Tuesday, October 18, 2005

Kasih Sayang No. 37

Saya memiliki kesulitan yang tidak biasa untuk perempuan pada umumnya. Kesulitan yang sedikit menghambat saat berinteraksi dengan rekan sekantor, tapi seringnya menyelamatkan saya untuk begitu banyak situasi. Percaya atau tidak, saya tidak suka berbelanja. Shopping. Deng dong.. Yup, berbelanja. Saya paling sulit menentukan pilihan saat belanja. Ciri-cirinya mudah, pada jam-jam awal saya akan mulai pusing, terlalu banyak pilihan, sedang saya hanya butuh satu, lalu tatapan saya mulai kabur, dan terakhir saya benar-benar butuh udara hangat sinar matahari dengan angin pelan yang meniup.

Jadi, biasanya strategi saya saat berbelanja adalah dengan dua kali datang ke toko tersebut. Tidak efisien memang, tapi efektif. Yah, begitulah menurut saya. Kedatangan pertama, saya melakukan survei. Saya tulis kebutuhan saya dan saya rinci apa yang saya inginkan untuk dibeli. Lihat-lihat beberapa keliling. Dan lalu pulang. Memikirkan dalam-dalam pilihan yang ada, mengurai untung ruginya, keinginan versus kesanggupan, dan akhirnya memutuskan. Pada kali kedua, saya langsung menuju pilihan saya dan menutup acara berbelanja super singkat tadi dengan menuju kasir.

’Aneh’, kalau kata rekan sekantor saya. ’Kamu perlu ikut kelas berbelanja’, kata yang lainnya. Tapi saya hanya meringis. Dan hal ini terjadi saat kami rekan satu departemen outing ke Bandung, menyusuri Factory-Factory Outlet di sepanjang jalan. Tema besarnya adalah berbelanja. Dan alhasil, belanjaan saya paling minim. Itu pun tidak ada untuk saya pribadi. Hanya beberapa helai baju untuk yang lain. ’Lho, des, katanya butuh beli sepatu? Di sini murah dan bagus lho, di Jakarta belum tentu dapat harga segini... ’ Saya hanya nyengir. Lebar. Masalahnya saya tidak bisa berpikir jika orang banyak berjubel dan barang-barang bertebaran.

Tapi baiklah, saya tidak ingin berbicara tentang style belanja saya lebih lanjut. Tapi masih ada kaitannya dengan belanja. Tentang tas Louis Vuitton. Tentang berlian. Tentang berdamai dengan hati. Tentang ahh.. suatu siang di bulan September.

Selepas makan siang, saya diajak dadakan oleh beberapa rekan kantor mencari kado untuk rekan satu departemen yang menikah minggu ini. Umumnya sih diberi uang mentah ya, tapi karena ingin terasa pribadi dan berhubung yang menikah adalah teman dekat, maka layaknya dicarikan barang yang sense personalnya jangka panjang. Kami melaju menuju Sogo – Plaza Indonesia. This is my first time – honestly.

Di Bogor belum begitu ramai dengan mal-mal besar dan pusat perbelanjaan mewah, tapi akan ramai sepertinya, mengingat Plaza Ekalokasari, Sarinah dan Bogor Trade Mall mulai berwujud. Lain dengan Depok, yang jeda sepuluh meter, sudah berdiri mall lagi, lihat saja ITC, Depok Town Square, lalu apalah itu yang pembangunannya bising sekali. Paling saya sempat melongok mal-mal mewah di KL, cuma melirik, melirik tidak akan membuat kepala saya sakit, saya tidak melihat label harganya dan saya pun tidak berniat membelinya. Hahaa…

Dan jadilah saya ke Sogo. Menanjak keatas setelah Avanza teman diparkir aman di basement. Saya melewati panggung utama yang biasanya digunakan syuting Citicard atau apalah acara jetset di MetroTv itu. Lalu menyusuri beberapa counter. Saya merasa seperti tidak di Indonesia. Lebih cocok di luar negeri. Entah saya yang terlalu ‘sederhana’ dan kurang membuka mata, atau memang benar ini tipikal mall mewah setaraf internasional.

Hati saya menggeleng keras, benar-benar jurang itu sedemikian dalam. Indonesia, sebuah negeri yang gemanya sangat memilukan hati. The have and the haven’t.

Beberapa counternya berkilauan, iyalah… Counter berlian gitu lo. Saling mengintip di balik kaca. ‘Itu tuh des, yang putih bundar, itu yang paling mahal..’

Dan ekor mata saya melirik perlahan, mencari label harga.

Wwhaattt, harganya delapan puluh juta !!! Seribu badai topan kalau kata Kapten Cook. Dan ada yang sakit jauh di lubuk hati saya. Tidak terbayang orang yang memakainya, saya pikir, tangannya pasti berat sekali. Dan pasti sering kali melambai-lambai menunjukkan cincin berliannya. Haha.. saya jadi teringat episode ceramah Aa Gym tentang ini.

Ya, sepertinya ingatan saya tahu ada cincin semahal itu, tapi rasanya itu tiak real, tidak mungkin ada di Indonesia, Indonesia sedang prihatin, BBM naik seratus persen. Teman saya nyeletuk, itu lho, sama persis yang dipunya artis ini. Mulut saya kaku, mendengar dan membaca sesuatu memang begitu berbeda dengan melihat sendiri secara nyata label harganya.

Saya teringat beberapa hari lalu, ada pameran berlian berjalan dari meja ke meja di kantor. Seorang teman berdagang beberapa berlian. Besar-besar dan ’ibu-ibu banget’ gayanya. Saya tidak menanyakan harganya. Tapi teman-teman kantor yang sudah berumur alias ibu-ibu asyik mengerubungi kilauan-kilauannya.

Kami beranjak melewati counter lain. Counter tas Louis Vuitton. Saya tak tahu apa hebatnya tas itu, selain international branded, apa tas itu tahan api, tahan gunting atau silet jika ada orang usil di kereta mau mencopet dompet kita misalnya. Sehari sebelumnya saya sempat terperangah, ada orang bawah, dept sales, membeli tas Louis Vuitton kecil yang Think Pad aja ga muat kali, seharga.. tarik napass.. tujuh koma delapan juta rupiah, sodara-sodara !!! Mendengarnya, saya tidak sempat lagi geleng-geleng, seperti dipaku, ada ya orang yang mengeluarkan begitu banyak uang demi gengsi atau apalah yang sama sekali tidak fungsional misalnya. Memandang begitu lekat pada bungkus, tidak isi. Baiklah, tegarlah des, ini Indonesia sayang !!!!

Teman yang lain cerita tentang satu merk yang saya tidak hapal namanya, yang sampai diperebutkan di Perancis dulu saat ia dan suami liburan kesana. Karena di Paris mementingkan kualitas dan produce limited, mereka hanya membolehkan satu orang membeli satu barang saja, controlnya ga main-main, mereka memasukkan nomor identitas ke dalam mesin mereka sebelum memproses pembelian. Dan disana banyak orang Indonesia yang rela menyewa joki untuk membeli barang itu dua sampai tiga. Dengan alasan yang silakan nilai sendiri, kalau di Indonesia harganya melambung sangat tinggi, di Paris harganya lebih murah.

Dan Juni kemarin saat Singapore Great Sale, delapan puluh persennya adalah orang Indonesia. That’s it, fact finally talk !!!!

