Tuesday, September 06, 2005
Bunda, cinta itu, berbentukkah ?
Bunda, cinta itu, berbentukkah ?
18 Maret 2004
Lalu, cinta bunda padaku, seperti apakah ?
5 April 2004
Saat hujan datang, saat rahmat Allah tercurah….turun dan berlimpah…
Saat hujan menghujam, rasa bahagia pun harusnya menelusup dalam..
karena dalam hujan ada cinta, ada anugerah ada cita yang semuanya penuh rasa….
Begitukan selalu kata bunda ?
17 April 2004
Alangkah indahnya jika kita berpikir secara sederhana…lurus…
Seperti bunda..
mencurahkan utuh seluruh peluh.. hanya untukku...
9 Mei 2004
Bunda... bisikku, mencintai itu, seperti apa rasanya ?
9 Juni 2004
hhhhh......indah sekali bunda, begitukah rasanya mencintai... ajari aku bunda, untuk mencintaimu..
mesti tertatih... seperti engkau mencintaiku.... mungkin tidak ya bunda ?
20 Juni 2004
bunda, jangan marah.. sungguh, jangan marah ya, sembilu itu sedemikian manis, harumnya semerbak.. dan aku terpikat, lekat, meski akhirnya jatuh dan lumpuh......
7 Juli 2004
Dahaga itu luar biasa ya bunda….
Inginnya lebih terus..tak putus dan tak henti…
9 Juli 2004
Bunda, mengapa luka harus dibasuh ? tidakkah lebih baik dibiarkan mengering saja ? Toh nanti pada saatnya akan mengelupas sendiri... Tapi mengapa harus bunda dekap? Mengapa harus bunda yang perih ?
27 Juli 2004
Ngilu itu, bunda, apakah rasa ataukah kata? Mengapa dingin dan kaku sekali ? Lalu mengapa menular bunda ? Lalu, bagaimana bunda bisa sembuh ?
3 Agustus 2004
Bunda lihaatt.. sayapku mulai tumbuh.. indah ya?
Menari yuk bunda, putari dunia, sambut pelangi...
Lega yang tak berujung... bersama bunda.....
5 Agustus 2004
Sulit sekali bunda, aku tidak sanggup.. sungguh, aku lelah, sedemikian letihnya.. peluk aku bunda, selalu.. tidak.. tidak.. jangan salahkan diri bunda, bukan salah siapa, hanya sedang berusaha mengepakkan sayap, tapi angin terlalu kencang....
16 Agustus 2004
bunda.. kehidupan di luar sana itu, sedemikian kejamkah ? apa makna hidup itu, bunda ? lalu, mengapa sedih mesti berwujud sedang bahagia melayang ? dimana cinta kasih bunda ? sudah pudarkah ? itu.. adil ya namanya ? sunnatullah menurut bunda ? lalu, mengapa dalam kamus bunda, hanya ada bahagia dan cinta ? apakah bunda bukan bagian dari kehidupan ? tercipta dari apakah bunda ? tidak dari tanah kah ? apakah dari gumpalan cinta dan cahaya ? karena hanya itu yang mengalir dari diri bunda.. untukku....
1 September 2004
Lalu, apa makna bahagia, bunda ? tidak sekedar tawa ? bukan hanya gerai senyum tentunya ? karena kerut merut itu masih utuh di kening bunda.. ada apakah bunda ? mengapa aku tidak mengerti jalan pikiran bunda ? aku baik-baik saja bunda.. sudah lepas semua cemas... langit di luar sedemikian biru... indaahh sekaliii....... bahagialah bunda, untukku....
13 November 2004
Bahagialah bunda... pintaku luruh.. bahagiaalahhh....
1 Desember 2004
Bunda, lirih sekali, kueja satu demi satu, rasanya luar biasa... hanya untuk bunda, kusimpan yang terbaik hanya untuk bunda... kubungkus jadi satu, matahari, bulan, langit biru, gunung hijau dan laut jernih, kuikat erat, kuserahkan pada bunda.. dengan cintaku, yang tak seberapa.....
Dedicated for Love of My Live, Heart of My Life, Best Friend I’ve Ever Had : My Mom….
Stay Humble, Be Honest, Work Hard, Pay Attention, and Wellcome Challenges !!!
Stay Humble, Be Honest, Work Hard, Pay Attention, and Wellcome Challenges !!!
Begitulah kata pengantarnya. Sebuah blogspot. Seorang teman. Fall in love with the words at the first time.
Humble adalah salah satu kata terindah yang Allah ciptakan. Teramat indah. Seindah guratan sinar saat menelusup dedaunan gelap.
Honest adalah kekuatan. Pendongkrak jiwa saat lemah mengukung. Penebar tonggak agar idealis tetap utuh berdiri. Meski sekelam dan sepahit apa pun diluar
Work Hard adalah senjata. Layaknya sebilah pisau yang tumbuh menjadi pedang saat dihadapkan pada tank-tank baja yang siap melindas.
Pay Attention adalah kelembutan. Saat berbagi. Saat merasa. Saat butuh dan ingin jadi satu. Pelipur lara. Pelega dahaga. Lapang….
Wellcome Challenges adalah realita itu sendiri. Bagian perguliran arus dan waktu. Sebuah keniscayaan. Dan bersahabat dengannya adalah sebuah keharusan, bukan pilihan. Agar tidak lebur.
Effective performance is the result of predictable, planned actions that can be learned and applied by almost anyone in anywhere….
Paragraf pembukanya. Definitely agree, my friend !!
Seorang teman. Yang dikarunia Allah begitu banyak potensi kebaikan. Yang – saya yakinnya – akan tumbuh menjadi seorang dewasa yang bijak. Dalam melangkah dan mengukur langkah-langkahnya.
‘Kamu tahu orang yahudi itu seperti apa, des? Mereka itu benar-benar dikaruniai Allah kecerdasan. I see with my eyes ! Mereka peer work groupku di kampus !!! Dan aku sekarang semakin sadar kalau kita benar-benar bodoh ditipu oleh mereka.. Tahu kan kalo... ’
Seorang teman. Yang dititipi Allah sebuah sayap. Untuk terbang. Setinggi mungkin.....
’Untuk satu titik ya aku kemarin sempat mikir dalam kotak kelompok komunitas ada bangsa eropa, asia dan itu yang membedakan beberapa kebiasaan dan kemajuan. Yang ada selama ini dipikiranku itu iran itu seperti arab muslim tapi syiah, trus eropa itu orangnya berfikir maju padahal taunya enggak segitunya amat. Iran itu kan asalnya dari persia, kerajaan yang tersebut di alquran yang hancur saat kehadiran islam. Persia itu bangsa yang penuh pemikir cendikia, beda dengan bangsa arab yang punya angkatan perang terkuat tapi gak banyak yang pintar....’
Seorang teman. Yang senantiasa bergulat dengan pertanyaan-pertanyaan wajar dan hal-hal lumrah. Believe me, live goes on. Perlahan tapi terus bergulir…
Inginnya segera tahu ujung dari perputarannya, kebaikan tentunya…
Inginnya, kita bicara inginnya yah….
Tapi inginnya siapa?
Sedang kita siapa ?
Hanya makhluk lemah... Titik.
Jadi, mari memulai merajut hari dengan meniti inginnya Allah..
maunya Allah..
ridhonya Allah..
Sang Pemilik Hati....
Sebenar-benarnya...
’Des, harapan itu adalah salah satu ciptaan Allah untuk membuat kinerja hambanya melampaui batas karena dari harapan, bisa tercipta rencana. Dan dari rencana jadilah realita...’
Seorang teman. Yang mencari sejatinya bahagia. Sudah menemukankah ? Jangan cari diluar. Carilah jauh didalam. Karena sejatinya bahagia ada di dalam hati. Dalam syukur. Dalam iman. Itulah sejatinya bahagia….
Nothing, you can't find something extraordinary from me.
Blogspotnya ditutup kalimat itu dengan sempurna.
Saudaraku, setiap diri memang tiada yang istimewa. Biasa saja. Hanya tanah.
Tapi jika Allah telah begitu mempercayai seseorang dengan menitipkan begitu banyak potensi kebaikan yang tidak sembarang orang mendapatkannya, tidakkah itu sesuatu yang patut di pikirkan ?
Sesuatu yang berlebih ? Untuk digali ?
