dan untuk semuanya itu mereka masih harus bekerja mencari nafkah yang seringnya diselingi kekerasan dan sindiran seksualitas. Aahh, woman.....

Penang Bistro Restaurant, saat berjuta-juta laki-laki berdoa dalam sujud panjangnya...

Mr Punjabi, menurut saya sangat nasionalis. Dia sangat India. Sudut pandangnya. Tindakannya. Filosofisnya. Saat review tahunan bulan lalu, saya – setelah stress berat karena merasa kurang puas menjawab pertanyaanya dengan baik – mengorek tentang rencana masa depannya, tanggapannya terhadap keluarga, dan pikiran-pikirannya. Langkah cerdas, des. Karena saya hanya mendengarkan dan bergumam sesekali.

Selera makan pun begitu, dia vegetarian sejati. Kami bertanya tentang motifnya menjadi vegetarian. Untuk tradisikah? Kita semua tahu India sangat terkenal akan tradisinya ini. Untuk kesehatankah ? Tapi dia menjawab, untuk semua alasan itu, untuk tradisi, untuk kesehatan dan terutama untuk agama. Saya selalu bingung jika ditanya kapan saya menjadi vegetarian, karena saya tak pernah memulainya, saya terlahir sebagai vegetarian. Orangtua saya. Saudara-saudara saya. Istri saya. Ungkapnya panjang lebar. Waah, desi, listen, he’s doing it for religion !!

Dan saya tergelak sendiri. Pasti dia melihat kami makan seperti saat seorang muslim melihat orang lain makan babi didepannya. Hidangan yang ada daging dan ikan semua. Hahaha..

Kami makan melingkar. Mejanya bundar. Titik-titik hujan buatan mengalir di dinding sebelah. Pahatannya sempurna. Seperti tidak sedang berada di Jakarta yang panas. Pohon-pohon hijau cantik menghiasi sisi sebelah. Dan langit-langitnya tinggi dan indah. Pelayanan kelas satu. Mungkin karena semua biaya tambahan ini, harga makanannya selangit.

Saya selalu risih saat makan dengan sendok dan garpu. Baik, saya tahu sendok di kanan dan garpu di kiri. Tapi saya harus membalik posisi saat makan daging atau sesuatu yang mesti dipotong. Masa makan pakai tangan kiri ? Ooh, please dong, dikira nanti kita gak cinta Rasulullah lagi.. Dan karena ribet juga bolak-balik posisi, sebisa mungkin saya optimalkan sendok. Hehe.. Biarlah Mr Punjabi senyum-senyum. Untungnya dia tidak bertanya. Jika iya, saya akan mencontek jawabannya, ”mostly for religion” J

Kami hampir memulai dessert, saat mba Emi bertanya, ”how come Mr Punjabi, your staff is 90% woman ?” Dan itu memancing reaksi dialog lebih lanjut. Mr Punjabi membawahi sekitar tujuh bidang yang dihandle tujuh manager dalam alur besar Finance and Administration . Salah satunya adalah mba Nina, manager saya. Dan heyy, saya baru sadar, manager laki-laki hanya tiga orang, dan itupun staffnya 80% perempuan. Kebanyakan ibu-ibu yang sudah bekerja disini belasan tahun. Paling wajah baru dan kebetulan laki-laki ya si Anton di procurement sana yang jago main golf, dan dia bangga sekali dengan birdienya minggu lalu. Hhhm, apa karena pekerjaannya adalah jenis perempuan sekali ? Detail, akurat, teliti. Mulai procurement sampai audit internal. Dan yang duduk dimeja ini pun selain Mr Punjabi, adalah perempuan !!

Saya suka sekali tema tentang perempuan, sedikit banyak karena saya perempuan. Dan karena akhir-akhir ini di kantor issue ini mulai menghangat. Mba Ifa, manager sebelah hendak resign. Anaknya cuma satu dan kebetulan autis. Mungkin alasan klise tentang double income-lah yang lambat membuatnya memfinalisasi keputusannya ini. Suaminya karyawan biasa. Sebenarnya bintang mba Ifa cerah sekali, dia supel, cerdas, muda, pekerja tangguh dan tahan banting. Kerjanya hebat dan dipuji banyak orang. Tapi anak satu-satunya autis. Autis berarti butuh perhatian lebih. Lalu, siapa yang akan mengalah ? hhm.. tidak tepat jika saya sebut mengalah, tapi lebih kembali pada prioritas mendasar. Tapi saya tidak ingin berargumen lebih lanjut lagi, saya tidak tahu ujung masa depan saya juga akan seperti apa. Dan rasanya juga tidak terlalu adil jika menuntut masnya mba Ifa berpenghasilan seperti mba Ifa. Kemampuan setiap orang juga berbeda.

Saya jadi teringat review saya dengan Mr Punjabi. Mr Punjabi bertanya tentang rencana saya. Saya katakan lepas dua tahun kerja saya akan ambil cuti sekolah. Kemana ? inginnya Inggris atau US, saya jawab. Standar jawaban untuk orang-orang yang bermimpi terlalu tinggi. Lalu kami berbincang banyak tentang dua negara tersebut. Mengapa harus dua tahun kerja ? Saya berkata itu waktu paling minimal Mr Punjabi, saat saya mengizinkan diri saya mengikuti test TOEFL dan mengapply scholarship. Saya mengejar beasiswa dan itu tentu tidak mudah. Mungkin butuh waktu dua tahun, tiga atau lebih saat saya akhirnya mendapat beasiswa. Saya ingin bekerja, Mr Punjabi. Saya ingin melihat ilmu-ilmu yang dulu saya pelajari bergerak dinamis dalam dunia yang lebih nyata. Dan saya menikmatinya.

Lalu Mr Punjabi bertanya tentang rencana personal saya. Kapan saya akan menikah, keluarga jenis apa yang akan saya bina, apakah saya akan tetap menikmati pekerjaan saya. Saya berkata, tentu setelah menikah, sudut pandang saya akan berbeda. Dunia saya tidak akan berputar sendiri. Dunia saya akan berputar bersama dunia yang lain, mungkin berputar mengelilingi dunia lainnya yang lebih besar. Lalu, saya berkata padanya, dunia perempuan berbeda dengan dunia laki-laki. Dalam agama yang saya anut, surga termudah seorang perempuan ada dalam ridho suaminya. Jadi tentu nantinya, akan ada perubahan dalam hidup dan pencapaian-pencapaian saya setelah menikah.

Dan setelahnya saya banyak menjawab pertanyaanya dengan kata-kata yang dimulai dengan, ’itu tergantung Mr Punjabi, tergantung kompromi saya dengan suami kelak’, ’banyak pertimbangan Mr Punjabi, pertimbangan saya dan suami saya’ dan sebagainya. Dan dia pun berkata ’’mengapa begitu banyak variabel des?’ Dari sorot matanya saya menangkap sepertinya dia melihat saya tidak punya kendali apapun terhadap hidup saya sendiri. Ya bagaimana tidak, dia menanyakan sesuatu di masa depan yang saya tidak punya kendali sedikit pun padanya. Saya kan tidak tahu apakah saya akan menikahi seorang birokrat, politisi, pengusaha, eksekutif kantor, karyawan biasa, akademisi, budayawan, olahragawan atau seorang dokter maupun insinyur. Jelas saja saya tidak bisa menjawab pertanyaan teknis seperti itu, jika konsep nilai tentu akan saya ladeni. Hhh...

Tapi akhirnya, setelah saya berusaha keras menjawab pertanyaan-pertanyaanya dengan ’gaya cerdik’ tapi nampaknya dia masih berkerut entah tidak setuju dengan pendapat saya atau berusaha menangkap kata-kata saya yang tidak beraturan kala emosi saya pecah, saya jadi berpikir panjang. Mengapa begitu banyak variabel ya dalam hidup seorang perempuan ? dan kita harus menyiapkan begitu banyak planning supaya jika terjadi nanti, kita hanya tinggal memilih satu diantara begitu banyak planning. Mba Rita, teman saya di kereta yang kebetulan marketing di kantor sebelah yang sedang naik daun, baru saja resign kerja dan pindah ke Banjarmasin mengikuti suaminya yang ditempatkan disana. Mba Dian senior saya di kantor cuti sekolah ke Belanda karena mendapat STUNED tahun lalu. Dia berangkat sendiri. Suaminya punya pekerjaan bagus dan tetap di Indonesia. Baru tiga bulan di sana, dia baru tahu kalau dirinya hamil dan akhirnya dia pulang ke Indonesia, melahirkan. Sepertinya STUNEDnya hangus.

