Sunday, April 06, 2008
Safwa cintaku
Assalamualaikum semua, bagaimana kabarnya ? Mau idul adha kan, sudah siapkan kurbannya belum ?
Aahhh….lama sekali saya tidak menulis, rasanya sudah berabad-abad J Rindu. Rindu. Dan rindu.
Sekarang saya adalah seorang ibu rumah tangga, mendampingi laki-laki baik hati yang saya cium tangannya tiap pagi dan seorang peri mungil yang bersinar penuh kemilau seperti namanya. Setahun yang lalu, saya sibuk sekali mensyukuri setiap bilangan hari, tak putus. Atas laki-laki asing yang datang menetap dalam hati saya lalu menumpahinya dengan sejuta doa dan perasaan. Semoga hingga di akhirat ya sayang…
Menapaki tahun kedua, saya malah tak bisa beranjak. Peri mungil yang sekarang genap enam bulan dan begitu meyukai buku dan tasbih sebagai mainannya (semoga hingga kelak pun seperti itu selalu, Nak. Aamiin. Sholehah dan cerdas), begitu mencuri hati saya. Saya tak hentinya memelototinya, jika tidak, akan begitu banyak hal yang terlewat. Karena cepat sekali pertumbuhannya. Rasanya dulu saat saya menangis meminta melihat bayi saya untuk kedua kalinya setelah dioperasi caesar, ia hanya sekecil ini. Eh, tidak terlihat ya ? J Mungil dan tampak rapuh deh. Alasannya dulu kenapa ya, minta lihat bayi lagi, mmh.. niatnya mau IMD – inisiasi menyusui dini yang bayinya diletak didada sang ibu dan selama satu jam atau lebih bayi akan bergerak sendiri untuk menyusui, subhanallah, Allahu Akbar deh lihat vcdnya… , tapi ga jadi gara-gara belum kongkalingkong sama dokternya, maklum operasi caesar saya sito alias dadakan. Sampai seminggu setelahnya saya hanya memperhatikan suster yang memandikannya karena tubuh saya masih dalam masa pemulihan. Mmh.. hehe alasan, itu terlebih karena saya begitu takut menyentuhnya. She is sooo gorgeous. Soooo tiny… dan saya jatuh cinta begitu saja.
Saya hanya bisa mengingat satu hari dimana begitu lelahnya terjaga di malam hari, lalu akhirnya saya biarkan suami saya menggendong Safwa hingga saya terlelap. Hehehe.. bukannya Safwa yang terlelap, malah sayanya. Selebihnya saya begitu takjub atas pertumbuhannya. Sekarang dia pandai sekali telungkup. Tiba-tiba nanti sudah diujung tempat tidur, guling-guling sendiri. Kepalanya sudah diangkat-angkat, semangat untuk duduk tegak. Dan dia sholehah sekali. Tidak pernah merepotkan. Jika saya katakan, "Nak, Bunda mau sholat dulu ya, yang sabar ya, main kertas dulu"
maka dia akan asyik sekali main kertas. Sembari ngomel-ngomel atau nyanyi-nyanyi dengan bahasa bayinya – mungkin turunan dari ibunya hehhe – . Safwa suka sekali dipeluk. Dia akan terkikik-kikik sendiri dengan giginya yang ompong alias belum tumbuh gigi. Dan dia akan bersinar saat dicium. Safwa sangat menikmati saat begitu banyak sayang menyentuhnya. Aahh..
Terkadang saat larut dan ia tertidur, saya suka sekali berlama-lama menatapnya. Mengatakan bahwa saya mencintainya. Hingga rasanya sesak. Lalu bertukar pandang dengan suami saya yang matanya sering basah penuh syukur. "Allah baik banget sama kita ya Bun". Dan saya hanya sanggup mengiyakan dengan tangan menyeka mata. Allah….. Pernah beberapa malam, dalam lautan syukur saya, saya tergugu dan dengan gagu berujar, " Rob, jadikan kecintaanku kepada Safwa hanya berujung padaMu.. hanya padaMu… bahwa ia milikMu.. adalah titipanMu… "
Dan kelulah bibir ini…. Allah…
Maka tolong ingatkan saya jika terlontar ucap keluh, kuatkan saya, karena apalah semua ketika begitu banyak kedamaian mengiringi langkah saya.
Wassalam,
Bundanya Safwa
Friday, May 11, 2007
Saat kelam menggulung kilau, perlahan...
Aku ingin selalu menuliskanmu puisi-puisi
mangalir seperti aliran darah membawa energi
hingga ke sel-sel yang tersembunyi
berhembus dalam setiap helaan nafas hidupku
Tapi sayang...itu bukan puisi untuk kita, seorang hamba
Itu adalah rentetan-rentetan suku kata dan rasa
untuk Yang Maha Indah
aliran syair bagi Pemilik Jiwa
puisi-puisi kita pada Sang Pencipta
Kita kan tuliskan puisi-puisi,
rentetan kata dan rasa,
aliran syair dan cerita,
untukNya
pada tiap aliran darah,
pada tiap helaan nafas hidup kita
Cucuran darah kan menjadi warna indah pada tinta puisi kita
Engahnya nafas menjadi rentak dalam pembuktiannya
Kita kan selalu menuliskanNya puisi-puisi
mengalir seperti aliran darah membawa energi
hingga ke sel-sel yang tersembunyi
berhembus dalam setiap helaan nafas kita
Puisi-puisi yang menjadi sempurna saat aliran darah terhenti
saat hembusan nafas senyap
saat sempurna melihat wajahNya..