Tidakkah sadar bahwa disamping itu, Allah pun menitipkan tanggung jawab yang lebih untuk berbagi, dengan sesama, segala rasa, yang terindah ?
Dengan sebuah alasan sederhana. Karena Allah sedemikian adil.
Baiklah, Selamat Berjuang, Saudaraku !! Berputarlah terus, layaknya biduk kehidupan !!
Terbanglah setinggi mungkin !! Tebar seluas mungkin cahaya-Nya...
And thanks a lot for inspiring me so much.....
Monday, August 08, 2005
Bidadari Cantik yang Turun ke Bumi...
Bismillah….
Namanya Yuni.
Dan menurutku, dia sudah menjelma menjadi bidadari cantik yang turun dari surga ke bumi…
‘Pak, masih jauh ga gedung YPHB nya?’
‘Gak neng, deket kok…’
Hatiku ngedumel, dari tadi si abang supir angkot ini bilang deket mulu, tapi dari tadi ga nyampe-nyampe…Dasar bogor, bogor, dimana-mana di bilang dekat, meski jaraknya berjuta kali dekat.. Adikku sudah tertidur, poninya acak-acakan padahal dari tadi dia getol rapihin poninya yang keriwil dan gak jelas itu.. Hehe, dia sengaja kuajak kondangan, habis feeling guilty kebanyakan janjiin mau ajak main dan jalan-jalan tapi akunya gak pernah sempat..
Hhh..
Aku mulai lagi lihat peta di kartu undangan, lucu deh, des, des, selama 22 tahun hidupmu di bogor masih aja celingak celinguk nyari gedung... hahah… ada puisi didepannya…
‘……..pada akhirnya, sepasang burung kecil akan terbang, membuat sarangnya sendiri....
…………………………………………………………………………………………
……………terbang, terbanglah, sayang…. ‘
Undangan ini sederhana, tapi indah sekali… mungkin karena nama yang tertera disana begitu indahnya, seindah pribadinya..
Yang menikah kakak kelasku di SMU, saudara ngajiku, terpaut dua tahun usianya… dia pribadi yang unik, ramenya khas, persis iklan rokok itu lho, ‘ ga ada loe, ga rame..’ hehe.. tapi dia subhanallah sederhana dan tulus banget hatinya..
Taarufnya sangat singkat, dengan seseorang yang nama dan wajahnya belum pernah terlintas sekalipun, tapi jodoh itu rahasia Allah yang paling indah, terkadang ga logis dan seringnya unpredictable..
Tapi perjuangan mereka agak tersendat dan takes time lumayan lama saat melenggang menuju pernikahan. Hal klasiklah, financial.
‘Aduh, ikhwan itu benar-benar deh… kalau belum siap... duh...’ curhatnya dulu
’Yun, sabar.. tawakal, sayang’.. yang lain mengingatkan..
Hhh... aku menatap wajah manis didepanku ini, ikhwan itu berani ceritanya, saat akan melangsungkan walimah, ia cuma mengantungi uang tiga juta rupiah, jelas si teteh lumayan panik, menikah di rumah saja minimal sepuluh juta, sedang ia tidak ingin merepotkan orangtuanya, prinsipnya sebisa mungkin menggunakan kantung sendiri. Sudah cukup orangtua membiayai kita sedari kecil, tapi jangan sampai untuk pernikahan kita pun dibiayai, begitu prinsipnya. Teteh ini seorang guru TK. Sedang ikhwannya berwiraswasta kecil-kecilan sambil meneruskan sekolahnya...
Untuk beberapa saat, semuanya terasa kacau, ikhwannya ternyata baru sadar akan hal ini, ’..ana pikir uang segitu cukup, tapi ternyata tidak ya..’ duh, bener-bener deh, semuanya gemes, tapi yah realitanya sering begitu, kebanyakan ikhwan terkadang tidak menyadari nilai uang sekarang berapa....
’....ya, ana akan cari dulu kurangnya....’ laki-laki berani, bertanggung jawab dan hebat menurutku !
Dan Allah memang sayang orang-orang yang hatinya bersih.... dan lalu semuanya terasa dimudahkan, jangankan untuk menikah di rumah, akhirnya mereka menikah di gedung yang gratis biaya sewanya.. !! Subhanallah... lalu, anak-anak ILNA turun tangan semua -- teteh ini lulusan IPB, tapi aktivis sekali, buku-bukunya yang terbit dan beredar di pasaran on behalf ILNA name lumayan jumlahnya, jangan dipikir royaltinya besar ya, sekedar royalti pelepas lelah, maklum buku dakwah --, lalu adik-adik binaanya, dan keluarga besar PKS daerah bogor timur, calonnya ini memegang amanah lumayan berat di daerahnya.
Hanya satu kata, SUBHANALLAH... betapa besarnya pertolongan Allah...
’Neng, kayanya kelewatan deh...’ memutus lamunanku....
’Aduuh si bapak.. tadi bilangnya tahu...’ tergesa membangunkan adekku, dan berdiri bengong di pinggir jalan.. mesti nyebrang lagi terus putar arah ya.. hhhh.. eh, tapi kulihat janur kuning melambai indah, alhamdulillah ternyata tepat kok... gedungnya sendiri agak masuk gang....
Suasananya ramai, jam sebelas lewat lima menit, resepsinya baru dimulai lima menit yang lalu.... gedungnya luas, sederhana tapi indah... banyak banget penggalan kenangan dari masa SMU melintas, reunian SMU gini judulnya..
’Dessiii..... ’ seseorang dengan hp ditangannya melambai di ujung sana.. aku mendekat..
’....iya akhi, ya antumlah yang urus, kan proposal doang.. sisanya ana yang atur..’ klik, hp ditutup, dan rindu pun dilepas. Another aktivis akhwat, mesti dunia kerja menyapa, ghirohnya ga pupus, aku menyebut akhwat yang kupeluk ini bidadari cantik lainnya diantara begitu banyak bidadari cantik di sini. Akhwat-akhwat dengan aurat tertutup rapat. Menjaga teguh kehormatannya.
Duh, mengapa masih ada yang bingung memilih bidadari ya, lihatlah disini begitu banyak bidadari, berwajah tulus. Andai bisa melihat dengan jernih, akhwat-akhwat ini dengan jilbab lebar dan pribadi emas layaknya bidadari yang sayapnya disembunyikan... Cantik luar biasa....
Hhh... mengantri makanan, tumben adikku ga bandel, dia hanya kagum melihat begitu banyak mba-mba ramah berjilbab lebar yang menyapanya sayang...
Aku terharu melihat makanannya, hasil perjuangan, apapun bentuknya, rasanya luar biasa lezat. Pandanganku menyapu, derai tawa renyah beserta nasyid pernikahan yang terasa membelai telinga...
Lalu saatnya mengantri, memberi ucapan selamat dan doa pada pejuang di pelaminan.. Aku memeluknya... speechless.. teteh sudah sempurna jadi bidadari, tidak perlu pakai kata...
’am i pretty?’ tanyanya cemas ditelingaku..
‘banget !!!’ ujarku mantap… dandanannya sederhana, tapi binar wajahnya berkilau indah…
‘serius?’
’teteh sangat cantik, aa nya juga ganteng euyy..oopss ga boleh ya, udah jadi suami orang hehhee..dan gedungnya indah, makanannya lezat.. pesta teteh sukses’ rangkulku erat…
Dia tersenyum lebar…
Jadi terngiang ucapnya dulu, ga mirip seperti ini, tapi maknanya sama, ini versi Mencintai Bidadari-nya Sakti Wibowo … ‘ jika telah datang meminang kepada wanita, seorang laki-laki yang tidak diragukan lagi keimanannya, pantaskah bagi wanita itu untuk menolak? Padahal, bagi laki-laki itu telah disediakan bidadari-bidadari surga yang cantik jelita. Apakah wanita itu merasa lebih jelita dari bidadari surga sehingga merasa pantas untuk menolaknya?’
Hhhh..... teteh sayang, teteh sekarang telah menjelma menjadi bidadari, bidadari yang turun dari surga, menapak ke bumi.... barakallahu ya.. banyak doa untuk teteh....
Ps. Taken from my diary on august 7, 2005, name above not real actually, but she is – my beloved sister -- indeed real person...
Wednesday, August 03, 2005
KL i'm coming...
Bismillah..