Tapi setelah saya pikir lagi, memang perempuan itu diciptakan Allah sangat fleksibel. Hidupnya penuh variabel-varibel. Teman saya bilang, it’s oke des, setelah menikah kamu hanya tinggal membelokkan rencanamu, tidak menggantinya penuh. Misalnya, jika kamu ingin sekolah lagi di luar negeri, dan suamimu tidak mengizinkan / tidak bisa / tidak mau menemanimu, ya gantilah dengan sekolah dalam negeri. Uuuhh.. dan saya merenggut, berbeda sekali sekolah di luar dan dalam negeri. Dan saya punya listnya penuh satu buku. Lha, terus, masa kamu mau menolak seorang calon potensial gara-gara merasa dia tidak mendukung impianmu ? Saya tertawa, enggak, dia pasti langsung mundur melihat kok ada perempuan yang penuh obsesi terlalu tinggi dan gak bisa diatur. Haha..

Atau idenya teman chat saya yang sedang kuliah di Jerman. Dia cerita baru berkenalan dengan ibu-ibu usia pertengahan yang baru memulai kelas masternya. Ibu ini sangat bersemangat meski ia tampak jauh dari kesan muda. Ketika ditanya, kenapa baru memulai sekarang, ibu ini menjawab, karena saat muda dulu ia memiliki prioritas lain, yaitu anak-anaknya. Sekarang saat anak-anaknya dewasa, dia baru membuka impiannya lagi. Dan hebatnya, she just made it !!

Dan saya pun akhirnya tersenyum sambil menjawab, “that’s woman, Mr Punjabi, so many variabel....’” Saya tidak ingin mendebatnya lagi, karena dia dalam posisi atasan yang mencoba mempertahankan karyawannya sedang saya melihat dari sudut kehidupan yang lain. Sedang saya tahu Mr Punjabi melarang istrinya bekerja. Anaknya cuma satu, 14 tahun, sekolah di British International School hampir seharian. Dan saya tergerak untuk bertanya, apa yang Mrs. Punjabi kerjakan hampir seharian saat anak dan suaminya tidak dirumah sedang pembantunya ada dua ? Yah untunglah saya berhasil menahan diri untuk tidak bertanya, tapi mungkin jawaban yang paling mungkin ya memasak. Mereka kan sulit menemukan masakan vegetarian yang khas India. Lagipula untuk alasan apa istrinya bekerja ? Sudah rahasia umum gaji seorang CFO jauh lebih besar dari gaji CEO dikantor saya. Maklum, tenaga impor seh.

Lalu Mr Punjabi bertanya bidang yang ingin saya ambil kelak. Saya jawab, mungkin finance, saya suka bidang itu. Lalu dia pun mengajukan satu pertanyaan yang bisa meruntuhkan seluruh planning saya. Bagaimana jika saya beri kamu assignment yang benar-benar finance, mungkin di tempatnya Vincent, atau kamu bisa apply untuk assignment finance di KL, apakah kamu masih mau sekolah ? Hhhmm, interesting offering, tapi rencana besar saya jauh dari sekedar sekolah atau tidak. Sekolah hanya satu bagian kecil. Tapi tentunya saya tidak bisa katakan itu padanya. Pola pikir kami pun berbeda. Mr Punjabi besar secara profesional, dia punya gelar CFA, dan sederet gelar profesional lainnya. Dia hanya bachelor, bukan master apalagi doctor. Jadi saya hanya menjawab garis besar saja. Lagi-lagi soal variabel. Dan dia hanya mengangguk berkali-kali. Lebih karena semangat saya ketimbang isi dari jawaban saya.

Dari balik kaca yang berukir indah khas melayu -- maklum Penang Bistro resto Malay, saya tahu kalau Jakarta mulai hujan. Setelah hujan, biasanya Jakarta lebih bersih. Lebih hening. Lebih tenang.

Jadi saat akhirnya Mr Punjabi menjawab ’Yeah, that’s challenge for me’ menanggapi pertanyaan mba Emi, saya berpikir lagi tentang perempuan-perempuan masa kini. Betapa tantangannya begitu hebat. Di semua lini bisa kita temui perempuan tangguh. Bahkan di kantor saya yang notabene industri laki-laki, CEO-nya seorang perempuan. Dia seorang perempuan bervisi yang sejak tahun pertama di kantor menetapkan cita-citanya untuk menjadi seorang CEO perempuan pertama di kantor saya. Dan akhirnya memang tercapai.

Setelah menyelesaikan dessert dan beranjak pulang, saya pun bertanya, ’lalu, apa visimu des ?’

Hujan turun. Titik-titiknya indah. Menghujam. Melerai semua kelabu. Menghadirkan tenang. Semoga syukur yang berdengung benar-benar membumi. Hingga ke sudut-sudut penuh luka sekalipun.

Sesampainya dikantor jam sudah menunjukkan setengah dua. Jumat memang hari pendek. Saya membuka email saya dan menemukan satu undangan menghadiri Women’s Leadership Conference di Ritz Carlton minggu depan. Pengisinya mulai dari Mien Uno, ibu Shinta pendirinya Bubu.com, ibu Gayatri direkturnya BRI sampai direkturnya HR IBM ASEAN yang lagi-lagi perempuan. Serta beberapa petinggi kantor saya yang kebetulan juga perempuan. Teringat pagi tadi saat membaca koran di kereta, saya membaca sosok kanselir Jerman baru yang seorang perempuan, fisikawan yang banting setir jadi politisi. Suami keduanya seorang ilmuwan dengan dua gelar doctor yang dua-duanya summa cum laude, tapi tidak mendampingi istrinya saat dilantik sebagai kanselir baru. Perempuan disemua lini. Dan semuanya berputar. Aah, woman..

Minggu pagi, Miftahul Jannah, saat ketenangan berhimpun dalam satu asa

Kelas perdana tahsin dan tilawah. Ustadz Muzzammil dari LTQ Al-hikmah yang mengisi. Dan dibutuhkan niat dan sesal hampir enam bulan penuh untuk menghadirinya. Dan saya mengucapkan selamat pada diri saya sendiri. Selamat, desi !! Haha.. saya mendaftar dan membayar penuh untuk semester yang lalu, tapi hebatnya – atau menyedihkannya – saya tidak pernah menghadiri satu pun kelasnya. Alasan klise tentang sulit bangun pagi dan sudah stand by di Miftahul Jannah pukul 6 pagi teng di hari minggu. Pffiuhhh.. Maka dengan niat yang semoga Allah selalu menguatkannya juga rasa iri berat karena teman-teman saya sudah naik kelas tahfidz, saya akhirnya hadir disini.

Ada rasa yang membubung saat saya berada di lautan jilbab. Kain agung yang dihulurkan menutupi setiap jengkal tubuh. Aah, bukan kainnya yang agung, tapi komitmennya, niatnya.. dan saya bangga berada diantara mereka. Rasanya sesak dan terharu. Rindu sekali saya akan suasana seperti ini. Matahari baru saja menyapa, tapi mesjid ini sudah penuh. Wajah-wajah bersahaja penuh senyum. Yang melihatnya saja sudah meredam semua gejolak hati saya. Perbandingannya lima puluh persen lah. Antara ibu-ibu dengan yang single. Tapi mungkin saya salah prediksi. Karena ruangan ini pun penuh balita. Yang berlarian bebas mengelilingi luasnya mesjid. Saya jadi terpikir, ibu-ibu itu bangun jam berapa ya, membersihkan rumah, mempersiapkan sarapan untuk suami di rumah, memandikan dan menyuapi si kecil lalu berangkat ikut kelas bersama si kecil dan sudah berada disini tepat jam 6. Subhanallah, memang pejuang tangguh !!

Saya jadi teringat seorang teman. Dia sangat kontroversial dan untuk alasan kuat saya ingin dia berada disini saat ini. Dia berkata, ’kebanyakan wanita Indonesia berhenti berpikir saat dia menikah. Ia menyerahkan hidupnya pada suaminya. Dia berhenti bertumbuh. Baru mereka mulai berpikir lagi saat suaminya meninggal atau cerai, saat kendali hidupnya diserahkan lagi padanya’. Ggrhh....

Tapi heyy look, disini buktinya tidak kok. Saya melambai pada seseorang diujung sana. Senyumnya melebar dan balas melambai. Namanya Teh Neneng. Ia sarjana psikologi UGM. Usianya sepuluh tahun diatas saya. Tapi anaknya ada empat. Aktif-aktif semua. Dia ibu rumah tangga tanpa pembantu. Hebat kan. Suaminya kali yang berbagi peran secara adil dengannya. Hoho, nope !! Teh Neneng sih memang akhwat luar biasa. Suaminya bekerja di Libya atau negara Timur Tengah sana deh. Lulusan teknik minyak UGM juga. Pulangnya setiap tiga bulan. Mereka menikah saat sama-sama lulus kuliah. Teh Neneng sering cerita kondisi ikhwah di jamannya, sangat ketat, tidak selonggar sekarang. Saya cuma bisa nyengir, time is changed so much. Saat menikah Teh Neneng merelakan sekolah profesi psikologinya untuk mengikuti suaminya yang ditempatkan di Cilegon. Berpindah-pindah akhirnya. Mulai dari flat dua pintu – depan dan belakang --, sampai rumah super sederhana di ujung bukit dengan ular bebas berkeliaran. Hiiyy, bergidik saya mendengarnya, tapi dia memang tangguh.