Bersediakah kau sayang....????
"Lakukanlah apa yang kita mampu dan tahu,
biarkan Allah memampukan dan memberitahukan
apa yang kita tak mampu dan apa yang kita tak
mengetahuinya."
Note : Puisi di atas ditulis oleh belahan hati saya. Yang bagi saya pribadi merupakan puisi penggerak, saat jiwa mulai layu. Puisi penggubah cahaya saat kelam mulai berjejak. Sekaligus merupakan puisi yang tiap baitnya begitu indah dan menghujam hingga jauh setelahnya.
Sekolah Alam (Part 1)
Banyak alasan untuk pindah.
Pindah untuk mendapatkan yang lebih baik.
Pindah untuk lebih dibebaskan menjadi diri sendiri.
Dan pindah untuk diakui sebagai pribadi yang unik.
Itulah beberapa alasan utama mereka pindah ke Sekolah Alam.
Gramedia Bogor, pertengahan oktober 2005, saat mentari begitu menyengat,
Liburan?? Hhmm, menurut saya adalah toko buku. Ya Gramedia, Gunung Agung, Al-Amin, Nurul Fikri, Bazaar-bazaar buku, Gerai Buku, sampai mas-mas ramah dengan senyum lebarnya di stasiun Sudirman yang menjajakan majalah super lengkap mulai dari Cita Cinta, SWA sampai Tarbawi. Hah, Serius? Hhaha.. iyya, karena liburan bagi saya ya identik dengan arung jeram, outbond, bungee jumping, kemping gitu, atau jalan-jalan ke desanya teman saya di Lampung. Tapi berhubung di Bogor minim sekali pilihannya, jadi saat melerai setiap otak yang kusut ya dengan jalan-jalan melalui buku, tapi terlebih dahulu ya dibeli dulu bukunya hehe, dan dimana lagi kalau bukan toko buku.
Maka jadilah toko buku tempat favorit saya. Meski cuma memelototi setiap buku dan memaksa mas-mas penjaganya merobek plastik bukunya supaya saya bisa melihat detail isinya, sudah melegakan hati. Yah, walaupun karena bukunya tidak bermutu, terkadang tanpa rasa malu saya letakkan buku yang sudah susah payah dirobek plastiknya itu disertai senyum manis dan kata-kata maaf yang ajaib untuk penjaganya. Dan bereslah semua. Oh ya, ada satu hal lagi yang membuat saya memfavoritkan toko buku, pertemuan-pertemuan tak disengaja dengan teman-teman lama saya. Ya, seperti hari itu. Tatapan saya menubruk seseorang diujung sana, bagian buku-buku laris.
“ Sigiiitt ??!! “
“ Desii ??!! “
Huaah, saya bertemu teman SMU saya, teman satu organisasi dulu. Dan dia tidak berubah banyak. Masih seseorang yang beraura kebapakan dengan senyum lebarnya yang khas. Lalu obrolan pun mengalir. Dan kami pun bertukar kabar. Sigit lulusan IPB. Dia kini seorang guru. Sekolah Alam, ujarnya berjeda. Dan saya mengenalinya sebagai rasa bangga. Hingga kami berbalas salam, dan dia menghilang di kasir, saya masih merasakan rasa bangganya. Pada profesinya. Pada sekolah tempatnya mengajar. Hhhm, menarik.. Dan saya pun kembali menekuri buku-buku di deretan berikutnya.
Saya langsung teringat Sigit saat saya menemukan sebuah buku. Covernya lucu. Coret-coretan seorang anak umur lima tahun. Kok saya tahu, habis persis coretan adik saya yang kecil. Judulnya, Menemukan Sekolah yang Membebaskan ditulis oleh Komunitas Sekolah Alam. Kali ini saya tidak memaksa penjaganya membuka plastiknya, saya masukkan langsung ke keranjang. Lebih karena rasa ingin tahu saya akan rasa bangganya Sigit pada Sekolah Alam dan sedikit woman’ s feeling bahwa buku ini buku yang bagus.
Maka mulailah liburan saya kali ini. Saya menghabiskannya di kereta. Dan setelahnya saya ingin sekali menuliskan rentetan kata-kata yang dimulai dengan ranting-ranting merah di bawah pohon perdu, percik air dalam warna bulan atau semburat-semburat jingga dalam lembayung pagi dan berjuta kata-kata indah lainnya yang bisa terangkai. Betapa kita memiliki kilau sejati berlian yang tidak pupus, kekuatan dan ketabahan hati-hati yang lapang untuk menanggung beban dan amanah umat. Ya, anak-anak. Makhluk suci berparas cahaya.