Beginilah Indonesia, silakan berkenalan lebih dekat. Tapi jangan sebut namanya, terlalu sedih gemanya, rangkul saja, obati hatinya, karena ia sungguh sangat sakit…

Ada yang berderak. Entah dimana. Tapi nyerinya mengalir. Membuat kawah dihati.

Akhirnya kami membeli sehelai seprai dan lampu kamar untuk hadiah. Almost a million !! Saya hanya tertawa, entah sehalus apa seprai tadi. Atau seterang apa lampu tadi.

Des, des, be grown up...

Saat kerjaan saya selesai, saat malam beranjak perlahan.. Saya sengaja berlama-lama membereskan meja. Biarlah lewat kereta terakhir dari stasiun sudirman. Saya menuruni kantor dan menyibak udara malam dengan haru. Saya mesti berdamai dengan hati.

Menghalau angin menuju stasiun manggarai. Di mana begitu banyak jiwa lelah seharian bekerja keras. Demi anak, istri dan kehidupan yang lebih baik di masa depan. Demi rupiah helai perhelai dihulurkan untuk menyambung napas satu persatu. Saya mesti berdamai dengan hati.

Kereta ekonomi. Terapi paling menyembuhkan untuk jiwa. Dimana saat tangan bersandar kuat, dan badan yang terlampau letih berpadu dengan lantangnya suara pengemis yang setia meminta meski malam bergulir. Atau anak kecil yang menyeret kaki menyapu lantai kereta mengharapkan upah. Atau gigihnya penjual minuman menarik dagangannya yang terasa berat. Mereka masih bekerja. Sedang saya dalam perjalanan pulang. Pengemis yang tengah beroperasi pun istilahnya sedang ’bekerja’. Ibu-ibu yang mengamen. Bapak-bapak penjual koran sore hari. Kereta hiruk pikuk. Penjual berbanding lurus penumpang. Meski malam ? Ya, meski telah larut. Karena lapar dan dahaga tidak bisa ditunda hingga besok pagi bukan ???

Saya berdiri. Tidak kebagian tempat duduk. Didepan saya bapak-bapak dengan begitu banyak gurat lelah diwajahnya. Tumben saya tidak ngomel-ngomel, tumben saya empati, biasanya saya berkeluh kesah tiada henti, memaki dalam hati pada laki-laki yang tidak gentle atau bersikap pura-pura begitu kelelahannya hingga pada akhirnya mereka akan menawarkan saya tempat duduk. Haha.. trik jaman kuliahan. Tapi saya hanya menatapi wajah-wajah terlelap yang dimakan beban hidup dihadapan saya.

Satu bintang berpendar indah di ujung langit. Sudahkah berdamai dengan hatimu, Des ?

Dan tiba-tiba saya teringat puisi ini. Aahh, des, nikmat Tuhan yang manakah yang kamu dustakan ? dan cinta yang manakah yang kau khianati ?

Kasih Sayang No. 37*

(Nur Fahmi Taufik Al-Shaa’b)

Gemintang mengerjap

Ada yang jatuh di sela-selanya,

Mungkin puisi cinta

Langit pun seperti tirai:

Menyibak perlahan-lahan; tampilkan

Rahasia mawar merah itu

Demikianlah malam

Menyampaikan rindu hidung

Pada kesturi

Maka cinta yang manakah

Yang mesti kukhianati?

*QS Ar rahmaan: 37

Sunday, October 16, 2005

..Virtue...

“Good character is more to be praised than outstanding talent. Most talent are to some extent a gift. Good character, by contrast, is not given to us. We have to build it piece by piece – by thought, choice, courage and determination”

Karakter yang baik, lebih patut dipuji daripada bakat yang luar biasa. Hampir semua bakat adalah anugerah. Karakter yang baik, sebaliknya, tidak dianugerahkan kepada kita. Kita harus membangunnya sedikit demi sedikit --- dengan pikiran, pilihan, keberanian, dan usaha keras

( John Luther )

Bismillahirrohmaanirrohiim....

Sepenggal pagi. Tapi diskusi mulai menghangat. Apalagi topiknya kalau bukan BBM dan segala efek sampingnya. Saya banyak diam. Mendengarkan. Menatap wajah-wajah bersinar di hadapan saya.

Salah seorang teman bercerita tentang satu kisah menarik saat berdiskusi dengan BPS Bogor. Setelah KKB (Kartu Kompensasi BBM) dibagikan, sekitar 7000 masyarakat yang menyatakan miskin ramai-ramai mengunjungi BPS. Mereka mengklaim lurah dan anggota BPS yang curang dan tidak akurat. Nah, saat ribut berdebat itulah, terdengar bunyi suara handphone yang ternyata dari kumpulan masyarakat miskin tadi. Kontan saja anggota BPS tadi berkata : ’Pak, handphone bapak saja lebih mahal dari handphone saya, masa bapak mau mengklaim sebagai masyarakat miskin....’ Bapak itupun segera menghilang. Malu, tentunya. Hahaha.... tawa pun berderai.

Tapi yah begitulah, meski dengan empat belas karakteristik miskin yang ditetapkan, masih sulit mendefinisikan miskin itu sendiri. Karena sejujurnya saya pikir, pada masyarakat kita, miskin itu sudah menjadi mentalitas. Bukan lagi kondisi dan keadaaan. Tapi karakter.

Teman yang lain berbagi sebuah cerita, tentang sebuah kampung di daerah Sumatera tempat mertuanya tinggal, berpenghasilan perbulan hanya Rp 200.000. Tapi percaya atau tidak, sekitar Rp 150.000 dibelanjakan untuk kredit DVD. Sisanya ya untuk hidup sehari-hari. Saya menggeleng kuat. Inilah yang saya sebut mentalitas miskin.

Lain lagi cerita di Bogor. Agak memilukan memang mengingat Bogor dekat sekali dengan Jakarta, tempat peradaban berpusat. Di Bogor, ditemui kasus kaki gajah, busung lapar, polio bahkan flu burung. Nah, bicara tentang kasus busung lapar, saat turun lapangan, ada beberapa diantara mereka memiliki televisi, dvd dan perhiasan emas. Kurangnya pendidikan, memang. Menimbang mana yang penting dan mana yang tidak penting. Tapi mentalitas miskin inilah yang membuat mereka menilai ’bungkus’ terlalu tinggi dan mengabaikan ’isi’. Menilai tinggi sesuatu yang tampak diluar dan mengabaikan tumbuh kembang didalam. Memilih membeli televisi dan dvd ketimbang membeli susu untuk gizi bayi-bayi mereka.

Saya jadi teringat cerita dikantor. Dalam obrolan lainnya. Bos baru saya, kebetulan orang India, bercerita bahwa dia sudah menjelajahi seluruh mall di jakarta dan dia takjub setiap kali memasukinya. Saya heran, memangnya di negeri asalnya tidak ada, dan dia dengan tegasnya mengatakan tidak ada. Ooh, saya paham, dia dulu di Bangalore, bukan pusat India. Aaah, tapi jika Bangalore disamakan dengan Semarang – sama-sama bukan ibu kota -- , masih timpang juga, bahkan di Semarang pun mall-mall besar berdiri megah.