Setelah keadaan ekonomi mulai membaik, suaminya ditempatkan di luar negeri, ya di Libya itu. Teh Neneng ikut juga. Tapi saat anak-anaknya balita, dia memutuskan kembali ke Indonesia, sendiri. Alasannya, Libya tidak baik untuk perkembangan psikologis dan agama anak-anaknya. Saya terharu jika sampai bagian ini. Teh Neneng cerita soal Libya yang begini dan begitu. Dan tidak ada surga seindah Indonesia untuk perkembangan Islam. Dan akhirnya beginilah. Suaminya pulang tiga bulan sekali. Tapi sepertinya saat anak-anaknya cukup bagus pondasi agamanya, dia akan ikut suaminya lagi. Dan itu berarti tahun depan. Dan saya tahu saya akan sedih sekali saat itu.

Tapi meski tidak pernah berprofesi profesional, saya tidak pernah berpikir sedikitpun Teh Neneng berhenti bertumbuh. Ia cerdas. Diskusi kita tentang politik jalan. Analisisnya tajam. Dia cermat mengamati koran dan telivisi. Diskusi tentang harakah dan pergerakan dinamis kalau dengan dia. Dia terupdate selalu. Diskusi tentang kiprah perempuan pun maju. Dia menenangkan sekali. Rasanya wajar dan biasa saja ya, semua orang juga, tapi jika melihat dia memiliki empat orang anak yang aktif-aktif yang beda usianya cuma setahun dua tahun tanpa pembantu serta suami yang terpisah jauh, saya beri dia dua jempol. Teh Neneng cerita bangun tiap pagi pukul tiga lalu mulai belajar. Saya tanya belajar apa ? Belajar tahsin katanya. Baca buku – koleksi perpustakaanya hebat. Dan menghapal quran. Hhh.. Subhanallah. Tak terbayang saya sepertinya. Dan saya tidak ragu keempat anaknya akan tumbuh hebat.

Siapa bilang, wanita Indonesia saat menikah lalu mulai berhenti berpikir ? Heyy, des, kan kebanyakan, contoh yang tadi mungkin pengecualian yah. Hhhmm..

Pikiran saya teralih. Saya menekuri diktat baru saya. Belajar tahsin itu sulit. Kenapa mesti bacaannya begini, landasannya apa, ternyata ada semua. Dan saya jadi termenung. Dulu empat tahun kuliah saya tidak terbujuk sedikit pun untuk tahsin. Kan sudah lancar bacaanya. Tapi lancar pun tidak cukup. Harus benar bacaanya. Itu ucapannya Ust Muzammil. Ustadz muda awal tiga puluh yang sudah hafidz sejak usia 15 tahun. Dia cerita sertifikasi syahadah di LTQ Al Hikmah kemarin, dari 25 kelas tahfidz, yang lulus sertifikasi hanya empat. Dan dari kelas tahsin, tidak ada satu pun yang lulus. Wuiihh...

Seorang anak kecil berlari-lari memutari saya. Dia tertawa riang. Ibunya tekun mendengarkan kuliah perdana. Dan entah mengapa saya merasa nyaman disini. Meski suasanya ribut. Meski saya berusaha keras untuk menyimak kuliah Ustdz di depan. Meski anak kecil tadi mengajak saya bermain dengan tawanya. Ya, saya merasa nyaman. Semuanya terasa alami. Apa adanya. Banyak kebaikan disini. Mungkin kelak anak kecil ini akan tumbuh cintanya untuk mempelajari quran secara menyeluruh sedari dini karena terbiasa melihat ibunya akrab dengan quran, tidak seperti saya yang usia kepala dua baru memulai belajar secara serius.

Seperti cerita Ustdz Yusuf Qardhawi tentang seorang anak usia tiga tahun di Iran yang ajaibnya sudah hapal quran. Dan setelah ditelusuri mungkin ini karena keberkahan ibunya yang menjaga kesucian dirinya semasa mengandung. Subhanallah...

Allah memberi banyak kebaikan pada perempuan. Dan lebih banyak lagi kebaikan saat dia memutuskan menjadi seorang ibu. Mungkin tidak terlihat pada dirinya. Tapi nanti pada anak-anaknya. Cucu-cucunya. Dan keturunanya kelak.

Dan pikiran saya mengalun pada mba Ifa, mba Dian, Teh Neneng, mba Rita, dan wanita-wanita lainnya yang saya kenal. Mungkin selama ini saya selalu terpaku pada cangkir itu sendiri. Apakah itu porselen ? Jika ya, tolong berikan pada saya. Oh, bukan ya, plastik ?, oh tidak, buang jauh-jauh saja jika plastik. Dan saya mengabaikan isi didalam cangkir itu sendiri, saya tidak peduli itu teh, kopi, susu atau air mineral, asalkan porselen. Padahal justru saya harus memutuskan saya ingin teh, kopi atau susu terlebih dahulu. Bukan hanya berkisar pada porselen atau plastik saja.

Astagfirullahaladzhim...

Robb, sujud padaMu...

.........dan saat itu saya hanya ingin bersimpuh dalam sujud panjang yang tak putus, membilas semua debu hati saya, dan menenangkan setiap gelisah jiwa saya......

desi novita sari

27 nov 05

Wednesday, November 23, 2005

Masihkah ingat ?

Kita menyibak waktu dengan haru. Dengan pilu. Ya, dengan lega juga. Dengan balutan seluruh rasa. Sepenuh raga. Ingatkah ?

Meski dengan kesederhanaan dalam mengeja. Menyingkirkan sepenggal berat. Dan sepenggalnya lagi harus kita telan utuh. Setelah terkoyak tak bertubuh. Ingatkah ?

Kita sering pandangi langit yang bergerak. Menitipkan setiap tatap harap kita. Cita kita. Mimpi kita. Yang terlalu indah, sahutmu. Tapi, heyy, bukankah manusia pun Allah ciptakan indah ? Dan adalah wajar, jika yang lahir dari keindahan adalah keindahan ? potongku cepat. Kau tersenyum. Mengerti. Dan menggenggam tanganku. Erat. Bismillah, ujarmu tegar.

’Surga itu harus kita rebut sekuat tenaga’ ujarmu satu saat.

’Sekuat tenaga’ kau menekankan.

Dan aku mengangguk. Mencoba menghapus haru yang tiba-tiba menyesak kuat dan berwujud. Mengalir.

’Harus kita rebut dari siapa? Dari syetan yang memang tak pernah layak memilikinya? Atau dari diri yang begitu bodohnya amat mencintai neraka?’

Tatapmu hanya nanar. Menerawang beribu-ribu mega.

Masihkah ingat ?

Saat aku bergulung. Meratapi setiap kelabu yang kerap singgah. Dan yang kau tawari hanya lantunan kerinduan. Ayat demi ayat. Alquran. Lalu seketika menggilas segala kelamku. Tak berbekas.

’Kebahagiaan itu,’ katamu, ’terletak bagaimana kita mensyukuri nikmat yang Allah berikan’

Lalu kelu pun hadir. Tatapku bertanya.

’Jadi,’ sambungmu, ’ berhentilah mengeluh, dan jalanilah hidup, dalam syukur yang tak pernah putus’

Dan, berjuta kata yang kurangkai remuk seketika.

Karena, kau benar. Apa adanya. Karena, sekali lagi, kau benar, dan itu adalah sebenarnya.

Tidakkah kau ingat ?

Karena, aku ingat.

Lalu kita pun belajar meniti hari. Dalam syukur yang tak pernah putus. Kelak, kita pun akan mulai belajar meniti langit. ’Kenapa?’ tanyaku. ’Apakah karena seluruh hari sudah kita lalui? Bukankah itu berarti kita berada dalam dekapan kematian? ’

Selapis senyum. Dan kau menggeleng. Perlahan. ’Bukan. Tapi karena langkah kita, satu demi satu, harus kita tanya. Berkali-kali. Apakah arah yang kita tuju, menuju Allah, saja ?’

’Oo begitu, bagaimana, jika kita belajar mulai dari sekarang saja?’ ajakku.

Dan kau mengiyakan.

Aku masih mengingatnya, akan selalu begitu.

Hidup, seperti sebuah garis. Dan kau menggariskannya pada secarik kertas.