What should I write on this….
hidup hanya terus bergulir, seperti biasanya, seperti apa adanya…
tahapan demi tahapan….
toh berjuang pun sudah dilucuti kekuatannya…
berdosa pada waktu dan durhaka pada tekad dan komitmen…
tidak empati dan jauh dari simpati…
oh…malunya menghadap Ilahi…
malunya menyandang peran dan posisi…
sungguh durhaka tak bertepi….
tapi kelu pun jadi gagu, terkelupas secara paksa atau memang pada dasarnya tidak ada pelapisnya?? Cuma semangat yang menggelora sedang asanya melantai dan merembes…
hanya tinggalkan guratan basah yang seketika mengering ditiup debu…
duhai Allah, penguasa setiap hati yang berlabuh, berlayar atau pun mengambang di lautan lepas tanpa satu titik persinggahan …
duhai Ilahi…penggenggam setiap helaian kekuatan yang menguap dan membumi dengan menitik…
jika harap dan upaya berpadu dalam kepatuhan, izinkanlah mengalir dalam syahdu cintaMu…
menguak seluruh pilu dan kelabu yang terkadang singgah tak menetap…
karena….
karena…
dahaga ini luar biasa…
sedang kelemahan sedemikian nyata…
seringnya membutakan…
...........................................................................................
lumpuh saat menuai rindu…………………………….
maka………..
izinkanlah….
saja…….
hanya itu…..
tidak lebih……
Di bandara.. bandara international Kuala Lumpur….
Aku bengong di depan tiket GIA, mmhh.. sudah check in kok. Tapi ternyata masih tiga jam lagi.. ke mana ya, bandara ini luaass sekali, kaya mall super gede, ada gerai-gerai ekslusif bertebaran rapi, mulai Da Vinnci sampai Gerai Parfum yang namanya terdengar seekslusif harganya.. Dan aku ga tahu kalau harganya semahal itu, sampai gemeteran taruh lagi barangnya gara2 baca harganya, gawat kalau jatuh, bisa2 jadi TKW di Malaysia hahaha....Waduh desi, kamu ndeso sekaliii...
Bandara ini bersih, indah, ramah dan santun, aku benar-benar dibantu, disini laki-lakinya gentleman semua, ga seperti di Indonesia, ada perempuan ngos-ngosan bawa koper aja cuek ga kira-kira..... heran, mengapa sedemikian jauh bedanya dengan bandara Soekarno Hatta di Jakarta yang suram, suka korupsi, tidak empati ? Hahaha... short question yang sering sekali kutanyakan, padahal masih satu rumpun, tapi mengapa sedemikian berbeda? Apa yang salah atau dimanakah letak salahnya? Hhhh, stop thinking desii!!! , jadi ngilu bawaannya......
Ada orang india dengan sarinya lewat melenggang... jadi teringat Chitra, dia represent IBM India yang ikut class ini, Chitra cantik sekali, seperti putri, dia bangga pakai sari, ini pakaian perempuan India, desi, ujarnya......
Jadi teringat malam pertama, saat di Mid Valley nunggu Monorail mau balik ke Hilton di KL Sentral ( di KL ada tiga perusahaan swasta yang bergerak di bidang perkeretaapian, kereta apinya bagus deh, lebih bagus dari pakuan hiabahan jepang itu ), Chitra nangis pelan, dia teringat suaminya, baru menikah 4 bulan, dia rindu sekali India.... hhh, i’ve told you guys, gak ada satu tempat terindah pun di dunia ini seindah home... even tinggal di hotel mewah dengan pelayanan super ekslusif ( IBM royal memanjakan karyawannya, tapi kalau uang saku, walah, cuma buat lunch dan dinner aja, tok ! ), still miss home....
Di sini, gadis-gadis melayu cantik-cantik dan mereka pun bangga pakai baju kurung dengan jilbabnya.. hhmm.. hitung deh yang pakai blazer ke kantor, bahkan kantor se multinasional IBM pun, jika dia melayu, dia lebih senang baju kurung... bagaimana ya membangun mental seperti itu? Jika di Indonesia, nah lho des, mulai lagi dehh...
Kemarinnya, pas aku dan Chitra nyasar hampir masuk bar, padahal niat ke Sungei Wang....wadduh hahaa... dia bilang dia senang kenal muslimah seperti aku, ehhemm.. bukan begitu, dan ga bermaksud narsis kok.. tapi di India, muslimah itu bercadar dan menakutkan ujarnya, umur sepertimu desi, mereka tidak boleh keluar rumah, apalagi sekolah dan bekerja, mereka tinggal di rumah, menikah dan memliki empat orang anak minimal... hhh.. again... aku berusaha menjelaskan, itu budaya, islam tidak seperti itu.. please look at me chitra, i got degree from national university, and now I’m working in IBM, and being representative from IBM Indonesia… dan dia mengangguk pasti, aku tahu desi, aku bangga pada orang-orang sepertimu, jika muslim India sepertimu semua, mungkin kami tidak akan ada konflik berkepanjangan seperti sekarang… hhh…. Pe er kita sedemikian banyak……..
Aku lebih dekat dengan chitra, mmh.. bahasa inggrisku paraahh sekali, bahasa inggris chitra bagus sekali, aku ngiri setengah mati.. tapi lebih klik jalan dengan chitra, karena yang dari Singapore dan Philiphin ibu-ibu yang bicara bayinya terus, mereka kalau ngobrol suka lupa sekitar atau melupakan orang yang berusaha bicara patah-patah, yah.. that’s me... hiikss... Ada satu lagi, gadis Thailand, tapi dia bersama adiknya, jadi ya aku dengan Chitra....
Classku seharian, dimulai habis breakfast sampai jam 7 malam... setelahnya, kita baru jalan-jalan keliling KL.... KL itu kaku, hahaha.. mau tahu ga kenapa, karena ga ada orang lantung-lantung di jalan, semua orang bekerja, di jalan cuma ada besi dan besi... all machine.... dan believe it or not, aku cuma nemu satu pengemis.. Cuma satu... gak kebayang deh kalau di jakarta.. temenku bilang, kamu belum lihat aja pedalamannya, sama aja dengan negeri kita…. Hhhmm, mungkin ya, tapi kan kantorku di sudirman, pusat jakarta, but... hhhh.....desi, mengeluh teruss, mengeluh itu tanda iman yang ringkih !!!
KL rapih deh, dari jendela tempat classku di IBM Malaysia, rumah-rumah rapih berderet, gak semrawut kaya jakarta, jalan-jalan rapih terbentang, dan masjid yang biru itu indah sekalii.... duhh, kenapa mesti sangat begitu berbeda ya ?
Hhhh... masih tentang Chitra, kemarinnya lagi, saat di Putra ( Putra itu nama perusahaan kereta lainnya ), dia bilang dia hanya ingin punya anak satu, selebihnya dia akan mengadopsi anak... banyak anak yatim piatu di India desi... egois sekali aku kalau melahirkan anak tapi mengabaikan mereka... hhhmm.. begitu ya.. hatinya baik sekali, meski ada beberapa hal yang aku debatkan, sesekali, karena terbatasnya vocabularyku.. hikss.. lalu dia cerita tentang banyak hal, aku jadi pendengar begini, tumben banget, dia cerita tentang rumah-rumah di India, tentang suaminya yang baru dinikahinya, tentang keinginannya untuk tinggal di rumah saja dan mengurus anak, i asked my husband to resign from his job and find another which have better salary, so i can resign from IBM and being house wife... terharu aku mendengarnya, yahh.. perempuan pekerja tetaplah perempuan juga, yang basically bernaluri seorang ibu, itu sangat alamiah, dimiliki setiap perempuan di dunia... sedang dunia kerja sedemikian kerasnya, gadis dari Filipina itu sedang hamil dua bulan, yang
Teringat ucapan Aida disini – IBM Malaysia – banyak sekali wanita single parent karena cerai, banyak yang usianya menjelang pertengahan tiga puluh tapi belum juga menikah… yah, maklumnya, ujarnya sambil tertawa, masuk jam 8 pulang jam 10 malam… hahaha…tutupnya sambil tertawa miris… tapi itu common banget disini desi… hhhh.. wanita-wanita ini sangat produktif kupikir, muslimah melayu dengan baju kurung dan jilbabnya, tapi jika efeknya berantai pada generasi selanjutnya ?