Rekan kantor saya dengan sinisnya berkata, yah, itulah mentalitas Indonesia. Lihat, mall-mall mewah berdiri megah, sedangkan pusat pendidikan terabaikan. Buku-buku mahal sekali. India, lanjutnya, mungkin seperti bos saya bilang, no mall at all, atau setidaknya tidak ada yang semewah di Indonesia, tapi di Kompas pernah dimuat profil sekolah kedokteran terbaik di dunia dan adanya di sana. Hhh…

Rekan kantor lainnya berkata, adiknya yang kebetulan baru pulang dari menyelesaikan S3-nya di Inggris dengan herannya berkata handphone-handphone di Indonesia bagus-bagus ya. Semua handphone terbaru, ada dan dibeli. Sedang di Inggris yang notabene negara adidaya, gaungnya tidak seperti ini. Mmmh… saya jadi ingat beberapa kenalan saya yang menghabiskan gaji satu dua bulannya hanya untuk membeli handphone jenis terbaru. Padahal dia baru bekerja hitungan bulan. Style, des, katanya. Saya cuma menggeleng. Yah, antara paham dan heran, tapi inilah mentalitas masyarakat Indonesia kebanyakan. Lebih menyukai ‘bungkus’, daripada ‘isi’.

Mentalitas. Karakteristik. Apapun namanya, jika telah mendarah daging, berat untuk dilepas. Karena karakter itu ibarat otot. Otot-otot karakter akan menjadi lembek apabila tidak pernah dilatih. Sebaliknya, ia akan kuat dan kokoh kalau sering dipakai. Seperti seorang binaragawan yang terus menerus berlatih untuk membentuk ototnya. Otot-otot karakter juga akan terbentuk melalui praktik-praktik latihan, yang akhirnya akan menjadi kebiasaan.

Kembali pada forum diskusi pagi ini. Saya khawatir jika tidak ada yang berubah dengan mentalitas miskin bangsa ini tahun-tahun mendatang, KKB yang katanya merupakan usaha awal untuk meluncurkan kartu jaminan sosial untuk orang miskin akan justru memperberat masalah bangsa kita. Hahaa.... karena alasan sederhana, orang-orang justru akan berebut menjadi miskin dan malas bekerja. Wong, sekarang pun, ada satu BPS yang kebanjiran komplain masyarakat miskin sekian ribu orang, yang jika dihitung awal jumlah pendemo dengan masyarakat yang telah mendapat KKB totalnya 90% dari masyarakat keseluruhan. Ini berarti 90% nya masyarakat daerah tersebut miskin dong. Yupp !!!

Mengutip ucapannya Al Ghazali kalau akhlaq adalah tabiat atau kebiasaan dalam melakukan hal-hal yang baik. Jadi, karakter ’miskin’ tadi meski sudah menghujam jauh ke akar masyarakat kita baik menengah kebawah atau pun keatas, harus berusaha kita lepas. Dimulai dari unit terkecil kehidupan kita. Mustahil? Yakinlah, tidak kok. Berat? Tentunya. Tapi jika itu membuat kita jatuh dan terpuruk pada akhirnya, boleh kan kalau kita bangkit dan berdiri lagi ?

Hhhh.. banyak sekali yah pe er kita, ujar Teteh di ujung sana dengan senyum yang luar biasanya teduhnya. Kami mengangguk. Kuat tapi perlahan. Dan pagi pun beranjak siang.

“Virtue is the muscle tone that develops from daily and hourly training of spiritual warrior”

Karakter adalah kualitas otot yang terbentuk melalui latihan setiap hari dan setiap jam dari seorang pejuang spiritual.

(Tolbert Mc Caroll)

Terinspirasi oleh tulisannya Ratna Megawangi, pendiri dan Direktur Eksekutif Indonesia Heritage Foundation (IHF); sebuah yayasan yang bergerak dalam pengembangan model “Character-based Holistic Education”.

Friday, October 07, 2005

Sabrina Zakiyyah Amani

Namanya Sabrina Zakiyyah Amani….

Nama yang berat, menurut saya, sangat berat....

Seseorang yang sabar, berhati bersih dan beriman... pffyuhhh...

Selamat datang di dunia adik kecil, benar-benar berdoa agar kelak kau tumbuh seindah namamu...

Namanya Sabrina Zakiyyah Amani….

Pipinya bulat, kemerahan dengan rona segar membungkus...

Matanya terpejam, rapat, iyyalahh Des.. usianya baru hitungan hari..

Semua orang tersenyum bahagia...

Termasuk ibundanya, mesti meringis menahan sakit di ujung tempat tidur lainnya.

Yah, beberapa hari yang lalu, selepas waktu dhuha, hp saya menjerit, satu sms masuk. Mengabarkan Teh Tia melahirkan seorang putri cantik yang sehat. Tapi mohon doa karena Teh Tia harus masuk ruang ICU karena beberapa pembuluh darahnya pecah saat melahirkan. Saya meringis. Membayangkan rasa sakitnya. Dan gagal. Allah, batin saya...

Perempuan....

Perempuan....

Menyebutnya membanggakan ya. Haha.. Bukan karena saya juga perempuan. Tapi karena beberapa kejadian disekitar saya akhir-akhir ini membuat saya berpikir bahwa Allah menciptakan perempuan begitu kuat. Begitu kuatnya. Dan itu membuatnya begitu hebat. Hhh...

Kemarinnya, seorang teman saya dikantor. Sebut saja Mey. Tiba-tiba hampir semaput. Saya kaget. Dia memanggil nama saya. Dia sering sekali begitu. Niatnya biasanya menggoda saya, katanya saya kalau kerja terlampau kalem, seperti berada di alam lain. Jika saya menyahut, biasanya dia bilang : ‘iseng’. Ggrhh.. Tapi gadis 28 tahun ini teman terdekat saya. Baik sekali hatinya.

‘Mey, mey, jangan bercanda’ Dia tiba-tiba saja duduk lemas. Dan saya masih berpikir dia bercanda. Sampai saya dekati dan menatap raut wajahnya yang menahan sakit. Kontan saja saya panik. Dan teman-teman di booth terdekat jadi ikut panik. Akhirnya kami menggotongnya untuk berbaring di ruang sebelah. Dia benar-benar seperti bayi, cuma bisa berbaring melingkar. Sangat lemah.

Setelah diusut, ternyata ini hari pertamanya, got period. Ladies only !! Sibuklah kita menyediakan teh hangat, membeli Kiranti di AmPm bawah dan membuatnya senyaman mungkin dengan menumpuk-numpuk bantal. Lima belas menit lagi dokter kantor baru datang, jadi terpaksa menunggu. Di kantor ada dokter tetap yang menerima keluhan sakit para karyawan, tapi hanya beberapa jam saja di hari-hari tertentu. Setelah dokter datang, kami membawa Mey ke ruang periksa dokter.

Dokter bilang wajar hal seperti ini. Namanya dismonorea – benar ga ya nulisnya – nyeri saat haid. Akan lebih parah jika ada tekanan psikologis. Seperti beban kerjaan yang menumpuk, kondisi yang tidak harmonis di rumah dan lain-lain. Mey disarankan minum ponstan saja. Dia sudah bisa tersenyum sekarang. Akhirnya kami di booth saling bercerita tentang dismonorea. Kebetulan perempuan semua. Ada beberapa rekan kerja yang sudah berumur, ibu-ibu muda dan saya yang paling kecil. Ternyata ada yang lebih parah dari yang dialami Mey. Ada yang sampai benar-benar pingsan. Ada yang selalu mengambil cuti saat hari-hari pertama karena tidak bisa bangkit dari tempat tidur. Ada yang tidak bisa makan, karena bawaaanya pasti muntah. Parah nian. Dan ini terjadi tiap bulan. Duh, duh, perempuan...