’Kita ada dimana?’ tanyamu. ’yang ujung saat kita lahir, satunya lagi saat kita menutup mata, dan kita ada dimana?’ tanyamu. Lagi.

Aku menekurinya. Tanpa kata.

’Kita tidak tahu bukan, karena kita tidak tahu garis hidup kita sepanjang apa, pendekkah, panjangkah, dan meskipun kita tahu, kita pun tidak tahu kita ada di titik keberapa dari awal atau masih tersisa berapa titik lagi hingga ke akhir, iya kan?’

Mata kita bersitatap. Dan lalu secara bersamaan kita mengulang kalimat favorit kita.

’Hidup hanya sekali. Dan yang sekali pun hanya sesaat. Maka dari itu, yang sesaat harus sangat berarti.’

Senyum kita mengembang. Meski dada kita sesak, saat punggung kita bertambah lebar beberapa inchi demi menanggung cita jiwa yang semakin memberat.

Sekarang, sudahkah kau ingat ?

Saat dengan kalut, aku mempertanyakanmu, ’menurutmu begitu?’

Dan kau hanya menghela napas. Satu satu. Dan kerut di wajahmu pun memudar.

‘hidup adalah sebuah pilihan,

menjalani hidup, berarti memilih dengan bijak

memilih dengan dasar ilmu,

memilih karena cinta, cinta tak berperi, pada Ilahi,

dengan, doa dan harap di penghujungnya,

agar hanya kebaikanlah yang berwujud

di setiap pilihan kita,

mengertikah?’

masih dengan kalut, aku pun berujar ’apakah aku memilih untuk ’mengerti’ ?

bukankah ’kemengertian’ adalah sebuah pilihan,

juga ?’

Lalu kau merenggang. Seperti berjuta jaraknya.

Dibutuhkan bertak-terhingga doa dalam sujud-sujud panjangmu,

saat dengan tulus kau membawaku serta dalam setiap rintihmu

untuk membuatku utuh, kembali.

Kini, kau pasti ingat.

Sepenggal malam terakhir saat untuk merenung, untuk berkeluh kesah, tiada berbatas. Dan kita titipkan segala galau. Untuk diganti dengan keyakinan dan keberanian. Karena hari sedemikian panjang. Sedang kita sedemikian lemahnya. Hanya setitik debu. Bagaimana meraih ridho-Nya ?

Saat bulan mulai terlelap, kau katakan sesuatu tentang bergegas. Bergerak. Bangun. Jangan terlalu lama terlena. Jangan tertidur terlalu panjang. Karena demi masa, kita rugi jika tidak bergerak maksimal. Sedang Allah menitipkan kita begitu banyak potensi. Kita zolim jika tidak mewujudkannya sebagai amal nyata. Karena demi masa, ujarmu sekali lagi, kita sungguh merugi.

Dan aku tersenyum. Semangatnya memeras kantukku hingga titik-titik. Dan aku menuliskannya. Bukankah kita sedang bergerak, Sis ? Belum maksimal, memang. Tapi kita akan selalu menaikkan kapasitas kita, bukan ? Sepanjang garis ini, menuju titik kesempurnaan itu, saat amal-amal kita diangkat. Yang kita tidak tahu kapan.

Karena demi masa Sis, kita memang sangat merugi jika tidak bergerak maksimal.

Baiklah, sekarang, selalu ingatlah. Seperti aku yang selalu mengingatnya.

For my dear Sisters, do love you coz Allah…

Counting the days to 23, please don’t be sad, and never worried, terhadap apapun, yang ada di depan sana, karena jika kita berlumur takwa, yang ada hanya kebaikan di sepanjang jalan ini, masalahnya, apakah kita sudah cukup bertakwa? Dan heyy, adakah kata ‘cukup’ dalam takwa ?

Bogor, 22 November 2005

Saat kering menelan setiap percik yang telah hadir,

Desi Novita Sari

Tuesday, November 01, 2005

Untuk mba Rie yang jauh disana………

Untuk mba Rie yang jauh disana………

Dua hari sebelum lebaran,

Akhir-akhir ini saya sering sekali teringat mba. Begitu saja. Hhh… Mungkin karena suhu di bogor yang semakin muram. Atau mungkin karena sekarang waktu sedemikian hebatnya bergulat dengan Ramadhan. Dan, hari-hari lalu pun diputar ulang. Gerak cepat.

Mba baik-baik saja kan disana ?

Negeri kita ini adalah surganya berislam, kata mba saat sore menjejak. Karena di setiap jengkalnya, ayat-ayat Allah dikumandangkan dengan bebasnya, tanpa takut, tanpa himpitan. Dan untuk alasan sesederhana itu, tak ada ruang untuk mengeluh. Hhh.... sekarang, masihkah begitu ?

Aaahh.. mba, tapi realita berbicara lain. Dan tiba-tiba berwujud perih. Mba ingat rumahku tidak ? Haha.. ya benar, masuk kategori Bogor coret. Karena sudah selayaknya tidak masuk peta. Masjid di daerahku jaraknya satu kilo dari rumah. Jalannya berliku-liku. Termasuk sempit. Banyak celah di jalanan, harus ekstra hati-hati saat melangkah, apalagi saat hujan. Penerangannya pun minim. Kampung banget, deh J Tapi hari-hari terakhir ini, shafnya tinggal dua. Di awal dulu, hampir enam bahkan tujuh. Sekarang hanya deretan badan-badan bungkuk, napas yang mudah letih dan langkah yang tertatih-tatih. Mereka yang setia hadir. Di mana ya bunga-bunga yang sedang tumbuh dan mekar ? Yang harumnya semerbak itu ? Lenyap, mba. Shaf ikhwannya pun setali dua, hanya rambut-rambut putih yang tertiup kipas angin di puncak, dan bunyi deraknya terkadang memilukan. Bahkan, anak-anak kecil yang selalu ribut di ujung shaf sana hilang dari peredaran. Ada yang lega masjid lebih lengang, shalat terasa khusyu. Ah, tapi, siapa yang menggantikan saat usia terlampau senja ? Jika sudah begini, sunyinya masjid seringnya menusuk. Bacaan imam masjid terasa mengiris. Pilu, mba.

Dan mba, tiba-tiba begitu banyak pemgemis di kota Bogor. Mba tahu Jembatan Merah? Yang panjangnya cuma lima belas meter itu. Sekarang penuuuh pengemis. Dulu, paling diujung kiri dan kanan. Sekarang jeda satu meter, ada yang setia menanti dengan baskom kecil. Ada bayi-bayi yang gemuk , penuh gizi ? nope, karena udara mba, lha wong perutnya membusung gitu, gemuk nda normal. Janda-janda dengan tatapan patah. Kakek nenek yang sudah tak utuh. Entah penglihatannya, lengannya atau mentalnya. Hhh.. kalau sudah begini, saya selalu berpikir, pemerintah kita itu zoliim banget, mba. Mereka kan tanggungannya ya. Benar kan mba ?

Hhh.. susah kalau sudah bicara tentang pemerintah, bukannya hopeless ya mba, tapi begitulah adanya. Kemarinnya lagi saat pembagian Kartu Kompensasi BBM, ada nenek-nenek yang semaput gara-gara terinjak-injak. Kehabisan napas. Pun, saat penjualan sembako murah, ada saja korbannya. Dan herannya, kenapa coba ya, sedikit sekali dana pembagian sembako. Dulu saat kampanye, rasanya tiap saat ada pembagian sembako. Sekarang kemana partai-partai hebat itu ? Apa perlu jadwal kampanye disamakan dengan saat kenaikan BBM ? Dan mulut saya terkatup erat, menggigit perlahan. Memaki hati. Tangan serasa lumpuh. Mulut gagu. Apa daya.

Belum lagi soal mudik. Budaya. Mengakar jauh ke tulang. Tapi mengapa ya silaturahim identik dengan idul fitri ? Sehingga konteksnya jadi kacau balau. Dengan kondisi seperti ini,--- bayangkan mba harga cabai naik dari enam ribu jadi empat puluh ribu, walahh.. -- , banyak orang yang tidak mudik. Ada yang pasrah, tapi ada pula yang maksa. Jarak Jakarta – Semarang dengan motor dan seorang bayi. Duhai, apa sih yang kau cari ? Beberapa hari lalu, jumlah kecelakaan di jalur mudik bertumbuh. Rasanya saking banyaknya penduduk kita, nyawa tidak lagi berbilang mba. Hilang satu, masih sekian ratus juta lagi, mungkin begitu kali ya pikirannya. Pikiran yang tidak bermutu. Padahal tiap jiwa terletak rasa. Dan dikelilingi sejuta rasa lainnya. Mereka individu, pribadi utuh, bukan hanya bilangan dalam arus statistik. Jika diletakkan proporsional, akan terlihat seimbang. Dan hal-hal ini tidak perlu dimaknai berlebihan. Tapi beginilah arusnya.