Kata pengantar yang ditutur oleh ustadz kesayangan saya, ustadz Anis Matta, selalu seperti biasanya, menoreh sangat dalam. Beliau berbicara tentang belajar adalah proses berubah secara konstan. Tentang ’luka persepsi’ saat usia dini yang mungkin melahirkan ’luka emosi’ saat usia menanjak dewasa. Tentang wajah-wajah penuh cahaya yang dilahirkan tidak untuk menanggung obsesi-obsesi sang orang tua. Tentang ’menjadi’, bukan ’menguasai’ sesuatu. Tentang belajar matematika yang melatih kemampuan logika seseorang, tentang belajar sejarah yang menajamkan kesadaran atas identitas kolektif. Tentang pengetahuan adalah sebuah ’fungsi’ bukan ’barang’ yang diperdagangkan dalam komoditas sekolah. Tentang tradisi ilmiah, tentang pengembangan intelektual berkesinambungan, tentang sikap seseorang terhadap pengetahuan, bukan hanya ’sekedar’ prestasi belajar. Dan begitu banyak ’tentang’ lainnya yang beliau petik dari pengalamannya menyekolahkan keempat anaknya di Sekolah Alam.
Dan selebihnya buku tersebut menggulirkan apa yang ada. Begitu terbuka. Sehingga yang lahir hanyalah keindahan. Tak lebih.
Proyek idealis membangun bangsa, simpul saya saat menyudahinya. Buku ringan yang tak disangka sangat berat. Gabungan dari begitu banyak pola pikir, tulisan dan patahan-patahan episode hidup. Mulai dari penggagas ide, pendiri, guru, orang tua murid hingga murid-muridnya sendiri. Semuanya bercerita. Dan percik-percik yang tertampung begitu sederhananya mengalun. Dari kisah tentang menitikberatkan pada konsep manusia sebagai makhluk individu yang unik, tidak hanya ’kecerdasan’ yang diukur dari angka-angka, tanpa diberi kesempatan untuk menampilkan keunikannya. Lalu kisah tentang sekolah yang mendidik, bukan hanya mengajar. Ada lagi kisah menginap di sekolah untuk mengamati planet Mars, outbond lengkap dengan tali temali dan kolam pasir, market day saat belajar mengenai uang dengan praktik berjualan, tidak adanya seragam, kepercayaan bahwa setiap anak dilahirkan sebagai anak pandai dengan cara yang mungkin berbeda-beda, tentang saung sebagai ruang kelas, tentang rumah pohon, tentang kolam ikan dan berbagai macam tumbuhan, tentang sekolah yang membebaskan anak-anak untuk menjadi dirinya sendiri. Kisah lainnya tentang seorang anak yang menasehati bundanya saat sedang marah, “Bunda, jangan marah... surga bagimu, ayo Bunda, istighfar ya... “. Sekolah yang tidak hanya bemurid anak-anak, tapi orangtua murid pun turut serta ikut belajar, bahkan hingga khadimat-khadimatnya. Sekolah yang memiliki kurikulum ’belajar untuk hidup’ dan bukan ’belajar untuk sekolah’. Hhh... hati saya berdegup. Saya harus melihat sekolah ini.
Saturday, November 25, 2006
Facial ? ;p
Dia akhir empat puluh tebakanku. Mmmh.... nope, pertengahan lima puluh tepatnya. Ya rasanya begitu, dibalik segala ”persenjataan perang”-nya mulai dari pelembab, bedak dan blush on serta gradasi warna sepatu yang match dengan tas dan busananya, dia layak menjadi nenek seseorang. Gerak-geriknya energik. Dan saya memperhatikannya. Ya iyalah, dia kan pembicara dan saya peserta. Sebuah conference yang kebetulan diadakan oleh kantor saya. Bertema Woman and Leadership.
Tapi berbeda dengan pembicara sebelumnya, yang semuanya adalah perempuan, baik itu direktur utama sebuah bank milik pemerintah yang terkemuka, pemilik perusahaan yang sedang berkembang pesat hingga salah seorang tokoh penggerak bangkitnya perfilman Indonesia, ibu satu ini tidak sedikit pun menyentuh tema kepemimpinan, karena memang beliau mendapat peran menjelaskan tentang hakikat perempuan. Dan beliau pun sibuk mempromosikan buku terbarunya. Yang kebetulan baru saja terbit. Saya sempat melihat buku terbarunya di Gramedia. Buku ekslusif yang harganya bersaing keras dengan Keown-nya anak Accounting. Isinya tidak lain, bagaimana menghadiri sebuah pesta, tata busana, tata krama hingga penggunaan sendok dan pisau serta tidak lupa cara berjalan dan bergaul. Whoooaa… buku ibu-ibu pejabat, waktu dulu saya menyimpulkannya demikian, atau ibu-ibu yang kebanyakan waktu dan uang yang begitu mementingkan keserasian busana dan pernak-pernik lainnya dibandingkan isi kepalanya. Oalahh desi, sentimen berat !!