Tiba-tiba sebuah peta tergambar di benak saya. Berat sekali menjadi perempuan. Sebelum melahirkan, dismonorea menghadang. Saat melahirkan, pembuluh darah pecah, ekalampsia, atau lain-lain yang ujungnya nyawa taruhannya. Ekalampsia – benar tidak ya tulisannya – itu keracunan kehamilan. Saya awam sekali istilah ini, mendengarnya saat teman booth sebelah mengalaminya. Sangat parah harusnya. Karena dia menjadi trauma berat akan melahirkan. Bahkan sudah divonis dokter tidak boleh melahirkan lagi.

Lalu pasca melahirkan, pikir saya, hal berat apa lagi ?

Dan pertanyaan saya terjawab saat seorang teman kantor mengabari bahwa ibundanya masuk rumah sakit, ruang opname, untuk operasi pengangkatan rahim besok paginya. Ternyata ada tumor disana. Salah satu penyakit menjelang dan pasca monopouse. Lainnya beragam, mulai dari stadium ringan hingga berat seperti kanker rahim. Masyaallah...

Pulang menjenguk Teh Tia, hujan menyelimuti bogor. Ada satu rasa menyelimuti. Masih tak bernama. Saya teringat bunda. Alangkah benarnya. Dalam islam perempuan ditempatkan dalam posisi yang begitu mulianya. Dijaga. Dilindungi. Dan dicintai.

Tuesday, October 04, 2005

....be inspired.....

Jumat sore, selepas maghrib, kereta pakuan tanah abang-depok-bogor,

Saya melihat iklan besar itu di Koran Tempo, punya seorang teman. Ia membentangkan koran itu lebar-lebar, sambil mencoba berdiri dengan satu tangan,

‘Lihat deh….’ Iklan itu besar, setengah halaman penuh.

‘Seratus juta lebih kali biayanya..’

Wooi, bukan itu, dia menunjukkan kalimat yang menarik perhatiannya

…FEUI, School of CEO….

Mmmhh…. ‘jadi, kapan jadi CEO? Atau owner company sendiri?’

Hhaha... Tawa pun berderai. Kebetulan kita anak FE, lalu mengalirlah obrolan tentang besok. Acara HUT FEUI yang ke-55. Yup, iklan besar yang saya lihat tadi adalah iklan Reuni Raya FEUI menyambut HUT nya yang ke-55. Iklan super mahal yang terakhir saya tahu berbiaya seratus lima puluh jutaan tapi karena buat FE, gratissss.....

Iklannya penuh info, mulai dari seminar CEO Summit, napak tilas, gerak jalan, sampai acara main golf bareng – oops, yang terakhir, bukan buat kita kali ya, masih ’rakyat jelata’ gito lho... Kami pun tertawa lagi..... duh, feui...

Sabtu yang super pagi, untuk sabtu sebenarnya ga ada kata ’pagi’, selaluu siang.....

Menurut saya, hanya pada hari sabtu minggu lah, jam badan semua orang berjalan seribu kali lebih lambat. Tapi sabtu kali ini, rasanya kalimat tadi tidak berlaku, FEUI banjir orang bahkan pada jam belum menunjukkan angka 7. Wwah, Subhanallah.... Mobil diparkir berjajar rapi sepanjang jalan hingga luber sampai jalan raya sebelah Sastra. Wuiihh, only FE can do that !!

Baliho besar di stasiun, depan FE, dan macam-macam iklan sponsor yang berjarak semeter-semeter di jalan menuju FE menyambut kedatangan saya, haha.. iyalah, ditengah hiruk pikuk arus orang berseragam yang beryel-yel sambil gerak jalan, saya naik ojek haha.. Wajar dong, ini sabtu sodara-sodara !! Dalam hati, pasti diomelin habis-habisan para KOALA-ers ( Korps Alumni Lab Akun – pen), disuruh datang jam setengah tujuh, jam tujuh baru datang, tapi ternyata mereka pun bahkan ada yang datang menjelang jam 9, pffiuhh, selamatt deh...

Memasuki pelataran parkir FEUI, ada rasa yang tiba-tiba begitu semerbak…FE begitu penuh orang sodara-sodara…..penuuuh sekali…. dan rasa itu bernama haru… Kapan ya saya terakhir lihat begitu banyak orang yang sangat natural, alami.... ada bapak, ibu, remaja , ABG, anak dan bayi-bayi… ada hha…ha…ha.. Spongebob, uuhh, I wish my sister came !!!

Di kantor pernah ada beberapa acara gede-gedean dengan tamu-tamu penting di Four Seassons dan Nikko’s, lengkap dengan atribut sesuai tema besar, tapi suasana yang saya tangkap berbeda. Di sini, lebiih mmmmh… ceriaa, mungkin karena ada matahari, dan hhh… yaah… sinarnya sampai ke hati…

Beberapa kali langkah saya terhenti, hhuuaahh... duh, bapak penjaga perpus dengan istri dan anaknya (parahh, saya visual sekali, sulit mengingat nama, hari ulang tahun dan hal-hal detail lainnya), sapanya ramah, tawanya lebar ..

“Mba, kenalkan ini istri saya, sekarang sedang mengandung delapan bulan… ini anak saya yang besar, ayo dek, salim …” Wadduh, terharu, bapak ini masih ingat saya saja…

Terus bapak satpam, bapak fotocopyan, bapak pengurus ekstension yang saya ingat karena saya nongkrongin ibu sylvi terus pas jaman-jaman ngejar setoran skripsi, terus.. wahh, banyak sekali, dan semuanya terlihat utuh. Mereka bersama istri/suami dan anak-anaknya. Lengkap. Sampai si bayi pun dibawa serta.

Terkadang kita mengenal seseorang dari satu sudut pandang tertentu. Ya, pribadi dan karakternya saja. Tapi jika kita mengenal keluarganya, pihak-pihak yang senantiasa menghapus lelahnya, mendukung dan ‘menjadikannya’ sehebat sekarang, lengkaplah sudah semua sudut pandang tadi.

Lalu, tatapan saya yang beredar terpaku pada spanduk besar itu : Welcome Home Alumni… Hhh…saya alumni ya. Baru setahun lewat, tapi saya jarang sekali datang ke FE, terakhir mungkin Maret ya, sehingga tiba-tiba seluruh kenangan berloncatan, tak terbendung.

Acara ini meriah. Sangat. Dan katanya lebih meriah dari peringatan HUT 50 tahun 2000 lalu. Ada dua panggung utama. Satu disebelah SC. Panggung besar tempat band, tari-tarian dan door prize berlangsung. Satu lagi melingkari stand-stand Angkatan di lapangan parkir depan Dekanat. Yang datang, hhmm.. oma-oma, opa-opa, om-om dan tante-tante. Stand termuda Angkatan 98. Dan tertua, wahh, ada tahun lahir saya : Angkatan 82. Tapi bukan, masih ada gerombolan Angkatan 55 yang super gaya dengan kaos bertulis seperti ini : ”55 will never die, we’re only a bit pikun”.