Polisi pun mulai ramai, mba. Dan jalanan di Bogr kian menyempit beberapa meter. Karena tiba-tiba kaki lima berhamburan. Ada yang jual kaos murah. Sepatu murah. Tas murah. Pokoknya semuanya serba murah. Dalam lapak-lapak bebas di pinggir jalan. Yupp, bagaimana pun beratnya hidup, ini tetap lebaran sweetheart !! Dan lebaran berarti baju baru untuk semuanya. Dan sepuluh hari terakhir ini, toko-toko dipenuhi orang untuk i’tikaf. Hebat kan mba. I’tikaf di mall. Memilih aneka helai baju. Untuk adik. Untuk kakak. Untuk ayah. Untuk semuanya. H-10 diskonnya masih 20%. Semakin mendekati lebaran, diskonnya dinaikkan perlahan. Jelas saja semua orang jadi giat beri’tikaf di mall. Wong pemicunya luar biasa manis. Diskon. Padat sekali, mba. Dari luar saja bisa terlihat. Orang dan barang bertumpuk.

Hhh.. kenapa ya mba, kalau lebaran itu identik dengan baju baru. Apa karena jiwa kita terlahir suci kembali ? Stupid sekali ya mba, kalau hal ini dikaitkan dengan jiwa yang belum tentu kembali bersih. Atau mungkin hanya ingin menyenangkan hati anak-anak kecil ? Supaya mereka lebih berantusias menyambut lebaran ? Hmm... Tapi yah begitulah mba, apapun sejarahnya, setiap anak kecil pun ditanyainya itu, sudah punya baju baru untuk lebaran ? berapa banyak ? Jelas saja anak-anak kecil terpola baju dan hal-hal lain yang baru dan kasat mata. Tunas-tunas bangsa itu, mba. Eh, kalau Yudha ga gitu kan ya? Banyak doa untuknya. Semoga jadi anak sholeh. Abi dan uminya kan hebat J.

Terlintas sesuatu nih mba. Kemarin pas cuti – sengaja ambil sebanyak mungkin pas ramadhan, biar gak tumbang tarawihnya ;p --, sempat ke Gramedia. Dan tiba-tiba tertarik buku-buku kesehatan. Alhasil belilah satu buku kesehatan. Wah, masyaAllah mba, being a woman is soooo hard. Di tiap jenjang usia perempuan ada resikonya. Mulai dari vertigo, osteoporosis, kista, hot flashes pra monopouse, kanker payudara hingga kanker rahim. Dan semuanya terkait dengan hormon estrogen. Itulah alasannya kenapa laki-laki minim probabilitasnya terkena osteoporosis. Karena laki-laki kan ga punya hormon estrogen !! Selesai baca, luar biasa iri dengan laki-laki. How could, gitu deh. Tapi tadi, sepulang dari kantor, melihat satu sosok, saya jadi berubah pikiran. Menjadi laki-laki pun luar biasa berat.

Bapak-bapak mba. Sepertinya perawakannya lebih lapuk dari usianya. Gurat-gurat wajahnya kasar. Tertempa kerasnya hidup. Mungkin tukang becak, tukang pikul buah, atau barangkali kuli pasar. Ia menghitung lembaran uang biru. Di dekat lapak bebas kaki lima baju-baju. Harganya luar biasa miring. Tapi dia masih menawarnya. Saya memperhatikannya. Dan saya berpikir. Kok harganya begini miring ya, ternyata baju-baju bekas. Baju bekas yang terlihat setidaknya layak pakai. Duuh, mata saya berkabut. Di negara yang begitu sangat kaya, penduduknya sedemikian miskin. Bahkan mereka pun berebut dan menawar untuk membeli baju bekas !! Ilahi....

Bapak tadi, dengan napas beratnya, membeli dua pasang baju kecil – untuk anaknya, bisik saya -- dan sehelai baju perempuan – tentu untuk istrinya --. Dia pun berlalu. Dan saya masih terpaku. Beban hidup, harapan, mimpi, cita dan usaha seluruhnya dipikul oleh laki-laki. Karena bagaimana pun seorang laki-laki adalah pemimpin bagi perempuan di sekitarnya. Bagi ibunya, bagi saudara perempuannya, bagi istrinya, bagi anak perempuannya. Pemimpin berarti penggenggam tanggung jawab, pelindung, pengayom, dan bahkan dalam arti luasnya bisa menjadi penjamin kebahagiaan. Dan itu luar biasa berat.

Bapak tadi mungkin hanya ingin sekedar membahagiakan istrinya, membuat tertawa senang anaknya, dengan semampunya, apa adanya. Dan saya jadi mengaitkannya dengan korupsi mba. Pelaku korupsi yang notabene laki-laki mungkin dipicu oleh orang-orang terdekatanya. Harapan-harapan mereka. Keinginan-keinginan mereka. Tidak perlu diutarakan. Raut wajah sudah terang menyuarakan. Mungkin rumah yang lebih besar. Perhiasan yang lebih banyak. Mobil yang lebih baru. Aah, saya jadi berpikir ngalor ngidul mba. Tapi sungguh mba, betapa pun hebatnya menjadi seorang perempuan, begitu pun hebatnya menjadi seorang laki-laki. Karena menurut saya, setiap laki-laki adalah pahlawan bagi orang-orang disekitarnya. Ayah bagi anaknya. Kakak bagi adiknya. Suami bagi istrinya.

Dan saat abang penjualnya menawari, saya menolaknya dengan menjawab ’ga ada jilbab sih’. Jawaban sekenanya. Dan segera berlalu. Tapi dalam hati ngilu pun mengalir. Deras.

Dan begitulah mba, kabar negeri kita tercinta. Terlihat mengenaskan ? Tapi mungkin seperti nasihat mba dulu, semua hal berproses dan setiap proses mesti dijalani. Mungkin ini proses yang Allah gariskan bagi bangsa kita ya mba. Banyak hikmah dalam setiap jejak perjalanannya. Dan kelak di titik sana, saat cinta begitu berlimpah, saat setiap jiwa berlabuh, harumnya akan semerbak mewangi.

Maka saat matahari tergelincir, dan setiap dahaga tertunaikan, saya pun merintih pelan, perkuatlah kesabaran saya dalam menjalani prosesMu Robb. Pun, perkokohlah kesabaran semua hati di negeri ini. Aaamiin...

Hoaemmm... Sudah sangat larut. Mata mulai sulit terjaga. Titip salam untuk langit Manchester ya mba, semoga kilaunya seindah langit malam ini di Bogor. Saat berjuta cahaya terhampar. Dan setiap hati pasrah. Tunduk.

Happy Ied Mubarak, mba...

Taqoballahu minna wa minkum...

Dengan cinta yang membiru….

Desi Novita Sar

Monday, October 24, 2005

...pun derap juga

kemilau yang berpendar itu,

adalah cahaya....

derap yang berbalut rindu,

pun derap juga.....

percikannya pecah

dan bilur-bilur pun mengalir...

berjejak...

Hhh... malam itu, didepan tv, saya tertegun. Saya sering mendengarnya. Namun setiap kalinya, selalu berkesan. Selalu lebih kuat.

”Lho, bukannya saya ingin kaya, tapi saya harus kaya” diiringi derai tawa Aa Gym.

Hhmm.. begitulah, akhir-akhir ini saya jadi sering sekali berpikir tentang kekayaan. Bukan, bukannya saya tidak sepakat dengan ucapannya Aa Gym. Tapi justru karena saya mengiyakan setiap baitnya. Muslim memang harus kaya. Tapi, masalahnya, siapa sih yang layak disebut kaya itu ? Lalu, sebanyak apa kekayaanya ?

Ide yang paling umum, orang kaya adalah orang yang punya rumah di deretan Valentino-nya kompleks bintaro plus honda jazz terbaru digarasinya. Mmm, tapi kalau rumah itu berarti kredit dua puluh tahun plus mobil itu tambahan lima tahun kredit lagi, judulnya adalah gak tenang. Mau pakai istilah credit card kek, KPR plus plus kek, itu tetap saja hutang. Yah, seperti beberapa kenalan saya yang kebetulan pasangan muda dan punya double income. Lha des, terus kalo ngontrak terus, judulnya juga deg-degan. Aah, itu diluar konteks yah, kan tulisan ini tidak memuat tips-tips bagi pasangan muda. Tapi lebih luas lagi J

Lalu, ide yang lain ? mmm... mungkin seperti senior saya di kantor, yang anaknya cuma dua dan kebetulah dua-duanya sudah di perguruan tinggi, tapi pembantunya di rumah ada empat. Pasti kaya banget kan. Eh, tapi kalau menjelang lebaran ini, dia panik luar biasa karena pembantu-pembantunya pulang kampung semua, menurut saya dia harus kita coret ya. Lha, wong, mempertahankan sesuatu saja ’nda bisa, rasanya dia tidak sungguh-sungguh kaya.