Saya tersenyum simpul. Mencoba sedikit lebih realistis. Ada kok tipe ibu-ibu yang akan masuk di antrian pertama pembeli buku ekslusif tadi. Saya melirik modul sekilas, sekarang masuk bagian kepribadian perempuan. Hhhh… bukannya saya tidak antusias dengan ceramah-ceramahnya, tapi sebaliknya, saya tertarik sekali. Hanya saja saya tidak begitu nyaman dengan cara beliau membawakannya. Sehingga berkali-kali ekor mata saya hinggap di jam tangan atau melayang memperhatikan interior ball room Ritz yang baru dibangun ini atau sekedar reaksi orang-orang di sekitar saya.
Dan memacu pikiran saya agar tetap tertuju padanya dibutuhkan upaya cukup keras. Dan saat saya akhirnya berhasil menyimak ceramahnya, beliau sedang menyinggung tema mengenai kebersihan. Hmm, layak didengarkan. Beliau menekankan tentang pentingnya perawatan pakaian dan tubuh, mulai dari mengganti pakaian dari ujung kepala sampai ujung kaki dan pakaian terluar sampai pakaian terdalam sehari sekali, hingga teraturnya luluran, creambath, facial dan perawatan tubuh lainnya. Hihihi.. saya meringis pelan. Antara miris dengan geli.
Percayalah, saya baru berkenalan dengan salon akhir-akhir ini. Haha… benar kok, saya tidak bohong. Salon dalam artian sesungguhnya ya, bukan salon untuk potong rambut tok ya, tapi perawatan tubuh keseluruhan. Saat saya mampu menghasilkan uang sendiri yang setelah ditempatkan pada beberapa pos wajib masih bersisa. Saat saya berganti status dari mahasiswa menjadi karyawan. Saat saya mendapati kenyataan bahwa kecepatan membeli buku saya melebihi kecepatan membaca buku itu sendiri, akibat waktu luang yang mulai terpangkas. Haha.. betapa dilemanya hidup.
Tapi saya ingat perkenalan awal saya dulu dengan tempat yang bernama salon. Letaknya di deretan Margonda. Beberapa bulan yang lalu selesai menghadiri acara HUT FE. Tengah hari yang terik saat badan terasa tanpa penopang karena “dipaksa” bangun sedemikian pagi. Lalu teringat ucapan seorang teman kalau di salon bisa menghilangkan lelah dan penat, akhirnya saya singgah juga. Alasan yang terdengar sedikit konyol memang, tapi akhirnya saya berada di resepsionis, memelototi daftar jasa yang tersedia. Facial buah, facial ekstra.., facial mawar, etc etc.. lalu creambath dan kesekian puluh jenisnya, dan berlembar-lembar keterangan dan produk jasa lainnya. Wuihh… banyaknya. Dan pada akhirnya memutuskan ringan mungkin saya harus mencoba creambath dulu, saya berpapasan dengan adik kelas saya, masih tingkat dua. Ia sudah menyelesaikan facialnya. Dan berujar cepat bahwa facialnya untuk mengatasi masalah jerawatnya. Hihihi, saya tersenyum geli, saat seusianya saya bahkan tidak terpikir facial itu untuk apa. Saya menyelesaikan creambath dengan sedikit lega, dan sedikit lebih segar serta sedikit patah tulang, karena saya benar-benar menikmati ‘proses pemijatannya’. Hahaha…
Kali kedua, saya diajak mengunjungi salon yang berbeda, tapi masih salon muslimah. Yang pada akhirnya jadi salon favorit saya. Masih berlokasi di Margonda. Tapi dengan suasana yang lebih nyaman dan corak ornamen jawa kental yang membuat pelanggannya serasa putri keraton. Kali ini saya memilih facial. Dan untuk produk jasa ini saya terpaksa mengiyakan pendapat teman kantor saya yang bersikeras kalau perempuan itu harus tahan sakit. Ia berpendapat demikian karena proses siklus bulanannya dan melahirkan oleh perempuan pada umumnya. Tapi menurut saya, bahkan dalam rangka perawatan pun, perempuan harus bersakit-sakit ria, karena difacial itu sakit saudara-saudara. Saya tidak melihat apa yang mereka lakukan, karena saya berbaring sambil terpejam, tapi saya bisa merasakannya. Seperti ada aliran listrik yang disentuhkan pada wajah kita, lalu bunyi besi yang berderit-derit dan begitu memilukan, dan wajah kita ditarik-tarik dengan benda yang terasa seperti pencabut botol. Huaahh... saat itu dalam pikiran saya, mungkin ini yang pertama dan terakhir kalinya saya difacial, mengingat untuk menghilangkan komedo dan jerawat saja mesti berkali-kali minta tissue kering untuk mengusap daerah sekitar mata yang tiba-tiba basah. Dan setelahnya, saat saya menengok teman saya yang juga difacial, saya mendapati matanya juga sama sembabnya dengan mata saya. Hahaha...