Aku beranjak dari dudukku, sambil mulai menghitung sisa ringgitku, rasaya haus, minum Teh Tarik mungkin oke juga… ( hehehe, jadi ngakak sendiri ingat hari pertama tahu Teh Tarik, berantem dulu dengan pelayannya di Central Market, ini bukan Teh, ini susu, hehehe….)
Pandangaku menyapu, duh, rumah, kangen sekaliii…………
Wednesday, May 11, 2005
No Title....
‘adindaku sayang, tidakkah pejamkan mata sejenak ? matamu kuyu berbasuh sendu’ ujarku saat itu
‘tidak ada waktu’ sahutmu
‘ya, waktu menggilas segala benda. tapi percayalah, hati dan rasa bukan sesuatu yang tercipta untuk tergilas’
‘tidak, tidak untuk tergilas. namun untuk terpecah hingga luruh jutaan keping’
hening menggema. getarannya menyentuh pucuk-pucuk sunyi.
‘dan yang kau lakukan sekarang memungutinya ? berharap menyusunnya utuh. bukankah lebih mudah menerima nyata dari tiada ?’
‘nyata dan tiada bukankah sama. semua berpendar dari satu asa.’
‘lalu?’
‘aku tidak memungutinya. tidak menyusunnya. hanya menikmatinya. guliran-guliran waktu yang berderak. kau tahu ? rasanya manis, campuran sakit dan perih. luka.’
pilu seketika menggumpal. haru diujung tumpuan.
‘hadirku disini perlukah? atau hanya menambah gundah? gelisahmu pekat. nyerimu lekat. dan aku hanya mampu bergulat. dengan diri’
‘tetaplah bersamaku. jangan risau. acuhkan laraku. hanya bersamaku. itu cukup’
Walk to Age 21...
Apa yang sudah kita lakukan, jiwa ? Apa yang telah kita hasilkan ? Tentang manfaat, mengertikah ? sebesar apa manfaat kita untuk umat ? tidak ada ? betapa meruginya……
Duhai diri, usiamu telah melaju, sangat cepat, bahkan mungkin terlalu cepat….
sedang karunia Allah tidak sekejap pun berkurang, apalagi hilang…
sedang diri, sedang raga, sedang jiwa, apa yang telah kau perbuat ?
umat umat ? untuk Allah ?….yang telah melimpahimu berkah bak air bah, mengalir lalu melaut, sedang diri dengan pongahnya menolak setiap kenikmatan dengan sibuk membandingkan dan menuntut…….. duuuh…
Istigfarlah, lagi, berulang kali, dengan setulus hati, sepenuh ikhlas, biar seluruh kelam melarut…..
Dan diri, dalam setiap derak jantung dan debur nadi, pahamilah ada makna yang menggelembung. Membesar lalu melambung.
Bukankah Allah mengaruniai kita untuk mengenyam pendidikan ? di tempat terbaik ?
sedang yang lain tidak….
sedang yang lain sibuk memenuhi jalanan menyodorkan tangan, koran dan asongan,
sedang yang lain sibuk terlena memadati panggung hiburan dengan liukan badan,
Bukankah Allah memilih kita untuk menyelami islam dan tarbiyah ?
sedang tidak semua orang dilapangkan dadanya untuk itu.. …
lalu apa yang telah kau perbuat ? tidak ada dan tidak perlu ? betapa dangkalnya !
Allah tidak menciptakan kita tanpa arti. Sungguh tidak main-main. Sarat makna. Tidakkah mengerti ? pundak-pundak ini bungkuk menopang amanah yang bahkan gunung perkasa pun menolaknya. Dada ini sesak terhimpit amanah yang luar biasa mulianya. Bahkan setiap keletihan jasad harus menyebar manfaat untuk sebanyak umat. Bermanfaat. Berdaya guna. Bukan hanya sekedar tidak merugikan yang lain. Betapa kerdilnya jika hanya sebatas itu !
Bukankah raga ini milik Allah ? lalu mengapa Allah memberi kita upah pahala agar menggunakan raga ini untuk berjuang di jalan-Nya, padahal jasad ini utuh milik-Nya ? Tidakkah terlihat jelas Allah Maha Pengasihnya ? lalu, mengapa masih kaku, enggan bergerak, menolak berjuang ? padahal apa yang terlihat kita miliki, semuanya titipan. Sedang kita masih berada disini, tidak beranjak maju atau bahkan pesat melaju, membawa panji Islam berkibar….alangkah mirisnya…
Mari hati, renungi setiap helai hari yang luruh, dan jika sampai pada helai terakhir, saat malaikat maut menggandeng erat, apa yang harus kita sampaikan, bahwa umat sekarat dan tidak ada yang kita perbuat.. itukah ?
Sujud padaMu Robb, telah lewat tahun ke-21, namun apa yang sudah hamba perbuat ????????
Dec 1, 2003
Unfinished Writing
Bismillahirrohmaanirrohiim…
Saya tidak menyukai berbicara mengenai keletihan, kelelahan atau apapun namanya itu. Hal-hal tersebut hanya milik orang-orang lemah.
Namun adakalanya saat kelelahan dan keletihan menjulang, segala tameng pembelaan begitu mudahnya berjajar. Rapih dan kokoh.
Manusia-kah ?
Ya, saya pikir. Allah menciptakan manusia, perempuan dan laki-laki, dalam keadaan lemah. Tak berdaya. Jadi sudah sewajarnya jika ia mengenal keletihan dan bergulat dengan kelelahan. Bahkan mungkin berkubang dalam semuanya itu.
Saya pun tidak menyukai berbicara mengenai kesedihan dan kehampaan atau apapun sebutan orang untuk itu. Hal-hal tersebut hanya milik orang-orang kerdil.
Namun adakalanya saat kesedihan dan kehampaan begitu menjeratnya, seluruh baja ketabahan runtuh seketika. Hancur lebur tak bersisa.
Manusia-kah ?
Kembali, ya, saya pikir. Bahkan di tengah kebesaran sebuah hati, selalu ada titik-titik kerdil yang menggumpal. Menjerit dan membubung. Melangit. Tak teredam.
Tapi ingatkah, duhai hati yang bergejolak, himpitan rasa yang berpadu kelam,
Bukankah Allah pun menghadirkan Islam ?
Sungguh, bukankah Allah menghadirkan Islam ?
Yang dengannya menyelaraskan setiap ketimpangan, melapangkan seluruh kehimpitan, menyejukkan segala kegersangan, membasuh utuh, celupan Allah…
Friday, March 11, 2005
Adalah Membangun Peradaban...
Saat beranjak menuju pernikahan, saya teringat pesan seorang teman, cukup singkat, tapi sarat makna. Menikah adalah membangun peradaban. Saya sempat terpaku beberapa saat. Hanya empat kata, tak lebih, tapi mengapa serasa pundak saya dilimpahi beban dua buah gunung sekaligus. Betapa beratnya…
Cukup lama waktu yang saya arungi untuk menyelami maknanya. Saya yakin, pada dasarnya, jauh di kedalaman benak saya, saya paham konsep tersebut. Tapi, entah mengapa, rasanya pernikahan terlampau indah jika dikaitkan dengan sesuatu yang membuat payah tulang-tulang sendi kita.
Peradaban adalah bentukan dari sebuah proses panjang yang melelahkan. Kata tersebut diidentikkan dengan sebuah perubahan yang diawali oleh perguliran masa, pkiran, tindakan, dan kebiasan yang hanya mengarah kepada sesuatu yang lebih baik lagi. Mendekati kebenaran. Menuju kesempurnaan. Serumit itu ? Ya, bahkan proses membangun peradaban lebih pelik lagi.
Namun, perlahan saya mampu menangkap inti konsep tersebut, setelah ---kembali--- seorang teman bertanya “Sudah siap menjadi ibu?”
Meski seketika dada saya sesak dipenuhi sebuah pemahaman baru, pundak saya terasa berat dan payah karena konsekuensi dibalik konsep ini. Bahwa pernikahan tidak hanya bunga-bunga yang mewangi dan bertebaran dimana-mana atau kapal-kapal pesiar dengan cahayanya yang gemintang, tapi juga ada tugas mulia yang baru untuk mendidik generasi yang jelas membutuhkan kesiapan mental yang kuat serta kelapangan hati yang ikhlas serta pengetahuan yang memadai. Meletakkan bata-bata kecil untuk proses pembangunan peradaban.