Ooh ya, ada lagi, mungkin seperti cerita teman saya, yang kaya itu adalah perempuan yang jadi manager di perusahaan bagus dan suaminya pejabat pemerintahan dan petinggi partai yang sedang berkuasa. Kaya dong, tentunya, bukan double income lagi tapi multi income. Aah, tapi kalau sebentar-sebentar anaknya yang perempuan – yang ternyata ga pe de sama sekali -- minta operasi bedah plastik kakinya karena kurang seksi, atau hidungnya yang dirasa kurang bangir dan gak berbentuk segitiga ( nah lho ?? ). Dan kebetulan minta operasinya di Perancis atau di MayoClinicnya Rochester, kan ga normal tuh. Cash flow nya balance sekali. Uang yang masuk sederas uang keluar. Atau mungkin malah cash flownya bleeding lagi. Di reject saja pendapat teman saya itu.

Terus, siapa dong yang kaya itu? Kalau ini bukan, itu ditolak. Ooopss, pasti artis ya, artis kan pemasukannya bisa setengah milyar ya dalam semalam. Wah, kalau artis sih, sudah ga masuk list dari awal. Kok bisa ? Ya iya dong, kan para artis ini ga bisa membeli kebebasannya. Waktu-waktu pribadinya. Di gosipin terus.

Haha... terus siapa dong yang kaya itu? Jangan-jangan ga ada lagi, bottom line-nya aja ga jelas gitu. Sebelumnya, saya juga berpikir begitu. Rasanya orang yang saya cari tidak nyata. Adanya hanya pada tataran teoritis atau di alam saat semua garis adalah kebaikan. Tapi, akhir-akhir ini saya baru menemukannya. Dan, heyy, look, ini bukan di negeri dongeng. Mereka ada, dan real !

Salah satu contohnya ya, salah seorang teman kantor saya, ibu-ibu. Sangat sederhana, bahkan untuk ukuran karyawan kantoran. Posisinya dikantor biasa saja. Suaminya pegawai negeri biasa. Anaknya empat, laki-laki, usia sekolah semua. Tapi ternyata sedekahnya untuk para satpam/cleaning service/messenger – itu lho yang bawa-bawain surat dari lantai ke lantai -- /host -- itu lho, yang suka beliin makanan kita kalau malas turun ke kantin – jumlahnya sangat besar, bahkan lebih besar dari salah satu manager saya. Kok saya bisa tahu ? Iyya dong, saya kan ga sengaja ngintip dari listnya. Dan saya terharu. Seketika. Dia gak repot ngurusin baju kebaya baru, atau model tas manik-manik baru dan perkara-perkara ibu-ibu lainnya, tapi justru memindahkan konsentrasinya untuk memberi banyak pada yang lain. Dia, menurut saya, sangat kaya.

Seorang teman perempuan saya pun saya sebut sangat kaya. Dia bekerja di perusahaan yang menurut saya sih ga manusiawi, kerja dengan waktu di luar batas toleransi saya. Mending gajinya sepadan bebannya, tapi nope tuh. Saya berkali-kali bilang padanya, tapi dia bilang bekerja itu ibadah, dan yang penting ikhlas, sampai Allah menentukan sesuatu yang lebih baik. Hh.. susah deh, kalau orang terlalu baik begini. Terlalu ’nrimo, tidak punya daya pemberontak. Haha.. untungnya imannya kuat, tidak terpengaruh saya J. Tapi yang saya kagumi, dia rela membelah-belah dirinya demi sesuatu yang lebih baik dan lebih besar. Di sisa-sisa waktunya – yang masih aktif di berbagai kegiatan --, masih sempat ngurusin bazaar ramadhan di balaikota hari ini sampai rela menguras uangnya, tenaga dan pikirannya tentu. Dan saya yakinnya, besok senin, dia pasti sudah stand by di kantor dengan kalem tanpa ada orang yang mengira dia sudah melakukan hal besar kemarinnya. Seseorang yang tidak hanya memikirkan segala pernak-pernik tentang dirinya, tidak hanya berpusat pada dirinya, tidak egosentris, dan masih memiliki energi banyak untuk memberi dan berbagi pada yang lain adalah sangat kaya menurut saya.

Oh ya, adalagi yang kaya menurut saya, seorang laki-laki, usia pertengahan. Saya melihatnya saat di kereta suatu siang. Biasa saja. Tipe bapak-bapaklah. Tapi saya jadi memperhatikannya. Lekat. Habis hatinya baik sekali. Terharu sekali saya melihatnya. Dia tidak membiarkan satu pengemis/pengamen/anak-anak yang menyapu sambil menadahkan upah di kereta itu --– yang jumlahnya buuanyaaakk sekali itu --- lewat didepannya tanpa ia menyodorkan sehelai kertas. Entah laki-laki itu baru dapat bonus mungkin, atau warisan, who knows. Tapi orang yang tidak membiarkan tangan dibawah lewat dengan hampa begitu saja dari hadapannya adalah orang yang kaya, menurut saya. Meskipun dia sudah membayar zakat atau sedekah ditempat lain, misalnya.

Karena mengutip ucapan ayah saya ya, sedekah itu adalah wujud nyata kemurahan hati. Kalau zakat, bukan tentang kemurahan hati, tapi tentang kebesaran hati, karena zakat adalah hak orang lain. Nah, kalimat terakhir ini yang membuat mendung saya kemarin sore sirna seketika. Dan saya merasa sangat bodoh setelahnya. Iya dong, zakat adalah hak orang lain, hak fakir miskin, hak para mualaf, hak pejuang fii sabillilah, dan hak orang-orang lain yang tidak seberuntung kita. Tidak pernah sekali pun jadi milik kita. Hanya kebetulan dititipkan pada kita.

Makanya, saya menertawakan diri saya sendiri, lama, kok bisa-bisanya cemberut hampir seharian gara-gara terlalu nervous menghitung zakat tahunan saya. Lha, logikanya kan dapat, hak orang lain toh. Bukan milik kita. Kok seperti melepas sesuatu yang begitu lekat ? poor me...

Setelahnya dengan semangat seorang relawan baru pengumpul zakat plus galak sedikit, saya sms teman-teman saya, ayo, hitung zakat dengan teliti. Mobil, coba dimasukin. Emas, coba ya, dihitung juga. Usaha-usaha, dagang, ternak lobster, konsultan komputer, coba ya, teliti ulang – kebetulan beberapa teman ada yang berwiraswasta --. Haha.. gak apa-apa galak sedikit, inginnya kan kaya bareng-bareng, iya gak ?

Jadilah sore itu sore pembelajaran menjadi kaya. Ingin kaya, berzakatlah... bisik saya berkali-berkali. Mmh.. setelah dipikir-pikir, motto itu bagus juga, kok jadi narsis gini. Saya tergelak pelan sambil mematikan televisi. Famous to famous-nya baru saja usai. Yup, bismillah, sebuah usaha kan, sama-sama pejuang kan, untuk mendekat pada Pusat Seluruh Cinta... Insyaallah kita bertemu disana ya... Janji ?

Ooopss, saya tersentak, tiba-tiba, eh, wait deh, ada yang melintas cepat, jika zakat profesi 2,5%, zakat maal 2,5%, terus.. terus.. zakat bonus itu kan 20%... Huuaaah.. THR itu masuk zakat bonus gak ya? Terus bonus review performance tengah tahun saya kemarin... itu 20% juga-kah ? Jika iyyyaaa…………

Adduhh, hati, mengapa begitu membenci surga sih ???

-dns-

Late nite, 23 oct 05

with backsound Bila Waktu Tlah Berakhir-nya Opick..

mmh… jika sungguh-sungguh waktu telah berakhir???

Tuesday, October 18, 2005

Kasih Sayang No. 37

Saya memiliki kesulitan yang tidak biasa untuk perempuan pada umumnya. Kesulitan yang sedikit menghambat saat berinteraksi dengan rekan sekantor, tapi seringnya menyelamatkan saya untuk begitu banyak situasi. Percaya atau tidak, saya tidak suka berbelanja. Shopping. Deng dong.. Yup, berbelanja. Saya paling sulit menentukan pilihan saat belanja. Ciri-cirinya mudah, pada jam-jam awal saya akan mulai pusing, terlalu banyak pilihan, sedang saya hanya butuh satu, lalu tatapan saya mulai kabur, dan terakhir saya benar-benar butuh udara hangat sinar matahari dengan angin pelan yang meniup.