Hahaha.. betapa…betapa dan betapa... indahhnya….

Banyak orang lalu lalang, para pengurus FE yang kelelahan sehabis gerak jalan dengan seragamnya yang mencolok, para pejabat dan ”orang-orang sukses” yang napak tilas dan pembagian award di auditorium, only selected people invited, para oma-oma yang mengobrol panjang lebar di stand-stand belakang, dan sibuk membanggakan almamaternya pada setiap pengunjung standnya.

”Teman di angkatan kami ada yang jadi produser lho, itu lho film Dealova. Tahu kan ? Nanti juga ada jumpa artis... ”

Saya hanya manggut-manggut, itu film yang mana ya ? Film Indonesia bukan ? walahh..

Tapi saya dan seorang sahabat ( ga usah disebut namanya, ntar ge er setengah mati hehe.. ) justru terdampar dengan sukses di pojok depan air mancur yang menyemburkan air dengan indahnya. Bernostalgia, katanya. Duuh, romantiss banget, ga banget deh, we’re too young, dear... Hahaha..

Tapi begitulah, kembali ke FE seperti mencerabut beberapa helai cahaya dari langit dan menancapkannya di hati.. Selalu seperti ini. Segala cita, harap, perjuangan – apapun lingkup maknanya – menyergap seketika.

Menelusuri dinding demi dinding yang sekarang sudah putih polos tanpa mading warna warni di lobi A, menapaki tanjung lantai 1 gedung A yang diisi lomba anak pun menyeruak hadir, lalu memajukan jari demi jari di Papan Para Nominasi Award kategori Dosen Terbaik, Peneliti terbaik, Alumni Sukses etc etc memupuk cahaya langit itu tumbuh subur di hati.

Ada nama mba Sylvi disana, beberapa kali dinominasi. Mata saya berkabut. Bangga sekali melihat dosen kesayangan dan pembimbing skripsi saya disana. Muda. Berprestasi. Dan mengharukan… Berharap sepertimu, mba. Sangat. Doakan ya.

Helai cahaya langit tadi pun bertumbuh saat saya membolak balik buku HUT 55 FEUI, menatap lekat beberapa wajah yang dipajang dan dilabeli sebagai Alumni Sukses di berbagai bidang yang berkontribusi bagi bangsa tiba-tiba menyekat seluruh rasa. Ada foto Bang Rama Pratama disitu, termuda dan paling membanggakan. My favorite, hehe.. Lalu, mmh, sedikit sekali alumni perempuannya yang dianggap berkontribusi, bisa dihitung jari.

Buku ini kelihatan mahal. Seperti FE. Heyy, ada nama saya. Iyalah, seluruh angkatan 1945 sampai 2000 juga ada. Profil FSI juga ada ada, SPA dan organisasi lainnya pun ada. Meski akhirnya saya tidak jadi membeli buku tebal itu, hanya membalik tekun setiap lembarnya dan membuat adik kelas saya yang kebetulan bertugas jadi penjaga sedikit mengomel, saya menyukai setiap halamannya. Terutama tentang profil para alumni sukses. Ada beberapa ruang kosong disana. Untuk foto-foto selanjutnya, saya pikir.

Mmh, akankah ada foto kita disana ?

Hhhh........

Semuanya.. berpendarlah.. dengan kemilau sinarnya..

Biar helai cahaya langit tadi bertumbuh.. lalu menyeruak hebat.. tidak saja menyinari lingkar-lingkar kecil kita, tapi menyinari berjuta orang lainnya.....

Bismillah.. dengan hati menuju tenang.....

3 Oct 2005, 10:43 PM

Desi Novita Sari

Tuesday, September 06, 2005

Bunda, cinta itu, berbentukkah ?

16 Maret 2004
Bunda, cinta itu, berbentukkah ?

18 Maret 2004
Lalu, cinta bunda padaku, seperti apakah ?

5 April 2004
Saat hujan datang, saat rahmat Allah tercurah….turun dan berlimpah…
Saat hujan menghujam, rasa bahagia pun harusnya menelusup dalam..
karena dalam hujan ada cinta, ada anugerah ada cita yang semuanya penuh rasa….
Begitukan selalu kata bunda ?

17 April 2004
Alangkah indahnya jika kita berpikir secara sederhana…lurus…
Seperti bunda..
mencurahkan utuh seluruh peluh.. hanya untukku...

9 Mei 2004
Bunda... bisikku, mencintai itu, seperti apa rasanya ?

9 Juni 2004
hhhhh......indah sekali bunda, begitukah rasanya mencintai... ajari aku bunda, untuk mencintaimu..
mesti tertatih... seperti engkau mencintaiku.... mungkin tidak ya bunda ?

20 Juni 2004
bunda, jangan marah.. sungguh, jangan marah ya, sembilu itu sedemikian manis, harumnya semerbak.. dan aku terpikat, lekat, meski akhirnya jatuh dan lumpuh......

7 Juli 2004
Dahaga itu luar biasa ya bunda….
Inginnya lebih terus..tak putus dan tak henti…

9 Juli 2004
Bunda, mengapa luka harus dibasuh ? tidakkah lebih baik dibiarkan mengering saja ? Toh nanti pada saatnya akan mengelupas sendiri... Tapi mengapa harus bunda dekap? Mengapa harus bunda yang perih ?

27 Juli 2004
Ngilu itu, bunda, apakah rasa ataukah kata? Mengapa dingin dan kaku sekali ? Lalu mengapa menular bunda ? Lalu, bagaimana bunda bisa sembuh ?

3 Agustus 2004
Bunda lihaatt.. sayapku mulai tumbuh.. indah ya?
Menari yuk bunda, putari dunia, sambut pelangi...
Lega yang tak berujung... bersama bunda.....

5 Agustus 2004
Sulit sekali bunda, aku tidak sanggup.. sungguh, aku lelah, sedemikian letihnya.. peluk aku bunda, selalu.. tidak.. tidak.. jangan salahkan diri bunda, bukan salah siapa, hanya sedang berusaha mengepakkan sayap, tapi angin terlalu kencang....

16 Agustus 2004
bunda.. kehidupan di luar sana itu, sedemikian kejamkah ? apa makna hidup itu, bunda ? lalu, mengapa sedih mesti berwujud sedang bahagia melayang ? dimana cinta kasih bunda ? sudah pudarkah ? itu.. adil ya namanya ? sunnatullah menurut bunda ? lalu, mengapa dalam kamus bunda, hanya ada bahagia dan cinta ? apakah bunda bukan bagian dari kehidupan ? tercipta dari apakah bunda ? tidak dari tanah kah ? apakah dari gumpalan cinta dan cahaya ? karena hanya itu yang mengalir dari diri bunda.. untukku....

1 September 2004
Lalu, apa makna bahagia, bunda ? tidak sekedar tawa ? bukan hanya gerai senyum tentunya ? karena kerut merut itu masih utuh di kening bunda.. ada apakah bunda ? mengapa aku tidak mengerti jalan pikiran bunda ? aku baik-baik saja bunda.. sudah lepas semua cemas... langit di luar sedemikian biru... indaahh sekaliii....... bahagialah bunda, untukku....