Kembali ke bangunan dengan bentuk aneh yang sulit dikategorikan segi empat atau segi tiga yang kebetulan dinamai Ritz Carlton, dengan senyum lebar, menertawai episode lalu saya dan juga gaya ibu pembicara di depan yang menggambarkan seorang perempuan yang tidak rajin melakukan perawatan tubuh, pikiran saya seperti dilecut dengan beberapa pernyataan seperti perempuan itu harus cantik, harus menarik, menghargai dirinya agar dihargai orang lain dengan cara merawat tubuhnya, dan karena memang demikianlah hakikat perempuan.
Untuk beberapa jangka, saya terdiam mengiyakan, saya sepakat kita harus merawat tubuh kita – terlepas dari bagaimana pun bentuk perawataanya -- karena dengan begitu berarti kita mensyukuri nikmat Allah, menjaga amanah-Nya dan juga menghargai diri kita sehingga orang pun secara tidak langsung akan menghargai kita. Tapi selebihnya, mengingat konteks dan konsep buah pikirannya, hati saya menggeleng keras.
Pikiran saya segera terbang pada beberapa raut wajah yang begitu saya kenal. Wajah sederhana tanpa polesan make-up. Namun, saat tersenyum, seakan seluruh cahaya mentari tumpah ruah di wajahnya. Ia selalu tersenyum sangat tulus. Dan ketulusannya melekat jauh ke dalam hati. Ada lagi wajah polos sederhana lainya, tapi matanya begitu berkilau saat ia mendengarkan gundahmu, melerai setiap pahit ceritamu, dan ia pun menjelma menjadi bidadari tercantik yang hadir ke bumi karena ia menerimamu begitu apa adanya. Hhh....
Maka, dalam perjalanan pulang dalam taksi menuju Stasiun Sudirman, saya pun berseru dalam hati. Wahai perempuan dimana saja, mari kita berdoa bersama, semoga seseorang yang memilih kita untuk dijadikan pelipur laranya, pelepas gundahnya dan penenang gelisahnya bukan dari lembutnya kulit kita, halusnya wajah kita, lentiknya jari jemari kita, bukan hanya sekedar bungkus. Bukan karena sesuatu yang begitu rapuh dan mudah luruh. Begitu gampang hilang dan tersapu waktu seperti apa yang begitu jelas terpampang.
Semoga kita dipilih karena keimanan kita, buah pikiran kita, kehalusan kepribadian kita, kelembutan akhlak kita, dan kelapangan hati dan jiwa kita. Yang keseluruhan berpadu dalam sinaran yang memancar dari aura kita, saya yakin demikian. Karena itulah hakikat perempuan. Sebenarnya. Aah.. itulah doa terindah saya hari itu.
Sunday, July 30, 2006
maka, beribu doa pun melangit..
’Bunda sayang, izinkan aku, ya ?’
pintaku lembut saat itu,
dan semburat jingga pun bertabur dalam damai,
sedang penggalan-penggalannya menjelma beribu cahaya,
memercik luruh relung-relung yang tiba-tiba menyeruak,
menyisakan harap yang kian bergulir,
matamu meredup, peluh pun mulai jatuh,
beriringan, dan tatapmu nanar,
sedang raut kelam berdesing keras menguak sepi,
melekat gundah sedemikian erat,
’tidakkah sayapmu masih rentan, Nak?
sedang angin di luar pun sedemikian keras berderak,
bahkan mentari seringnya menyengat tajam,
dan itu membuatku galau, sungguh... ’
aku memeluknya,
menyimpan lapis demi lapis cintanya,
menitipkannya pada sinaran yang melingkar,
hanya sesaat,
karena dadaku sedemikian sesak,
sedang cintanya bergulir tanpa putus...
‘....insyaAllah, dia laki-laki terbaik pilihan Allah, bunda, untukku…
tidakkah itu indah ?
laki-laki terbaik pilihan Allah, bunda, untukku...’, pekikku parau
helaan napas panjang, berbaur rindu,
dan syahdu yang mengumandang, kini menjejak kuat
lalu, ia mengusap kepalaku, menyandarkan separuh napasnya
dan mungkin seluruh, karena kini haru mulai berbercak
’sayapku mungkin masih rentan, tapi sayap kami akan saling menyangga kan, bunda ?
hingga akhirnya mampu mengepak seluas dahaga sekuat sayap bunda kelak,
bukankah itu yang bunda ajarkan ?’
’bukankah bunda yang memanggilnya datang,
lewat doa-doa panjang bunda,
lewat sujud-sujud syahdu bunda,
dan dalam perjalanannya meniti langit, ia kini mengajakku serta,
bukankah ini yang bunda adukan dulu pada Pemilik Hati ?’
’................... dan bunda,
ia mencintai Allah,
belajar mencintai Allah sedemikian kuat,
tidakkah itu sudah cukup, bunda ?’
napasnya kini berbalur haru,
luruh sudah segala,
maka, beribu doa pun melangit,
memenggal setiap gulita,
melebur pupus,
dalam rangkaian panjang sebuah cita,
hanya Allah saja ………
Sunday, April 02, 2006
Azzamku
Aku bersumpah wahai diri
Masuklah engkau ke medan ini
Aatau kupaksakan dirimu
Bila semua orang berteriak “Maju“
Mengapa masih juga membenci surga !!!!!