Dan mungkin inilah yang tidak disadari, atau disadari tetapi tidak diamalkan oleh sebagian besar pasangan yang hendak menikah. Hingga sedemikian seringnya kita mendengar dan melihat hal-hal yang seharusnya tidak terjadi, seperti kekerasan terhadap anak, pelecehan seksual dan lain-lainnya yang tercela yang merupakan pemangkasan dari hak-hak anak.
Terlihat segala sesuatunya kini terasa berat, ya memang inilah yang harus dihadapi. Bahwa semuanya ini tidak mudah, meski jauh dari kategori sulit. Tapi, sungguh, jangan buat jadi terlalu berat. Itu adalah pilihan, membuatnya menjadi berat atau menjalaninya apa adanya.
Bukankah meski burung tercipta dengan kemampuan terbang tapi justru ia mesti tertatih-tatih untuk mengepakan sayapnya ? Karena Allah mengiringinya dengan terpaan angin yang kuat. Tetapi itu tidak membuat burung itu enggan terbang, dan berakhir kematian. Sebaliknya, justru membuatnya lebih kuat dan lebih bahagia mengelilingi cakrawala.
Dan, angin adalah bentuk cinta Allah, begitupun halnya dengan sayap…
Tidakkah manusia sama dengan burung. Ia ditakdirkan menanggung beban yang ditolak gunung. Beban yang berat, tentu. Tapi ia pun diberi akal, fisik yang kuat, dan jangan lupa iman dan islam. Lantas, apakah semuanya bergulir mudah ? Sebandingkah ? Atau manusia mengeluh, merasa enggan bergerak, berhenti, membusuk dan lalu mati ?
Disinilah letak pilihan kita. Pilihan yang harus ditentukan diawal, diluruskan di pertengahan dan disempurnakan di akhir. Dan Allah Maha Kuasa dengan melimpahkan kebebasan penuh pada kita untuk memilih, mengambil keputusan. Sedang akal dan islam adalah cinta Khalik pada makhlukNya, demikian pula beban yang ditanggung.
Baiklah, saya rasa kita semua sudah harus menetapkan pilihan, hilangkan segala kecemasan dan ketakutan diawal. Bahkan enyahkan perasaan terkungkung dengan beban berat yang membelenggu. Coba lihat sisi lain, tidakkah betapa beruntungnya kita, dianugerahi tugas mulia ini, ikut menentukan kemana arah generasi berpacu dan bentukan peradaban di masa membentang jauh setelah kita. Terbayang ? Berarti kita bisa melangkah pada pembahasan berikutnya.
Bahwa menikah, berkeluarga dan memiliki anak telah terpatri dalam benak kita dan sudah terinternalisasi dalam diri-diri kita adalah bekalan awal kita untuk mencoba mewujudkan sebuah peradaban yang tidak hanya sekedar guratan tindakan pada waktu, tapi juga cukup berharga untuk dikenang bagi pondasi awal perbaikan di masa yang mengikutinya. Selanjutnya adalah memahami bagaimana membahasakannya melalui tindakan terhadap anak-anak kita.
Seperti yang saya kutip dari Zig Ziglar. Ada tiga hak asasi dari seorang anak yang tidak boleh kita abaikan begitu saja. Mesti terpenuhi secara utuh. Ketimpangan sedikit saja memiliki effect multiflier yang mengerikan.
Pertama, faith. Iman. Saya sering memasangkannya dengan cinta, karena keduanya tidak terpisahkan. Iman, kata Anis Matta, adalah lautnya, sedangkan cinta adalah ombaknya. Iman yang memperhalus budi pekerti. Membuatnya kukuh saat sekeliling sedemikian goyah. Membuatnya tegar saat setiap benda tumbang. Dan membuatnya sanggup bertahan ketika setiap hal rapuh dan rentan.
Kedua, hope. Harapan. Harapan adalah lilin terakhir yang berhasil bertahan menerangi kepekatan kondisi yang melilit kita disaat lilin-lilin lainnya telah padam tersapu angin. Dan kemampuan memiliki harapan harus diajarkan pada anak-anak kita. Karena sebenarnya anak-anak itu sendiri adalah perwujudan dari sebuah harapan. Seperti semburat cahaya mentari yang tersembunyi dibalik dahan-dahan pohon di pagi hari. Seindah itu.
Ketiga, adalah love. Cinta. Tidak perlu berkisah banyak tentang ini. Cinta adalah seluruh makna tanpa perlu dideskripsikan.
Dan, jika tiga hak ini dipenuhi utuh, sesuram apapun kondisi disekitarnya, ia akan sanggup tumbuh dengan baik dan bersinar. Betapa memprihatinkannya mengetahui banyak keluarga yang retak karena tiga hal tadi tidak terpenuhi, atau terpenuhi namun tidak dengan porsi yang seimbang. Bukan proporsi faith:hope:love sama dengan 100% dibagi tiga. Tapi faith itu 100%. Hope pun 100%. Dan love pun penuh 100%.
Saya terbiasa menggunakan kereta ekonomi jabotabek setiap hari untuk pergi ke kampus. Sungguh mencubit-cubit hati jika melihat begitu banyaknya ibu-ibu yang menggendong anaknya lalu berjalan tertatih-tatih untuk mengemis. Atau anak-anak dibawah umur yang bekerja menggotong dagangan menjual minuman ringan di sepanjang kereta. Salah siapa ? Kedua orang tuanya ? Yang bahkan mempertahankan hak-hak dirinya pun sulit. Disinilah letak berbagi. Idealnya, janda-janda dan anak-anak terlantar adalah kewajiban negara. Pemerintahlah yang seharusnya memenuhi hak-hak mereka. Namun jika pemerintah sendiri tidak sanggup, karena memang pincang oleh keboborokan para politisinya, disinilah letak berbagi.
Hak-hak asasi anak-anak yang telah saya jelaskan sebelumnya bukan hanya harus dipenuhi oleh orang tuanya, tapi juga pemerintah dan terutama peran kita sebagai sesama manusia. Karena itulah cinta. Semuanya cinta.. Agar manusia menjadi kuat, berharga, bahagia dan mulia…di hadapan-Nya tentu….tidakkah demikian ?
* * *
Maret, 2004
Selepas Milad...
Apakah idealisme hanya milik kampus saja?
Lalu setelah hengkang dari kampus, idealisme hanya sebatas kata yang memudar...
Apakah hujaman kebenaran dan celupan Allah hanya tumbuh dan berkembang di kampus saja ?
Lalu setelah lepas label mahasiswa begitu juga tercabut hujaman yang dulu terpatri ?
Begitukah ?
Apakah seruan lantang dan bait tekad mendekat pada Allah hanya milik mahasiswa ?
Apakah kerja-kerja berwarna ikhlas hanya dilakukan pemuda pewaris generasi ?
Sungguhkah ?
Lalu jika tidak, jika bukan, mengapa duka yang timbul saat mengetahui bahwa perubahan ternyata justru menyakitkan...justru melelahkan...
Sekejam itukah dunia diluar sana ?
Dunia yang dihitung dengan uang dan semua berasas ekonomi ?
Demi kerja dan hidup yang terus melaju...
Begitu yah..
Lalu, hujaman yang tegak akan mudah retak dan patah terlumat suasana dan waktu ?
Oh, jika demikian, alangkah kecilnya duka yang sedang merekah dihati ini..
Mungkin akan terus menganga dan melebar...
Duh, Robb, saya hanya butuh dikuatkan...dikuatkan...dikuatkan...
Bahwa sesulit apapun hidup, securam apapun belokannya, bukankah Engkau tak lepas memantaunya ?
Bahwa sepatah apapun sebuah hati menghadapi realita, bukankah hanya cinta-Mu yang dituju ?
Bahwa apapun yang terjadi, ajaranMu abadi sepanjang waktu....
Duh Robb, pemilik segala hati,
Betapa letihnya jiwa ini...
Betapa sesosok hati yang bersandar ini butuh untuk disirami
Dicelupi,
Dengan cahaya Mu,
Bahwa hanya pada Mu lah tempat persandaran sejati.............
yang sangat butuh dikuatkan....
desi novita sari
15.06 lab jurak
selepas milad FSI ke-12
True love doesn't have a happy ending, because true love doesn't have an ending
Entah apa ya namanya, jika seseorang melihat keletihan sebagai sesuatu keindahan. Jika memandang kepenatan sebagai sebuah kelegaan. Atau sekedar menganggap paksaan pada setiap derap langkah yang tercipta itu sebagai sebuah hal indah yang mengabaikan makna kepedihan.