13 November 2004
Bahagialah bunda... pintaku luruh.. bahagiaalahhh....

1 Desember 2004
Bunda, lirih sekali, kueja satu demi satu, rasanya luar biasa... hanya untuk bunda, kusimpan yang terbaik hanya untuk bunda... kubungkus jadi satu, matahari, bulan, langit biru, gunung hijau dan laut jernih, kuikat erat, kuserahkan pada bunda.. dengan cintaku, yang tak seberapa.....

Dedicated for Love of My Live, Heart of My Life, Best Friend I’ve Ever Had : My Mom….

Stay Humble, Be Honest, Work Hard, Pay Attention, and Wellcome Challenges !!!

Stay Humble, Be Honest, Work Hard, Pay Attention, and Wellcome Challenges !!!

Begitulah kata pengantarnya. Sebuah blogspot. Seorang teman. Fall in love with the words at the first time.

Humble adalah salah satu kata terindah yang Allah ciptakan. Teramat indah. Seindah guratan sinar saat menelusup dedaunan gelap.

Honest adalah kekuatan. Pendongkrak jiwa saat lemah mengukung. Penebar tonggak agar idealis tetap utuh berdiri. Meski sekelam dan sepahit apa pun diluar sana.

Work Hard adalah senjata. Layaknya sebilah pisau yang tumbuh menjadi pedang saat dihadapkan pada tank-tank baja yang siap melindas.

Pay Attention adalah kelembutan. Saat berbagi. Saat merasa. Saat butuh dan ingin jadi satu. Pelipur lara. Pelega dahaga. Lapang….

Wellcome Challenges adalah realita itu sendiri. Bagian perguliran arus dan waktu. Sebuah keniscayaan. Dan bersahabat dengannya adalah sebuah keharusan, bukan pilihan. Agar tidak lebur.

Effective performance is the result of predictable, planned actions that can be learned and applied by almost anyone in anywhere….

Paragraf pembukanya. Definitely agree, my friend !!

Seorang teman. Yang dikarunia Allah begitu banyak potensi kebaikan. Yang – saya yakinnya – akan tumbuh menjadi seorang dewasa yang bijak. Dalam melangkah dan mengukur langkah-langkahnya.

‘Kamu tahu orang yahudi itu seperti apa, des? Mereka itu benar-benar dikaruniai Allah kecerdasan. I see with my eyes ! Mereka peer work groupku di kampus !!! Dan aku sekarang semakin sadar kalau kita benar-benar bodoh ditipu oleh mereka.. Tahu kan kalo... ’

Seorang teman. Yang dititipi Allah sebuah sayap. Untuk terbang. Setinggi mungkin.....

’Untuk satu titik ya aku kemarin sempat mikir dalam kotak kelompok komunitas ada bangsa eropa, asia dan itu yang membedakan beberapa kebiasaan dan kemajuan. Yang ada selama ini dipikiranku itu iran itu seperti arab muslim tapi syiah, trus eropa itu orangnya berfikir maju padahal taunya enggak segitunya amat. Iran itu kan asalnya dari persia, kerajaan yang tersebut di alquran yang hancur saat kehadiran islam. Persia itu bangsa yang penuh pemikir cendikia, beda dengan bangsa arab yang punya angkatan perang terkuat tapi gak banyak yang pintar....’

Seorang teman. Yang senantiasa bergulat dengan pertanyaan-pertanyaan wajar dan hal-hal lumrah. Believe me, live goes on. Perlahan tapi terus bergulir…

Inginnya segera tahu ujung dari perputarannya, kebaikan tentunya…

Inginnya, kita bicara inginnya yah….

Tapi inginnya siapa?

Sedang kita siapa ?

Hanya makhluk lemah... Titik.

Jadi, mari memulai merajut hari dengan meniti inginnya Allah..

maunya Allah..

ridhonya Allah..

Sang Pemilik Hati....

Sebenar-benarnya...

’Des, harapan itu adalah salah satu ciptaan Allah untuk membuat kinerja hambanya melampaui batas karena dari harapan, bisa tercipta rencana. Dan dari rencana jadilah realita...’

Seorang teman. Yang mencari sejatinya bahagia. Sudah menemukankah ? Jangan cari diluar. Carilah jauh didalam. Karena sejatinya bahagia ada di dalam hati. Dalam syukur. Dalam iman. Itulah sejatinya bahagia….

Nothing, you can't find something extraordinary from me.

Blogspotnya ditutup kalimat itu dengan sempurna.

Saudaraku, setiap diri memang tiada yang istimewa. Biasa saja. Hanya tanah.

Tapi jika Allah telah begitu mempercayai seseorang dengan menitipkan begitu banyak potensi kebaikan yang tidak sembarang orang mendapatkannya, tidakkah itu sesuatu yang patut di pikirkan ?

Sesuatu yang berlebih ? Untuk digali ?

Tidakkah sadar bahwa disamping itu, Allah pun menitipkan tanggung jawab yang lebih untuk berbagi, dengan sesama, segala rasa, yang terindah ?

Dengan sebuah alasan sederhana. Karena Allah sedemikian adil.

Baiklah, Selamat Berjuang, Saudaraku !! Berputarlah terus, layaknya biduk kehidupan !!

Terbanglah setinggi mungkin !! Tebar seluas mungkin cahaya-Nya...

And thanks a lot for inspiring me so much.....

Monday, August 08, 2005

Bidadari Cantik yang Turun ke Bumi...

7 August 2005

Bismillah….

Namanya Yuni.

Dan menurutku, dia sudah menjelma menjadi bidadari cantik yang turun dari surga ke bumi…

Bogor siang, daerah pajajaran….

‘Pak, masih jauh ga gedung YPHB nya?’

‘Gak neng, deket kok…’

Hatiku ngedumel, dari tadi si abang supir angkot ini bilang deket mulu, tapi dari tadi ga nyampe-nyampe…Dasar bogor, bogor, dimana-mana di bilang dekat, meski jaraknya berjuta kali dekat.. Adikku sudah tertidur, poninya acak-acakan padahal dari tadi dia getol rapihin poninya yang keriwil dan gak jelas itu.. Hehe, dia sengaja kuajak kondangan, habis feeling guilty kebanyakan janjiin mau ajak main dan jalan-jalan tapi akunya gak pernah sempat..

Hhh.. Bogor berubah banyak, factory outlet sekarang dimana-mana, beberapa tahun lagi pasti mirip bandung, kota factory outlet deh…

Aku mulai lagi lihat peta di kartu undangan, lucu deh, des, des, selama 22 tahun hidupmu di bogor masih aja celingak celinguk nyari gedung... hahah… ada puisi didepannya…

‘……..pada akhirnya, sepasang burung kecil akan terbang, membuat sarangnya sendiri....

…………………………………………………………………………………………

……………terbang, terbanglah, sayang…. ‘

Undangan ini sederhana, tapi indah sekali… mungkin karena nama yang tertera disana begitu indahnya, seindah pribadinya..

Yang menikah kakak kelasku di SMU, saudara ngajiku, terpaut dua tahun usianya… dia pribadi yang unik, ramenya khas, persis iklan rokok itu lho, ‘ ga ada loe, ga rame..’ hehe.. tapi dia subhanallah sederhana dan tulus banget hatinya..

Taarufnya sangat singkat, dengan seseorang yang nama dan wajahnya belum pernah terlintas sekalipun, tapi jodoh itu rahasia Allah yang paling indah, terkadang ga logis dan seringnya unpredictable..