Sudah lama hidupmu dalam tenang
Jiwa,….. oh jiwa…..
Kalaupun tak terbunuh di jalan ini
Dirimu akan mati jua
Inilah jalan keabadian
Yang paling sempurna
Lakukanlah, kau akan bahagia
Elakanlah, kau akan celaka
Abdullah bin Ruwahah – saat perang Uhud ---
Sunday, March 19, 2006
Puisi Pembangun Jiwa
mas kawin untuk bidadariku
adalah sekuntum bunga melati
yang aku petik
dari sujud sembahyangku
setiap hari
buah cintaku
dengan bidadariku
adalah lahirnya sejuta generasi teladan
yang menggendong tempayan-tempayan kemanfaatan
bagi manusia dan kemanusiaan
pada setiap tempat, pada setiap zaman
mereka lahir demi kesejatian sebuah pengabdian
dalam abad-abad yang susah,
abad-abad tidak mengenal Tuhan
abad-abad hilang naluri kemanusiaan
abad-abad berkuasa rezim-rezim kemungkaran
dan mereka tetap kekar dan setia
membela kebenaran
dan keadilan
estafet perjuangan kami berkelanjutan
sambung-menyambung pada setiap generasi
tak berpenghabisan
terus bergerak
mengaliri ladang-ladang peradaban
seperti cintaku
pada bidadariku
yang terus tumbuh
semakin subur
dari hari ke hari
laksana kalimat-kalimat suci
di hati para salehin
di hati para nabi
(Habiburrahman El Shirazy, ”Bidadariku”, 2000)
untuk sebuah hati. yang jauh. saat Allah menyusupkan ketenangan dengan begitu mudahnya.
Monday, January 30, 2006
Ada banyak ruang di hati kita ....
But, life is about choosing wisely, rite ?
Sekarang, berarti tinggal kitanya, mau dan bisa tidak untuk memilih secara bijak.
Kita bisa menghabiskan separuh napas kita untuk berada dalam ruang berkeluh kesah. Atau kita pun bisa memangkas habis seluruh hayat kita dalam ruang bernama kesepian. Semuanya hanya sebuah pilihan. Dan seperti halnya sebuah pilihan, dibelakangnya berderet berantai konsekuensi. Jika dan jika, hanya dan bila, lalu dan kemudian. Hhh...
Ada banyak ruang di hati kita. Ada ruang untuk mengurai letih. Ada ruang untuk merangkai cita. Ada ruang untuk memecah penat. Ada ruang untuk menabur kemilau. Ada ruang untuk rasa-rasa tak bernama, dan begitu banyak ruang untuk setiap jeda dalam hidup kita.
Again, life is about choosing wisely, rite ?
Seluruhnya pilihan. Beribu jalan membentang di hadapan. Bertaut pintu terbuka siap dimasuki. Dengan jutaan kilau pesona warna yang ditawarkan. Dan seluruhnya hanya sebuah pilihan.
Look, betapa hebatnya manusia ciptaan Allah ya ? Sanggup memilih. Untuk membangkang. Atau tunduk pasrah. Untuk hina. Atau mulia. Untuk bahagia utuh dan seluruh. Atau pilu penuh sesal di setiap jarak.
Hhmm.. tapi manusia adalah manusia. Sejatinya manusia. Bukan alunan cahaya. Bukan pula kobaran api. Hanya tanah. Dan seluruhnya adalah tanah. Ia mulia karena ruh yang ditiupkan-Nya. Ia mulia karena kehendak, kemauan dan kemampuan. Ia akan tetap mulia. Sungguh mulia. Karena pilihan-pilihan. Ia pun bisa hina. Sungguh terpuruk. Karena pilihan-pilihan. Dan seluruhnya hanya sebuah pilihan.
Ada banyak ruang di hati kita. Ada ruang untuk menyemai bintang. Ada ruang untuk setiap tatapan. Ada ruang untuk seluruh pagi dan senja. Ada ruang untuk rasa rentan yang bertahan. Ada ruang untuk setiap kerapuhan. Ada ruang untuk rasa-rasa tak bernama, dan begitu banyak ruang untuk setiap jeda dalam hidup kita.
But, again, life is about choosing wisely, rite ?
Karena manusia hakikatnya adalah jalinan sendu. Maka, mari sejenak berkunjung ke ruang kerapuhan, ruang mengurai perih, ruang setiap guliran pupus. Ruang yang tampak hanya biru di setiap sisinya. Nikmati setiap jamuannya. Dan jadilah manusia. Namun saat semua mulai menghujam, segeralah berpamitan. Ingat, kita hanya berkunjung. Sejenak. Kita hanya meletakkan lara kita saja. Meninggalkannya di sana. Dan berlatih untuk bersabar. Hingga setelahnya, jauh setelahnya, langkah kita terasa ringan.