Wah, saya tidak sedang membicarakan ‘pink’ lagi, tapi mungkin erat kaitannya dengan bilik-bilik hati kita yang mulai terisi dengan sebuah cinta yang lain. Yang seharusnya lebih mulia. Pasti.
Saya seperti nenek-nenek nih yang selalu memulai hal dengan bercerita, tapi yah, terkadang setiap patah kehidupan entah berepisode suram ataupun cerah memiliki makna yang nilainya lebih dari ‘nilai’ itu sendiri. Jika kita mampu mengevaluasi seseorang yang terpuruk karena sebuah kesulitan yang menghadang, dengan memahami mengapa sulit itu menerjang dan merenungkan pisau untuk memangkas ‘sulit’ itu, bukankah lebih merentangkan waktu berharga yang kita miliki, daripada hanya tenggelam dalam sebuah emosi, entah itu tawa atau derita ?
Seorang teman—lagi :)-- pernah berurai gelisah ketika ia merasa lelah tak berjera saat mengikuti sebuah kepanitiaan. Mmmh…bukan kepanitiaan lingkup dakwah fakultas seperti FSI. Melainkan kepanitian lingkup lain yang lebih umum. Acaranya terbilang sukses, bahkan surplus puluhan juta. Tapi justru hal itulah yang membuatnya bingung, mengapa dengan sebuah akhir yang gemilang namun justru kondisi hatinya terpuruk ? sepertinya ada sesuatu yang tercabut di jiwanya, hanya menyisakan kering tak berkesudahan dan kepiluan yang bertambah mengiringi ketidaktahuannya akan pemicunya.
Saat itu sore dan hebatnya air mancur di taman FEUI sedang indah-indahnya. Sedang langit ceria dengan pelanginya. Kisahnya berlanjut, hari-hari kerjanya diisi dengan beraneka target dan dead line, berbagai tekanan dan tuntutan. Melelahkan jelas, tapi karena ia seorang koordinator tak pantas rasanya menyebut ‘lelah’ bahkan sekali pun. Khawatirnya, rasa lelah itu menyebar ke staf-staf dibawahnya dan menghambat langkah kegiatan yang tersendat.
Sedang Sang PO cukup bersemangat untuk mengobarkan kata ‘motivasi’ , dalam setiap celah kegiatan atau rapat-rapat, bapak PO tidak lupa mengingatkan bahwa kerja ini menyusung nama UI, kinerja yang buruk akan selalu dikaitkan ke nama besar UI dan itu memalukan hasilnya berlipat-lipat ganda. Itu yang didengung-dengungkan selalu. Nama besar UI tidak berhak tercoreng hanya karena kinerja sebagian mahasiswanya separuh dari maksimal. Tidak Berhak , tandasnya jelas !!
Pada awalnya, hal tersebut cukup efektif, tapi tidak untuk jangka waktu yang menyentuh belasan bulan. Baterai energi ‘hanya untuk menyenangkan UI’, ‘hanya menjaga kebesaran nama UI’, ‘hanya untuk menunjukkan bahwa UI masih berjaya dalam segala bidang’, hanya itu semua ternyata tidak cukup untuk menjaga keberlangsungan energi kerja. Terlalu kecil kapasitas hal itu sedang supply energi yang dibutuhkan terlalu besar dan menuntut kontinuitas.
Buktinya, banyak yang berjatuhan, tidak sedikit yang berguguran, dan sungguh tidak jarang yang menghilang saat tuntutan dan roda kerja semakin meninggi.
Akhwat –teman saya tadi lho—pun menghela napas panjang dan dalam rasanya. Mungkin untuk mengisahkan sesuatu yang menghujam rasa seperti ini harus membuka isi lemari jiwa di kalbunya, yang mungkin sebenarnya enggan ia buka. Terlalu menyakitkan sepertinya…
Ia pun menyuplai energinya dengan ungkapan sekedar menggugurkan kewajibannya sebagai koordinator, that’s it and that’s all… Tidak untuk hal lain, tidak untuk sebuah visi yang terpatri dalam benaknya dan tercermin dalam tekadnya untuk mewujudkannya nyata…Tidak untuk hal-hal seperti itu….Hhhh…
Poor you, honey…itu hal pertama yang terpintas di benak saya….
Jika, hidup hanya berujung pada satu bundaran titik,
Jika, hidup hanya berputar pada selapis garis tipis,
Jika, waktu demi waktu yang terseret berpendar pada pijar cahaya yang melemah,
terus memudar,
meski letih,
terus berpendar,
walau galau,
pada lingkup yang sedemikian rentan,
masih sanggupkah kata ‘hidup’ dieja ?
Sungguh, tidak bermaksud puitis dan menyulitkan,
Tapi…yeah.. terkadang hidup memang tampak menyedihkan jika tonggak acuan kita hanya sesosok ‘makhluk’…..
Satu sosok yang memiliki ragam rupa,
Satu sosok yang berbaju macam rasa,
Satu sosok yang tidak menyodorkan kita apapun, selain tanda tanya besar yang kian mengawang, dan bergumpal-gumpal kelam yang timbunannya melambung….
Duh, afwan yah, jika tiap deret disini sulit dicerna, tapi bukankah sastra itu memperhalus budi pekerti ? :) ----big smile---
Saya hanya berpikir, tidakkah terlalu melelahkan jika terlalu bergantung pada ‘sekedar’ pendapat orang lain ?
Tidakkah terlalu memperberat beban di pundak jika pusat seluruh gerak dan rasa berlabel ‘asal orang lain senang’ ?
Dan saya pikir itu menyedihkan…
Terlebih jika alur lajunya sebuah tindakan tetap kita hidupkan dengan bertolak dari pikiran pendek yang sempit dan mungkin ---afwan--- picik…
Seakan seseorang hidup dalam garis tipis sesaat, terlalu micro bukan ?
Seakan ia tidak pernah menjulangkan raganya untuk sekedar melihat dimanakah posisinya dalam bagian yang global !
Hhhh…
Seperti halnya setiap jejak yang coba kita tancapkan,
bukankah terasa lebih indah jika larasnya disejajarkan dengan sebentuk arti kehadiran kita kala menghirup segarnya kehidupan ?
Jika, makna sebuah kehadiran berarti menggapai cinta Allah,
Jika, tiap tarikan napas mencoba mengais cinta Allah,
Jika, segarnya udara yang mengarungi rongga di jiwa berhawa cinta Allah,
Maka,
Lelah kita pun karena Allah,
Pedih kita pun sebab Allah,
Marah kita pun,
Sakit kita pun,
Haru kita pun,
Gumpalan biru jiwa kita pun,
Mesti bermula karena Allah…
Dan, bukankah tebaran cinta Allah jauh tak berbatas ?
Jadi, entah senggang, entah sibuk, sungguh damainya dapat merenungi tiap hal yang membuat kita haru, letih, pedih, bahkan gundah…
dan melantunkan nadanya hanya untuk memastikan apakah larasnya berpadu utuh dengan cinta Allah…
Mungkin, ukh, kala terluka, dan meredam duka saat direndahkan,
atau, akh, saat gentar atau amarah yang memuncak bila dihujat,
seluruhnya mesti berlapis keikhlasan dan kerelaan pada Allah jua….
dan berakhir pada peniadaan gumpalan demi gumpalan yasng menyumbat…
Tapi, akh, jika yang direndahkan adalah islam,
dan ukh, jika yang dihujat adalah muslim,
itulah saat rasa harus nyata terwujud…
entah apa pun itu…
Karena, cinta Allah cinta sejati, belum tentu berakhir bahagia, karena cinta pada-Nya tak memiliki akhir…
Untuk semua FSI-ers....
Jika diawal telah sedemikian berat, sangat bahkan, mungkin kita harus memacu semangat dan amal lebih lagi sepanjang tarikan napas, karena cinta Allah yang kita tuju, tidak yang lain…
Dedicated to my beloved team, muxon, iffan & muti :
sulit, karena kita tidak serupa
beda tindak, beda rasa
tapi mudah, karena kita satu iman
satu Allah, satu cinta
tidakkah itu cukup ?