Tapi perjuangan mereka agak tersendat dan takes time lumayan lama saat melenggang menuju pernikahan. Hal klasiklah, financial.

‘Aduh, ikhwan itu benar-benar deh… kalau belum siap... duh...’ curhatnya dulu

’Yun, sabar.. tawakal, sayang’.. yang lain mengingatkan..

Hhh... aku menatap wajah manis didepanku ini, ikhwan itu berani ceritanya, saat akan melangsungkan walimah, ia cuma mengantungi uang tiga juta rupiah, jelas si teteh lumayan panik, menikah di rumah saja minimal sepuluh juta, sedang ia tidak ingin merepotkan orangtuanya, prinsipnya sebisa mungkin menggunakan kantung sendiri. Sudah cukup orangtua membiayai kita sedari kecil, tapi jangan sampai untuk pernikahan kita pun dibiayai, begitu prinsipnya. Teteh ini seorang guru TK. Sedang ikhwannya berwiraswasta kecil-kecilan sambil meneruskan sekolahnya...

Untuk beberapa saat, semuanya terasa kacau, ikhwannya ternyata baru sadar akan hal ini, ’..ana pikir uang segitu cukup, tapi ternyata tidak ya..’ duh, bener-bener deh, semuanya gemes, tapi yah realitanya sering begitu, kebanyakan ikhwan terkadang tidak menyadari nilai uang sekarang berapa....

’....ya, ana akan cari dulu kurangnya....’ laki-laki berani, bertanggung jawab dan hebat menurutku !

Dan Allah memang sayang orang-orang yang hatinya bersih.... dan lalu semuanya terasa dimudahkan, jangankan untuk menikah di rumah, akhirnya mereka menikah di gedung yang gratis biaya sewanya.. !! Subhanallah... lalu, anak-anak ILNA turun tangan semua -- teteh ini lulusan IPB, tapi aktivis sekali, buku-bukunya yang terbit dan beredar di pasaran on behalf ILNA name lumayan jumlahnya, jangan dipikir royaltinya besar ya, sekedar royalti pelepas lelah, maklum buku dakwah --, lalu adik-adik binaanya, dan keluarga besar PKS daerah bogor timur, calonnya ini memegang amanah lumayan berat di daerahnya.

Hanya satu kata, SUBHANALLAH... betapa besarnya pertolongan Allah...

’Neng, kayanya kelewatan deh...’ memutus lamunanku....

’Aduuh si bapak.. tadi bilangnya tahu...’ tergesa membangunkan adekku, dan berdiri bengong di pinggir jalan.. mesti nyebrang lagi terus putar arah ya.. hhhh.. eh, tapi kulihat janur kuning melambai indah, alhamdulillah ternyata tepat kok... gedungnya sendiri agak masuk gang....

Suasananya ramai, jam sebelas lewat lima menit, resepsinya baru dimulai lima menit yang lalu.... gedungnya luas, sederhana tapi indah... banyak banget penggalan kenangan dari masa SMU melintas, reunian SMU gini judulnya..

’Dessiii..... ’ seseorang dengan hp ditangannya melambai di ujung sana.. aku mendekat..

’....iya akhi, ya antumlah yang urus, kan proposal doang.. sisanya ana yang atur..’ klik, hp ditutup, dan rindu pun dilepas. Another aktivis akhwat, mesti dunia kerja menyapa, ghirohnya ga pupus, aku menyebut akhwat yang kupeluk ini bidadari cantik lainnya diantara begitu banyak bidadari cantik di sini. Akhwat-akhwat dengan aurat tertutup rapat. Menjaga teguh kehormatannya.

Duh, mengapa masih ada yang bingung memilih bidadari ya, lihatlah disini begitu banyak bidadari, berwajah tulus. Andai bisa melihat dengan jernih, akhwat-akhwat ini dengan jilbab lebar dan pribadi emas layaknya bidadari yang sayapnya disembunyikan... Cantik luar biasa....

Hhh... mengantri makanan, tumben adikku ga bandel, dia hanya kagum melihat begitu banyak mba-mba ramah berjilbab lebar yang menyapanya sayang...

Aku terharu melihat makanannya, hasil perjuangan, apapun bentuknya, rasanya luar biasa lezat. Pandanganku menyapu, derai tawa renyah beserta nasyid pernikahan yang terasa membelai telinga...

Lalu saatnya mengantri, memberi ucapan selamat dan doa pada pejuang di pelaminan.. Aku memeluknya... speechless.. teteh sudah sempurna jadi bidadari, tidak perlu pakai kata...

’am i pretty?’ tanyanya cemas ditelingaku..

‘banget !!!’ ujarku mantap… dandanannya sederhana, tapi binar wajahnya berkilau indah…

‘serius?’

’teteh sangat cantik, aa nya juga ganteng euyy..oopss ga boleh ya, udah jadi suami orang hehhee..dan gedungnya indah, makanannya lezat.. pesta teteh sukses’ rangkulku erat…

Dia tersenyum lebar…

Jadi terngiang ucapnya dulu, ga mirip seperti ini, tapi maknanya sama, ini versi Mencintai Bidadari-nya Sakti Wibowo … ‘ jika telah datang meminang kepada wanita, seorang laki-laki yang tidak diragukan lagi keimanannya, pantaskah bagi wanita itu untuk menolak? Padahal, bagi laki-laki itu telah disediakan bidadari-bidadari surga yang cantik jelita. Apakah wanita itu merasa lebih jelita dari bidadari surga sehingga merasa pantas untuk menolaknya?’

Hhhh..... teteh sayang, teteh sekarang telah menjelma menjadi bidadari, bidadari yang turun dari surga, menapak ke bumi.... barakallahu ya.. banyak doa untuk teteh....

Ps. Taken from my diary on august 7, 2005, name above not real actually, but she is – my beloved sister -- indeed real person...

Wednesday, August 03, 2005

KL i'm coming...

Bismillah..

What should I write on this….

hidup hanya terus bergulir, seperti biasanya, seperti apa adanya…

tahapan demi tahapan….

toh berjuang pun sudah dilucuti kekuatannya…

berdosa pada waktu dan durhaka pada tekad dan komitmen…

tidak empati dan jauh dari simpati…

oh…malunya menghadap Ilahi…

malunya menyandang peran dan posisi…

sungguh durhaka tak bertepi….

tapi kelu pun jadi gagu, terkelupas secara paksa atau memang pada dasarnya tidak ada pelapisnya?? Cuma semangat yang menggelora sedang asanya melantai dan merembes…

hanya tinggalkan guratan basah yang seketika mengering ditiup debu…

duhai Allah, penguasa setiap hati yang berlabuh, berlayar atau pun mengambang di lautan lepas tanpa satu titik persinggahan …

duhai Ilahi…penggenggam setiap helaian kekuatan yang menguap dan membumi dengan menitik…

jika harap dan upaya berpadu dalam kepatuhan, izinkanlah mengalir dalam syahdu cintaMu…

menguak seluruh pilu dan kelabu yang terkadang singgah tak menetap…

karena….

karena…

dahaga ini luar biasa…

sedang kelemahan sedemikian nyata…

seringnya membutakan…

...........................................................................................

lumpuh saat menuai rindu…………………………….

maka………..

izinkanlah….

saja…….

hanya itu…..

tidak lebih……

Di bandara.. bandara international Kuala Lumpur….