Karena manusia hakikatnya adalah rautan gelak tawa. Maka, mari sejenak berkunjung ke ruang penuh kelegaan, ruang menuai kemilau, ruang penuh sinar berbalut semburat hijau. Ruang yang melayangkan setiap berat yang kerap hadir. Nikmati setiap jamuannya. Dan jadilah manusia. Namun saat semua mulai melambung, segeralah berpamitan. Ingat, kita hanya berkunjung. Sejenak. Kita hanya meletakkan lega kita saja. Menitipkannya di sana. Dan berlatih untuk bersyukur. Hingga setelahnya, jauh setelahnya, langkah kita terasa ringan.
Karena begitulah hakikatnya ruang dan rasa. Semuanya bermuara pada Allah. Saja. Allah yang mencipta setiap ruang. Allah yang menghadirkan setiap rasa. Ia pemilik segalanya. Kita hanya pelaksana saja. Menunaikan segala sesuatunya sesuai dengan porsinya. Tidak berlebihan. Karena yang cukup itu baik. Baik untuk kesehatan jiwa. Baik untuk ketenangan Hingga diujung jalan nanti, yang mendekap kita hanya kebaikan semata. Lalu damai pun menyelubungi. Maka jadilah manusia. Maka, jadilah jiwa-jiwa tenang. Will you ?
Desi Novita Sari
Bismillah, dengan hati menuju tenang
29 jan 06, 11:08 pm
Friday, January 13, 2006
Perasaan saya tentang Novel ”I don’t know how she does it” by Allison Pearson
From : Kate Reddy, Wrothly, Yorkshire
To : Debra Richardson
Debs sayang, bagaimana kabarmu?
……………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………..
Kau tahu aku selalu mengatakan ingin bersama anak-anakku. Oke, aku benar-benar ingin bersama anak-anakku. Kadang-kadang, kalau pulang terlambat untuk mengantar Emily tidur, aku menghampiri keranjang cucian dan Menghirup Bau Pakaian Mereka. Aku begitu kehilangan mereka. Aku belum pernah mengatakan ini pada siapa pun. Tapi begitu aku bersama mereka, seperti sekarang ini, kebutuhan mereka jadi seperti tak ada habisnya. Rasanya seperti hubungan cinta yang dijejalkan ke dalam satu akhir minggu yang panjang – hasrat, ciuman, air mata, aku sayang padamu, jangan tinggalkan aku, aku mau minum, kau lebih sayang dia daripada aku, bawa aku ke ranjangmu, rambutmu bagus, peluk aku, aku benci padamu.
Capek dan ngeri dan ingin buru-buru kembali kerja supaya bisa istirahat. Ibu macam apa yang takut pada anak-anaknya sendiri ?
Salam dari Wrothly,
K8 xxxxx
Saya pertama kali melihatnya di toko buku Gunung Agung. Niatnya sih sekedar membeli DVD Akal untuk adik saya. Dan berwanti-wanti dalam hati untuk tidak membeli novel lagi. Dengan tanda seru dan garis bawah tiga rangkap !! Tapi saya tidak bisa menahan diri untuk sekedar melewati rak novel. Saya pikir, ah
Dan lalu saya menemukannya. Di baris keempat. Warna covernya ramai, khas chiklit. Heyy, ini chiklit. Bayangkan, saya bahkan belum pernah tertarik pada chiklit sebelumnya. Saya pikir chiklit adalah bacaan yang terlalu ringan dan saking ringannya seperti melayang di udara, tidak berbekas bacanya. Huh !! Tapi rasanya rumusan tadi tidak berlaku. Saya meraihnya. Begitu saja. Membaca selintas judulnya : ”I don’t know how she does it ” yang diterjemahkan ”Sibuk Berat ”. Lalu membaca cover belakangnya.
”Kate Reddy, seorang manager investasi.............“
Huahh, mungkin saya langsung jatuh cinta pada buku ini gara-gara kata investasi. Terus terang saya rindu sekali bahasan investasi. Saya menekuninya saat kuliah. Felt like this topic is my blood. Tapi lalu mengikisnya perlahan karena bidang pekerjaan saya sekarang jauh sekali dari lingkupan investasi L.
”..............., ibu dua anak. Hidupnya diperhitungkan hingga ke menitnya, dan kepalanya berisi jutaan hal yang harus diingat. Presentasi, konser Natal di sekolah, telekonferensi dengan klien, membatalkan janji spa, mengecek indeks Dow Jones. ..... Dengan begitu banyak bola yang melayang di udara, cepat atau lambat salah satunya pasti jatuh juga. ”
Oke, ---dalam hati saya sok menyimpulkan---, jadi tokoh utamanya seorang ibu dua anak yang juga manager investasi yang super sibuk. Dan dia membagi – entah jika memang ada yang bisa dibagi – antara rumah dan kantornya. Baiklah, topik yang sensitif.