Jadi, biasanya strategi saya saat berbelanja adalah dengan dua kali datang ke toko tersebut. Tidak efisien memang, tapi efektif. Yah, begitulah menurut saya. Kedatangan pertama, saya melakukan survei. Saya tulis kebutuhan saya dan saya rinci apa yang saya inginkan untuk dibeli. Lihat-lihat beberapa keliling. Dan lalu pulang. Memikirkan dalam-dalam pilihan yang ada, mengurai untung ruginya, keinginan versus kesanggupan, dan akhirnya memutuskan. Pada kali kedua, saya langsung menuju pilihan saya dan menutup acara berbelanja super singkat tadi dengan menuju kasir.

’Aneh’, kalau kata rekan sekantor saya. ’Kamu perlu ikut kelas berbelanja’, kata yang lainnya. Tapi saya hanya meringis. Dan hal ini terjadi saat kami rekan satu departemen outing ke Bandung, menyusuri Factory-Factory Outlet di sepanjang jalan. Tema besarnya adalah berbelanja. Dan alhasil, belanjaan saya paling minim. Itu pun tidak ada untuk saya pribadi. Hanya beberapa helai baju untuk yang lain. ’Lho, des, katanya butuh beli sepatu? Di sini murah dan bagus lho, di Jakarta belum tentu dapat harga segini... ’ Saya hanya nyengir. Lebar. Masalahnya saya tidak bisa berpikir jika orang banyak berjubel dan barang-barang bertebaran.

Tapi baiklah, saya tidak ingin berbicara tentang style belanja saya lebih lanjut. Tapi masih ada kaitannya dengan belanja. Tentang tas Louis Vuitton. Tentang berlian. Tentang berdamai dengan hati. Tentang ahh.. suatu siang di bulan September.

Selepas makan siang, saya diajak dadakan oleh beberapa rekan kantor mencari kado untuk rekan satu departemen yang menikah minggu ini. Umumnya sih diberi uang mentah ya, tapi karena ingin terasa pribadi dan berhubung yang menikah adalah teman dekat, maka layaknya dicarikan barang yang sense personalnya jangka panjang. Kami melaju menuju Sogo – Plaza Indonesia. This is my first time – honestly.

Di Bogor belum begitu ramai dengan mal-mal besar dan pusat perbelanjaan mewah, tapi akan ramai sepertinya, mengingat Plaza Ekalokasari, Sarinah dan Bogor Trade Mall mulai berwujud. Lain dengan Depok, yang jeda sepuluh meter, sudah berdiri mall lagi, lihat saja ITC, Depok Town Square, lalu apalah itu yang pembangunannya bising sekali. Paling saya sempat melongok mal-mal mewah di KL, cuma melirik, melirik tidak akan membuat kepala saya sakit, saya tidak melihat label harganya dan saya pun tidak berniat membelinya. Hahaa…

Dan jadilah saya ke Sogo. Menanjak keatas setelah Avanza teman diparkir aman di basement. Saya melewati panggung utama yang biasanya digunakan syuting Citicard atau apalah acara jetset di MetroTv itu. Lalu menyusuri beberapa counter. Saya merasa seperti tidak di Indonesia. Lebih cocok di luar negeri. Entah saya yang terlalu ‘sederhana’ dan kurang membuka mata, atau memang benar ini tipikal mall mewah setaraf internasional.

Hati saya menggeleng keras, benar-benar jurang itu sedemikian dalam. Indonesia, sebuah negeri yang gemanya sangat memilukan hati. The have and the haven’t.

Beberapa counternya berkilauan, iyalah… Counter berlian gitu lo. Saling mengintip di balik kaca. ‘Itu tuh des, yang putih bundar, itu yang paling mahal..’

Dan ekor mata saya melirik perlahan, mencari label harga.

Wwhaattt, harganya delapan puluh juta !!! Seribu badai topan kalau kata Kapten Cook. Dan ada yang sakit jauh di lubuk hati saya. Tidak terbayang orang yang memakainya, saya pikir, tangannya pasti berat sekali. Dan pasti sering kali melambai-lambai menunjukkan cincin berliannya. Haha.. saya jadi teringat episode ceramah Aa Gym tentang ini.

Ya, sepertinya ingatan saya tahu ada cincin semahal itu, tapi rasanya itu tiak real, tidak mungkin ada di Indonesia, Indonesia sedang prihatin, BBM naik seratus persen. Teman saya nyeletuk, itu lho, sama persis yang dipunya artis ini. Mulut saya kaku, mendengar dan membaca sesuatu memang begitu berbeda dengan melihat sendiri secara nyata label harganya.

Saya teringat beberapa hari lalu, ada pameran berlian berjalan dari meja ke meja di kantor. Seorang teman berdagang beberapa berlian. Besar-besar dan ’ibu-ibu banget’ gayanya. Saya tidak menanyakan harganya. Tapi teman-teman kantor yang sudah berumur alias ibu-ibu asyik mengerubungi kilauan-kilauannya.

Kami beranjak melewati counter lain. Counter tas Louis Vuitton. Saya tak tahu apa hebatnya tas itu, selain international branded, apa tas itu tahan api, tahan gunting atau silet jika ada orang usil di kereta mau mencopet dompet kita misalnya. Sehari sebelumnya saya sempat terperangah, ada orang bawah, dept sales, membeli tas Louis Vuitton kecil yang Think Pad aja ga muat kali, seharga.. tarik napass.. tujuh koma delapan juta rupiah, sodara-sodara !!! Mendengarnya, saya tidak sempat lagi geleng-geleng, seperti dipaku, ada ya orang yang mengeluarkan begitu banyak uang demi gengsi atau apalah yang sama sekali tidak fungsional misalnya. Memandang begitu lekat pada bungkus, tidak isi. Baiklah, tegarlah des, ini Indonesia sayang !!!!

Teman yang lain cerita tentang satu merk yang saya tidak hapal namanya, yang sampai diperebutkan di Perancis dulu saat ia dan suami liburan kesana. Karena di Paris mementingkan kualitas dan produce limited, mereka hanya membolehkan satu orang membeli satu barang saja, controlnya ga main-main, mereka memasukkan nomor identitas ke dalam mesin mereka sebelum memproses pembelian. Dan disana banyak orang Indonesia yang rela menyewa joki untuk membeli barang itu dua sampai tiga. Dengan alasan yang silakan nilai sendiri, kalau di Indonesia harganya melambung sangat tinggi, di Paris harganya lebih murah.

Dan Juni kemarin saat Singapore Great Sale, delapan puluh persennya adalah orang Indonesia. That’s it, fact finally talk !!!!

Beginilah Indonesia, silakan berkenalan lebih dekat. Tapi jangan sebut namanya, terlalu sedih gemanya, rangkul saja, obati hatinya, karena ia sungguh sangat sakit…

Ada yang berderak. Entah dimana. Tapi nyerinya mengalir. Membuat kawah dihati.

Akhirnya kami membeli sehelai seprai dan lampu kamar untuk hadiah. Almost a million !! Saya hanya tertawa, entah sehalus apa seprai tadi. Atau seterang apa lampu tadi.

Des, des, be grown up...

Saat kerjaan saya selesai, saat malam beranjak perlahan.. Saya sengaja berlama-lama membereskan meja. Biarlah lewat kereta terakhir dari stasiun sudirman. Saya menuruni kantor dan menyibak udara malam dengan haru. Saya mesti berdamai dengan hati.

Menghalau angin menuju stasiun manggarai. Di mana begitu banyak jiwa lelah seharian bekerja keras. Demi anak, istri dan kehidupan yang lebih baik di masa depan. Demi rupiah helai perhelai dihulurkan untuk menyambung napas satu persatu. Saya mesti berdamai dengan hati.

Kereta ekonomi. Terapi paling menyembuhkan untuk jiwa. Dimana saat tangan bersandar kuat, dan badan yang terlampau letih berpadu dengan lantangnya suara pengemis yang setia meminta meski malam bergulir. Atau anak kecil yang menyeret kaki menyapu lantai kereta mengharapkan upah. Atau gigihnya penjual minuman menarik dagangannya yang terasa berat. Mereka masih bekerja. Sedang saya dalam perjalanan pulang. Pengemis yang tengah beroperasi pun istilahnya sedang ’bekerja’. Ibu-ibu yang mengamen. Bapak-bapak penjual koran sore hari. Kereta hiruk pikuk. Penjual berbanding lurus penumpang. Meski malam ? Ya, meski telah larut. Karena lapar dan dahaga tidak bisa ditunda hingga besok pagi bukan ???