Taken from my my mail to FSI milist
Perbesar Porsi Itu
Sungguh, betapa setiap hembusan udara yang kita hirup…betapa setiap tarikan napas yang berpacu…betapa setiap detak nadi yang berdentang…hanyalah atas kehendak-Nya semata…
Teman-teman yang disayangi Allah selalu…
Belakangan ini..ah,entahlah, sepertinya saya merasa hidup di dunia yang berwarna pink....mmmh..mungkin karena segala sesuatu yang saya temui akhir-akhir ini serba pink, mulai dari teman sebelah saya di rental komputer yang sedang mengetik hurup pink besar-besar bertuliskan Happy Valentine, atau sepasang ‘kekasih’ yang ber’senda gurau’ di Kafe sambil menikmati makanan dan Duh Robbii, kebetulan kali yah perempuannya memakai jilbab pink :( ..mungkin juga karena tontonan di tv gak jauh-jauh dari tema pinky, bahkan ada salah satu stasiun tv yang menayangkan film berbaju romantis seminggu penuh…Duh Gusti…
Sedang, idul adha hanya disinggung sekali dalam berita dan penuh harinya diisi dengan film india…jadi pengen nangis.. :( ..
Tapi yah, itulah realita..sulit jika berkomentar tentang cinta, jika saya boleh menyebutnya demikian,..dengan hubungan rasa yang dengannya orang bisa menebar tangis dengan teramat mudahnya..bisa marah dan berselisih dengan amat cepatnya…...rela menyita segala waktu yang utamanya diberikan pada yang berhak, orang tua misalnya…..rela juga membuang pulsa telepon ke tempat sampah dengan sekali lemparan…..entahlah, suatu rasa yang unik…yang menakjubkan bahkan..jika nanti saya jadi akuntan (doakan saja :) ) saya mungkin akan mengklasifikasikan cinta dalam unspecified account…...yah, karena efeknya berbeda pada setiap orang….dan jelas bukan dalam grupnya other account, karena hal itu tidak bisa disebut lain-lain, tidak bisa disepelekan apalagi diabaikan, bahkan justru ialah yang mampu menentukan mana hal yang lain-lain itu…
Hhh…sepertinya dalam benak saya kembali terputar peristiwa dulu, suatu pagi saat mentari mulai memerah di ujung langit UI…seorang akhwat menangis tersedu-sedu di pangkuan saya..’Ya Allah Des’….ujarnya perlahan, terpotong tangisan panjang yang meluluhkan hati…’kok rasanya berat yah..’ lanjutnya, bergulir dengan nyeri yang menggelayuti batin saya mendengar isak tangisnya…’gue tahu ini gak boleh..tapi kok yah..’ dan….bergulirlah sudah cerita dari mulutnya…
Hampir berbilang tahun akhwat ini menjalin ‘hubungan’ dengan seorang ikhwan yang kebetulan kuliah nun jauh di sana..Indah, katanya....ikhwannya seorang yang baik dan cukup religius, ujarnya..saking baiknya, ikhwan tadi rela menelepon dalam kurun waktu tertentu hanya untuk sekedar menanyakan sudah makan belum, gimana kuliahnya dan hal lainnya..gak berbilang jam-an sih, tapi cost-nya bisa beratus ribu bahkan…
Lalu selang waktu berlalu, dan akhwat tadi mulai bersentuhan dengan islam hingga akhimya menyadari hal tadi tidak dicintai Allah, ia mulai merenggangkan hubungan, perlahan tapi jelas arahnya,putus gitu lho…Tapi, ternyata ikhwannya tidak terima....dan akhwatnya sedih bukan main karena merasa telah melukai hati seorang ikhwan yang sangat halus perasaannya dan baik hati pula…maka, pecahlah gelembung rasa itu dan hanya menyisakan kilatan tajam di ujungnya…
Hhh..saat itu saya hanya bisa mengedarkan pandangan pada beberapa ikhwan yang sibuk menggulung spanduk di beranda Mesjid UI…dan beberapa akhwat yang tengah packing setelah mabit semalaman..atau gelayut putih berselendang biru di langit… atau melirik satu persatu mahasiswa yang mulai meninggalkan MUI setelah malam renungannya MACRO…
You know what guys, sepertinya ada sehelai daun yang melayang dalam kedalaman jiwa saya..perlahan namun pasti jatuhnya…
Jalan ini teman, tak pernah mudah, bahkan seringkali sulit, entah itu batu yang menggelincir dari puncak lalu melibas kita dengan meninggalkan memar di jiwa..atau mungkin sayatan perih, jika perih punya bentuk, menusuk jauh ke perbatasan rasa…Apapun wujudnya, tetap saja luka, dan itu sakit…
Tapi, sungguh, karena ini hanya sebuah jalan dan alur desahan keberadaan kita adalah sebuah perjalanan, maka segalanya pun berbungkus perbekalan…untuk nanti, saat tiba segenap raga bertumpu pada segumpal jiwa, yang berdiri sendiri, yang bertanggung jawab atas asa yang dipegangnya saat hayat tersisa…hanya sendiri, seorang diri….
Ahh, ukhti wa akhi bukankah poros hidup kita hanya berputar tentang bagaimana memperbesar porsi cinta kita, pada Allah tentunya…
Segala hal yang sempat singgah,meski hanya sementara, baik dalam relung hati kita atau bahkan terpatri dalam cara berpikir dan terlebih tindakan kita—semuanya—mesti diselaraskan dengan satu pertanyaan besar, cintakah Allah jika saya melakukan ini ? Memilih yang satu dibanding yang lain ? Bertindak satu hal bukan yang lain ? Berpikir ke arah yang ujung tidak yang mula ? Masihkah Allah cinta ? Sungguh ? Masih ? Yakinkah ?
Dan sungguh, hidup hanya berkutat pada satu hal itu, memperbesar selalu porsi hati kita untuk belajar mencintai Allah sedemikian utuh dari tiap helaan rasa kita, tiap sapuan waktu pada hari…begitu selalu…belajar itu, hanya itu…
Belajar untuk selalu menjadi pribadi yang menyenangkan, karena Allah cinta itu..belajar untuk menjadi anak yang berbakti pada orang tua, karena Allah jelas mencintai anak yang saleh…Belajar untuk selalu ber IP 3 misalnya :) , karena Allah mencintai muslim yang berprestasi…Tidak pernah lelah kerja di FSI, karena Allah dengan lembutnya berfirman ‘sebelum segala sesuatu, kalian adalah da’i(penyeru)..penyeru agar setiap jiwa yang merasakan nafas islam senantiasa memperbesar porsi cintanya pada Allah semata..
Hingga nanti, suatu saat, entah itu esok tatkala mentari menyapa, atau bahkan sesaat jika mulai bergulat dengan kantuk, entah itu lambat atau seperti kilat cepatnya…
yaitu nanti Akh, sungguh nanti Ukh saat dimana lengan kita dijalin malaikat maut, dibawanya pergi tak kembali…..............porsi hati kita utuh, bulat dan penuh hanya untuk Allah saja..utuh dan seluruh..Semoga..
I dedicated this to :
-seseorang yang pernah menumpahkan pilunya : ‘Terkadang seseorang mesti dibenturkan dengan kepahitan terlebih dahulu, sebelum dapat menyelami arti sebuah kedewasaan…’
-my beloved sister, Mutia Febrina, Barakallahu Fii Umuurikum, Honey… --tepat hari ini kan?--…Semoga semakin tabah dan tegar, siapa bilang semuanya ini mudah ? :) But, u always know, that u can rely on Allah, right ?
-dan terakhir untuk seluruh ikhwan akhwat FSI yang hatinya sedang dan pernah disinggahi pink itu, tepis segera ya, jangan sampai melucuti porsi cinta kita pada-Nya..sungguh, jangan sampai ya….
16 Februari 2003 di kota hujan,
Desi Novita Sari
If You Dont Like Something
If you can’t change it, change the way you think about it”
Akhir-akhir ini saya teringat kata-kata diatas. Entah percaya atau tidak, tapi jujur ya, saya tidak suka kalimat tersebut. Terutama pada bagian ‘if you can’t change it…’. Ha..ha..ha..jadi mengingatkan saya pada pesan seorang teman, kok jadi hyperlink gini, ‘you should seriously learn to differentiate between what you can change and what you cannot’.
Gak nyambung sih dengan apa yang sebenarnya ingin saya ungkapkan, setidaknya tidak secara eksplisit. Tapi jari-jari ini jadi gatal setelah membaca emailnya iffan dan arief (subhanallah rief, gimana euy kabarnya ? , jarang ketemu ya, udah lulus apa :) ). Jadi, mengalirlah apa yang saya tulis ini.