Aku bengong di depan tiket GIA, mmhh.. sudah check in kok. Tapi ternyata masih tiga jam lagi.. ke mana ya, bandara ini luaass sekali, kaya mall super gede, ada gerai-gerai ekslusif bertebaran rapi, mulai Da Vinnci sampai Gerai Parfum yang namanya terdengar seekslusif harganya.. Dan aku ga tahu kalau harganya semahal itu, sampai gemeteran taruh lagi barangnya gara2 baca harganya, gawat kalau jatuh, bisa2 jadi TKW di Malaysia hahaha....Waduh desi, kamu ndeso sekaliii...

Bandara ini bersih, indah, ramah dan santun, aku benar-benar dibantu, disini laki-lakinya gentleman semua, ga seperti di Indonesia, ada perempuan ngos-ngosan bawa koper aja cuek ga kira-kira..... heran, mengapa sedemikian jauh bedanya dengan bandara Soekarno Hatta di Jakarta yang suram, suka korupsi, tidak empati ? Hahaha... short question yang sering sekali kutanyakan, padahal masih satu rumpun, tapi mengapa sedemikian berbeda? Apa yang salah atau dimanakah letak salahnya? Hhhh, stop thinking desii!!! , jadi ngilu bawaannya......

Ada orang india dengan sarinya lewat melenggang... jadi teringat Chitra, dia represent IBM India yang ikut class ini, Chitra cantik sekali, seperti putri, dia bangga pakai sari, ini pakaian perempuan India, desi, ujarnya......

Jadi teringat malam pertama, saat di Mid Valley nunggu Monorail mau balik ke Hilton di KL Sentral ( di KL ada tiga perusahaan swasta yang bergerak di bidang perkeretaapian, kereta apinya bagus deh, lebih bagus dari pakuan hiabahan jepang itu ), Chitra nangis pelan, dia teringat suaminya, baru menikah 4 bulan, dia rindu sekali India.... hhh, i’ve told you guys, gak ada satu tempat terindah pun di dunia ini seindah home... even tinggal di hotel mewah dengan pelayanan super ekslusif ( IBM royal memanjakan karyawannya, tapi kalau uang saku, walah, cuma buat lunch dan dinner aja, tok ! ), still miss home....

Di sini, gadis-gadis melayu cantik-cantik dan mereka pun bangga pakai baju kurung dengan jilbabnya.. hhmm.. hitung deh yang pakai blazer ke kantor, bahkan kantor se multinasional IBM pun, jika dia melayu, dia lebih senang baju kurung... bagaimana ya membangun mental seperti itu? Jika di Indonesia, nah lho des, mulai lagi dehh...

Kemarinnya, pas aku dan Chitra nyasar hampir masuk bar, padahal niat ke Sungei Wang....wadduh hahaa... dia bilang dia senang kenal muslimah seperti aku, ehhemm.. bukan begitu, dan ga bermaksud narsis kok.. tapi di India, muslimah itu bercadar dan menakutkan ujarnya, umur sepertimu desi, mereka tidak boleh keluar rumah, apalagi sekolah dan bekerja, mereka tinggal di rumah, menikah dan memliki empat orang anak minimal... hhh.. again... aku berusaha menjelaskan, itu budaya, islam tidak seperti itu.. please look at me chitra, i got degree from national university, and now I’m working in IBM, and being representative from IBM Indonesia… dan dia mengangguk pasti, aku tahu desi, aku bangga pada orang-orang sepertimu, jika muslim India sepertimu semua, mungkin kami tidak akan ada konflik berkepanjangan seperti sekarang… hhh…. Pe er kita sedemikian banyak……..

Aku lebih dekat dengan chitra, mmh.. bahasa inggrisku paraahh sekali, bahasa inggris chitra bagus sekali, aku ngiri setengah mati.. tapi lebih klik jalan dengan chitra, karena yang dari Singapore dan Philiphin ibu-ibu yang bicara bayinya terus, mereka kalau ngobrol suka lupa sekitar atau melupakan orang yang berusaha bicara patah-patah, yah.. that’s me... hiikss... Ada satu lagi, gadis Thailand, tapi dia bersama adiknya, jadi ya aku dengan Chitra....

Classku seharian, dimulai habis breakfast sampai jam 7 malam... setelahnya, kita baru jalan-jalan keliling KL.... KL itu kaku, hahaha.. mau tahu ga kenapa, karena ga ada orang lantung-lantung di jalan, semua orang bekerja, di jalan cuma ada besi dan besi... all machine.... dan believe it or not, aku cuma nemu satu pengemis.. Cuma satu... gak kebayang deh kalau di jakarta.. temenku bilang, kamu belum lihat aja pedalamannya, sama aja dengan negeri kita…. Hhhmm, mungkin ya, tapi kan kantorku di sudirman, pusat jakarta, but... hhhh.....desi, mengeluh teruss, mengeluh itu tanda iman yang ringkih !!!

KL rapih deh, dari jendela tempat classku di IBM Malaysia, rumah-rumah rapih berderet, gak semrawut kaya jakarta, jalan-jalan rapih terbentang, dan masjid yang biru itu indah sekalii.... duhh, kenapa mesti sangat begitu berbeda ya ?

Hhhh... masih tentang Chitra, kemarinnya lagi, saat di Putra ( Putra itu nama perusahaan kereta lainnya ), dia bilang dia hanya ingin punya anak satu, selebihnya dia akan mengadopsi anak... banyak anak yatim piatu di India desi... egois sekali aku kalau melahirkan anak tapi mengabaikan mereka... hhhmm.. begitu ya.. hatinya baik sekali, meski ada beberapa hal yang aku debatkan, sesekali, karena terbatasnya vocabularyku.. hikss.. lalu dia cerita tentang banyak hal, aku jadi pendengar begini, tumben banget, dia cerita tentang rumah-rumah di India, tentang suaminya yang baru dinikahinya, tentang keinginannya untuk tinggal di rumah saja dan mengurus anak, i asked my husband to resign from his job and find another which have better salary, so i can resign from IBM and being house wife... terharu aku mendengarnya, yahh.. perempuan pekerja tetaplah perempuan juga, yang basically bernaluri seorang ibu, itu sangat alamiah, dimiliki setiap perempuan di dunia... sedang dunia kerja sedemikian kerasnya, gadis dari Filipina itu sedang hamil dua bulan, yang Singapore punya bayi tiga bulan.. hhhh….

Teringat ucapan Aida disini – IBM Malaysia – banyak sekali wanita single parent karena cerai, banyak yang usianya menjelang pertengahan tiga puluh tapi belum juga menikah… yah, maklumnya, ujarnya sambil tertawa, masuk jam 8 pulang jam 10 malam… hahaha…tutupnya sambil tertawa miris… tapi itu common banget disini desi… hhhh.. wanita-wanita ini sangat produktif kupikir, muslimah melayu dengan baju kurung dan jilbabnya, tapi jika efeknya berantai pada generasi selanjutnya ?

Aku beranjak dari dudukku, sambil mulai menghitung sisa ringgitku, rasaya haus, minum Teh Tarik mungkin oke juga… ( hehehe, jadi ngakak sendiri ingat hari pertama tahu Teh Tarik, berantem dulu dengan pelayannya di Central Market, ini bukan Teh, ini susu, hehehe….)

Pandangaku menyapu, duh, rumah, kangen sekaliii…………