Saya berdiri. Tidak kebagian tempat duduk. Didepan saya bapak-bapak dengan begitu banyak gurat lelah diwajahnya. Tumben saya tidak ngomel-ngomel, tumben saya empati, biasanya saya berkeluh kesah tiada henti, memaki dalam hati pada laki-laki yang tidak gentle atau bersikap pura-pura begitu kelelahannya hingga pada akhirnya mereka akan menawarkan saya tempat duduk. Haha.. trik jaman kuliahan. Tapi saya hanya menatapi wajah-wajah terlelap yang dimakan beban hidup dihadapan saya.

Satu bintang berpendar indah di ujung langit. Sudahkah berdamai dengan hatimu, Des ?

Dan tiba-tiba saya teringat puisi ini. Aahh, des, nikmat Tuhan yang manakah yang kamu dustakan ? dan cinta yang manakah yang kau khianati ?

Kasih Sayang No. 37*

(Nur Fahmi Taufik Al-Shaa’b)

Gemintang mengerjap

Ada yang jatuh di sela-selanya,

Mungkin puisi cinta

Langit pun seperti tirai:

Menyibak perlahan-lahan; tampilkan

Rahasia mawar merah itu

Demikianlah malam

Menyampaikan rindu hidung

Pada kesturi

Maka cinta yang manakah

Yang mesti kukhianati?

*QS Ar rahmaan: 37

Sunday, October 16, 2005

..Virtue...

“Good character is more to be praised than outstanding talent. Most talent are to some extent a gift. Good character, by contrast, is not given to us. We have to build it piece by piece – by thought, choice, courage and determination”

Karakter yang baik, lebih patut dipuji daripada bakat yang luar biasa. Hampir semua bakat adalah anugerah. Karakter yang baik, sebaliknya, tidak dianugerahkan kepada kita. Kita harus membangunnya sedikit demi sedikit --- dengan pikiran, pilihan, keberanian, dan usaha keras

( John Luther )

Bismillahirrohmaanirrohiim....

Sepenggal pagi. Tapi diskusi mulai menghangat. Apalagi topiknya kalau bukan BBM dan segala efek sampingnya. Saya banyak diam. Mendengarkan. Menatap wajah-wajah bersinar di hadapan saya.

Salah seorang teman bercerita tentang satu kisah menarik saat berdiskusi dengan BPS Bogor. Setelah KKB (Kartu Kompensasi BBM) dibagikan, sekitar 7000 masyarakat yang menyatakan miskin ramai-ramai mengunjungi BPS. Mereka mengklaim lurah dan anggota BPS yang curang dan tidak akurat. Nah, saat ribut berdebat itulah, terdengar bunyi suara handphone yang ternyata dari kumpulan masyarakat miskin tadi. Kontan saja anggota BPS tadi berkata : ’Pak, handphone bapak saja lebih mahal dari handphone saya, masa bapak mau mengklaim sebagai masyarakat miskin....’ Bapak itupun segera menghilang. Malu, tentunya. Hahaha.... tawa pun berderai.

Tapi yah begitulah, meski dengan empat belas karakteristik miskin yang ditetapkan, masih sulit mendefinisikan miskin itu sendiri. Karena sejujurnya saya pikir, pada masyarakat kita, miskin itu sudah menjadi mentalitas. Bukan lagi kondisi dan keadaaan. Tapi karakter.

Teman yang lain berbagi sebuah cerita, tentang sebuah kampung di daerah Sumatera tempat mertuanya tinggal, berpenghasilan perbulan hanya Rp 200.000. Tapi percaya atau tidak, sekitar Rp 150.000 dibelanjakan untuk kredit DVD. Sisanya ya untuk hidup sehari-hari. Saya menggeleng kuat. Inilah yang saya sebut mentalitas miskin.

Lain lagi cerita di Bogor. Agak memilukan memang mengingat Bogor dekat sekali dengan Jakarta, tempat peradaban berpusat. Di Bogor, ditemui kasus kaki gajah, busung lapar, polio bahkan flu burung. Nah, bicara tentang kasus busung lapar, saat turun lapangan, ada beberapa diantara mereka memiliki televisi, dvd dan perhiasan emas. Kurangnya pendidikan, memang. Menimbang mana yang penting dan mana yang tidak penting. Tapi mentalitas miskin inilah yang membuat mereka menilai ’bungkus’ terlalu tinggi dan mengabaikan ’isi’. Menilai tinggi sesuatu yang tampak diluar dan mengabaikan tumbuh kembang didalam. Memilih membeli televisi dan dvd ketimbang membeli susu untuk gizi bayi-bayi mereka.

Saya jadi teringat cerita dikantor. Dalam obrolan lainnya. Bos baru saya, kebetulan orang India, bercerita bahwa dia sudah menjelajahi seluruh mall di jakarta dan dia takjub setiap kali memasukinya. Saya heran, memangnya di negeri asalnya tidak ada, dan dia dengan tegasnya mengatakan tidak ada. Ooh, saya paham, dia dulu di Bangalore, bukan pusat India. Aaah, tapi jika Bangalore disamakan dengan Semarang – sama-sama bukan ibu kota -- , masih timpang juga, bahkan di Semarang pun mall-mall besar berdiri megah.

Rekan kantor saya dengan sinisnya berkata, yah, itulah mentalitas Indonesia. Lihat, mall-mall mewah berdiri megah, sedangkan pusat pendidikan terabaikan. Buku-buku mahal sekali. India, lanjutnya, mungkin seperti bos saya bilang, no mall at all, atau setidaknya tidak ada yang semewah di Indonesia, tapi di Kompas pernah dimuat profil sekolah kedokteran terbaik di dunia dan adanya di sana. Hhh…

Rekan kantor lainnya berkata, adiknya yang kebetulan baru pulang dari menyelesaikan S3-nya di Inggris dengan herannya berkata handphone-handphone di Indonesia bagus-bagus ya. Semua handphone terbaru, ada dan dibeli. Sedang di Inggris yang notabene negara adidaya, gaungnya tidak seperti ini. Mmmh… saya jadi ingat beberapa kenalan saya yang menghabiskan gaji satu dua bulannya hanya untuk membeli handphone jenis terbaru. Padahal dia baru bekerja hitungan bulan. Style, des, katanya. Saya cuma menggeleng. Yah, antara paham dan heran, tapi inilah mentalitas masyarakat Indonesia kebanyakan. Lebih menyukai ‘bungkus’, daripada ‘isi’.

Mentalitas. Karakteristik. Apapun namanya, jika telah mendarah daging, berat untuk dilepas. Karena karakter itu ibarat otot. Otot-otot karakter akan menjadi lembek apabila tidak pernah dilatih. Sebaliknya, ia akan kuat dan kokoh kalau sering dipakai. Seperti seorang binaragawan yang terus menerus berlatih untuk membentuk ototnya. Otot-otot karakter juga akan terbentuk melalui praktik-praktik latihan, yang akhirnya akan menjadi kebiasaan.

Kembali pada forum diskusi pagi ini. Saya khawatir jika tidak ada yang berubah dengan mentalitas miskin bangsa ini tahun-tahun mendatang, KKB yang katanya merupakan usaha awal untuk meluncurkan kartu jaminan sosial untuk orang miskin akan justru memperberat masalah bangsa kita. Hahaa.... karena alasan sederhana, orang-orang justru akan berebut menjadi miskin dan malas bekerja. Wong, sekarang pun, ada satu BPS yang kebanjiran komplain masyarakat miskin sekian ribu orang, yang jika dihitung awal jumlah pendemo dengan masyarakat yang telah mendapat KKB totalnya 90% dari masyarakat keseluruhan. Ini berarti 90% nya masyarakat daerah tersebut miskin dong. Yupp !!!

Mengutip ucapannya Al Ghazali kalau akhlaq adalah tabiat atau kebiasaan dalam melakukan hal-hal yang baik. Jadi, karakter ’miskin’ tadi meski sudah menghujam jauh ke akar masyarakat kita baik menengah kebawah atau pun keatas, harus berusaha kita lepas. Dimulai dari unit terkecil kehidupan kita. Mustahil? Yakinlah, tidak kok. Berat? Tentunya. Tapi jika itu membuat kita jatuh dan terpuruk pada akhirnya, boleh kan kalau kita bangkit dan berdiri lagi ?

Hhhh.. banyak sekali yah pe er kita, ujar Teteh di ujung sana dengan senyum yang luar biasanya teduhnya. Kami mengangguk. Kuat tapi perlahan. Dan pagi pun beranjak siang.

“Virtue is the muscle tone that develops from daily and hourly training of spiritual warrior”

Karakter adalah kualitas otot yang terbentuk melalui latihan setiap hari dan setiap jam dari seorang pejuang spiritual.

(Tolbert Mc Caroll)

Terinspirasi oleh tulisannya Ratna Megawangi, pendiri dan Direktur Eksekutif Indonesia Heritage Foundation (IHF); sebuah yayasan yang bergerak dalam pengembangan model “Character-based Holistic Education”.