Flashback nih, agak lama, tahun 2000. Masih saat pemilu juga. Oh, ya, saya menulis ini terinspirasi setelah membaca bagian kongkow-kongkownya iffan di warung sebelah sambil berkampanye ria. Suatu hari ayah saya pernah telat pulang ke rumah sehabis salat isya di masjid. Saat ditanya, ayah cerita diajak diskusi sama mahasiswa soal pemilu. ‘Mahasiswa IPB, laki-laki, baik-baik yah, ngomongnya santun, wawasannya luas. Terus cerdas pisan, diajak ngomong ini..’ dan mengalirlah kekaguman ayah. Kebetulan daerah kami memang dekat dengan kost-kostan mahasiswa IPB, hampir sama dengan margonda dan UI.
Hari-hari berikutnya pun begitu, sampai saat kami menonton televisi…’wah, emang Pak Nurmahmudi mah …’ Lha, kapan ayah ganti partai, maklumlah ayah saya pegawai negeri dan pemilu 2000 adalah momen pertama saat pegawai negeri boleh beda warna. Ayah saya malah tersenyum, usut punya usut ternyata perubahan itu dampak dari diskusi dengan mahasiswa IPB tadi. Jauh setelahnya, saya baru ber ooh ria dan berujar ‘direct seling’. Hingga kini, ayah jadi simpatisan pasif partai tersebut.
Saya percaya, perubahan adalah suatu keniscayaan. Seiring dengan bertambahnya usia kita atau memudarnya kemudaan kita, setidaknya adalah sebuah perubahan. Atau bertambah matangnya kita menyikapi setiap persoalan dan menindaklanjutinya dengan bijak pun adalah sebuah perubahaan. Dan saya sangat menghargai setiap perubahan sekecil apapun asalkan arahnya positif. Memang, bukanlah suatu hal yang mudah. Siapa juga yang bilang gampang ? Iya gak ? Melepas sesuatu yang biasa kita hirup, atau bahkan bertahun-tahun kita hirup ? Duh, jadi teringat sesuatu lagi nih..
Sesuatu yang membuat saya terpaku hampir..mmh..lima belas menit lamanya setelah habis membacanya. Sebuah cerita. Saya membacanya di internat al-kautsar, sudah lama, pas pdai zamannya siapa ya, lupa J. Cerita itu mengisahkan tentang seseorang. Sesorang yang memiliki cita-cita besar. Ia kecewa dan tidak puas dengan dunia di sekitarnya, maka ia pun berikrar ingin mengubah dunia. Setelah agak lama, ternyata dunia pun tidak berubah, dan ia pun menyadarinya. Maka cita-citanya pun diubah, ia ingin mengubah negaranya saja. Waktu pun hilang, daun-daun berguguran, tapi tetap saja negaranya tidak berubah. Hingga di saat genting hidupnya, saat ajal menanti dengan tak sabar, ia pun menyadari kekeliruannya dan berujar ‘Seharusnya yang kuubah terlebih dahulu adalah diriku sendiri, baru keluarga, negeri dan dunia’ . Ya begitulah, ia meninggal dengan segumpal kekecewaan di hatinya.
Hhh, yang membuat saya terpaku adalah terkadang angan kita melayang terlalu tinggi dan cita kita melambung terlalu hebat, hingga badan kita keletihan. Kepayahan. Bahkan luar biasa letihnya hingga tidak mampu lagi untuk berpikir melakukannya dengan apa yang ada dalam genggaman, dengan apa yang dekat dan bisa kita lakukan.
Saya pun percaya, setiap orang bercita-cita untuk melakukan perubahan. Ya, setidaknya perubahan untuk dirinya sendiri. Jika tidak puas dengan kondisi yang terjadi, ya coba ubah. Jangan teriak-teriak gak jelas, berontak atau bahkan berbalik dari barisan, cari selamat sendiri. Betapa dangkalnya ! Seperti kejadian tadi pagi, sekelompok pemuda tidak teridentifikasi membakar bendera-bendera paratai-partai yang ikut kampanye di sekitar daerah rumah saya sambil teriak-teriak gak percaya dengan pemilu. Apa coba manfaatnya, paling hanya kekecewaan yang sangat sedikit tersalurkan, selebihnya salah sasaran. Ingat kan cerita saya soal Purie, yah, mirip-mirip dikit lah.
So, come on guys, be mature and have big heart ! Ayo, bergeraklah ! Masih ada waktu, meski tinggal hitungan detik, detik-detik yang kita tidak boleh kalah kata Tarbawi J. Mungkin amunisi kita tidak seideal yang kita harapkan, hanya bambu runcing dan batu. Tapi, bukankah dengan bambu runcing bangsa indonesia menuai kemerdekaan ? Dan saudara kita di bumi palestina masih terus berjuang dengan batu-batu ? Jadi, yo lakukan semampu kita, mulailah dengan hal-hal kecil, misalnya email pencerdasan politiknya arief atau kongkow-kongkownya iffan. Selamat bergerak :)
Taken from my mail in FSI SMFEUI Milist
June 10, 2004
Ulasan Novel Rahasia Dua Hati - Muthmainnah
Saya bacanya sudah lebih dari seminggu yang lalu, tapi sampai sekarang masih berdampak. Entah dikategorikan apa, tapi mungkin karena saya belum menikah. Jadi, untuk yang masih single hati-hati baca buku ini ;) ga nyambung yah ? tapi saya jadi melo gini nih. oke, mulai cerita yah...
Kebetulan sabtu seminggu yang lalu, saya keliling Bogor. Tumben banget, tapi maklum tinggal skripsi, jadi domainya kembali ke Bogor. Biasanya saya beli buku islam di bang sofyan mui, atau paling banter deket-deket ui seperti nurul fikri. Tapi ternyata saya beli novel RDH (Rahasia Dua Hati) di gramedia bogor. Ujung-ujungnya nyesel juga sih, berhubung harga novel ini terbilang mahal, hampir angka empat, tapi pas lihat-lihat novel kok ada nama “Mutmainnah-Pengarang buku-buku best seller” langsung deh saya beli. Habis saya pikir, kalau di al-amin bogor cukup lama sih up to date buku-buku barunya, jadi bisa bikin penasaran yang gak jelas kalau belum ada.
Saya beli ‘hanya’ karena lihat nama pengarangnya, “oh, mba imun, emang buat novel baru yah, kok saya ga tahu sih?” gitu deh pikir saya. Btw, saya memang admire her because of Pingkan. Tahu gak, saya beli Pingkan hampir sepuluh biji, dibaca sendiri ? yah enggak lah, saya bagi-bagiin buat yang lain. Habis, Pngkan itu bisa buat titik balik seseorang, biar lebih mengenal Robb-nya, terus...lha kok ngomongin Pingkan sih :(
Balik ke RDH, ringkasan novel disampul belakang bukunya menurut saya gak cukup menarik, setidaknya gak membuat orang tertarik untuk mengetahui isi novel lebih jauh. Novel ini kalau mengabaikan nama pengarang dan penerbitnya, pasti dikategorikan novel ‘cinta biasa’ seperti nora robert dan sebagainya. Sampul depannya pun gambar laki-laki bule dan seraut wajah perempuan dengan latar gedung-gedung luar negeri.,--yang setelahnya saya baru tahu ada settingya yang di Inggris--.
Tapi, bagaimanapun, saya tetap cinta mbak imun, terus berkarya mbak ! Dan mau tahu gak, saya ingat sekali saat selesai membacanya, jam 01.46 malam. Karena setelahnya saya menulis diary berlembar-lembar sambl sesengukan (kok ?), dan menulis kata terakhir ini :
By the way, terima kasih sudah membaca tulisan saya. Ini bukan resensi apalagi opini, gak berhak lah saya seperti itu. Tapi hanya sekedar curahan hati dan buncahan perasaan saat selesai membaca RDH. Terus maaf ya mbak dianti, gak berkontribusi nih, gak guna nama tertera di website FLP sebagai pengurus. Ga amanah gini L ga pernah nulis dan gak pernah kerja. Sekalinya nulis, hanya berani di milis, dan itu pun dangkal sekali. Tapi, dimaklumi yah, masih pemula :) . Buat temen-temen yang lain, terus semangat, tetap berkarya ! I do love u all coz Allah.
Desi Novita Sari