Di kantor saya, topik ini seperti gigitan nyamuk, kau tak bisa menikmatinya jika tidak menggaruknya. Bolehlah kantor saya mendapat award ”the best company for working mother”, tapi seorang perempuan adalah seorang ibu, bahkan sebelum dia menjadi karyawan, saat dia dilahirkan ke dunia pun dia sudah berpredikat seorang calon ibu. Dia tidak menikmati penuh pekerjaannya sebenarnya, dia hanya membagi perasaanya menjadi dua dan diharapkan pengorbanan itu sudah cukup. Ah, betapa sok tahunya saya, kan saya belum menjadi seorang ibu J.
Saya masih menggigiti bibir, saat melenggang keluar Gunung Agung tanpa buku itu. Padahal saya sudah hampir menghabiskan bab satu tanpa keluhan satu pun – bayangkan, saya yang selalu mengeluh setiap saat kali ini tidak mengeluh -- dan dengan berat hati meletakkannya kembali. Ini gara-gara saya beli buku ”Jika Einsten jadi Koki”, ”Growth Everyday”-nya Dottie siapa itu, terus delapan buku lainnya yang saya beli saat saya ’kalap’ minggu kemarin. Disiplin desi, disiplin, ujar saya berkali-kali.
Oke, baiklah, jika saya tidak boleh membelinya mengingat integritas saya dan janji bodoh untuk menepati pada diri sendiri – hikks. Kita kan bisa menyewanya. Ide bagus ( sungguh ? ). Maka keesokan harinya – yang kebetulan masih libur lebaran --, saya pergi ke Gerai Buku. Tempat penyewaan buku yang punya konsep bagus mulai dari tempat yang luas dan bersih, sofa-sofa empuk, buku-buku rapih yang bersampul jali, musik yang easy listening, hingga hari peminjaman yang cuma satu hari serta denda yang ekstra ketat. Konsep yang sama juga diterapkan oleh BUBU yang berlokasi di Margonda – UI – tapi dengan ukuran yang lebih kecil dan tingkat kenyaman tempat beberapa derajat lebih rendah.
Buku ini lumayan tebal – 468 halaman. Sebenarnya saya bisa membacanya habis dalam empat jam non stop. Tapi ternyata saya menghabiskannya dalam waktu enam hari – untung saya menyewa enam buku di Gerai Buku, pemborosan sejati karena tidak dibaca, kalau tidak bisa dibilang tindakan yang bodoh -- hikks. Karena setiap satu halaman, saya hanya harus berpikir sebentar dan lalu tertawa miris. Terlalu penuh kepala saya jika saya memaksa membaca keseluruhan buku tanpa mencerna dan mengunyahnya perlahan-lahan hingga saya menemukan inti sarinya. Karena itulah dibutuhkan waktu untuk sehari membaca penuh dan tertawa seminggu setelahnya.
Betapa miripnya apa yang dituliskan Allison Pearson dengan apa yang saya jalani setiap hari atau working mother lainnya. Draft untuk telecon nanti siang, review super singkat dengan bos besar yang tidak bisa terima hal lain kecuali kabar baik, bahan untuk meeting dengan cross team mate, dan kekacaubalauan lainnya yang sering terjadi di kantor. Atau telepon dini hari saat team mate menelepon mengatakan kondisi darurat di customer. Dan mengharuskan saya membuka laptop saya dan bicara dengan orang-orang Austria mengenai satu license keys yang harus selesai saat matahari terbit di negara saya. Tak terbayangkan jika saya punya suami nanti, apakah dia akan mengizinkan saya berada dalam ’kehidupan nyata’ kalau tidak dibilang ’kegilaan yang konsisten’. Haha... Belum lagi ditambah dengan aktivitas sebagai ibu yang tidak tergantikan. Wwoow.. .. i don’t know how she does it !! And i don’t know how you all do it, moms !!
Saya suka membaca novel ini karena seperti membaca bagian hidup seseorang yang begitu dekat. Seperti membaca buku harian seseorang dan merasa bersalah karena meneruskannya hingga lembar terakhir. Alurnya yang super cepat, naik turun, konflik-konfliknya yang menyedot tabungan emosi saya untuk tertawa, miris, jijik dan ber-mellow ria. Semuanya menakjubkan. Bahkan hingga epilognya yang menutup kisah ini dengan cukup bijak – yah setidaknya begitulah menurut saya. Ia memaparkan secara luwes apa yang mendorong seorang ibu bekerja, mulai dari materi yang lebih untuk memberikan seluruh fasilitas hidup terbaik bagi anak dan keluarga hingga materi lagi dan materi lagi. Hahaha…
Saya jadi teringat dulu saat masa sekolah, setiap pulang latihan Taekwondo, saya selalu melewati Yamaha Music tempat les piano. Saya hanya bisa memandangnya dari balik kaca. Seluruh piano dan alat musik lainnya yang begitu tampak mewah. Dan berpikir, mungkin suatu hari nanti, anak cucu saya harus dengan mudah bisa mengikuti seluruh les yang dia mau. Apapun itu. Hhmm.. sepertinya saya begitu mudahnya memahami Kate Reddy.
Selain masalah double occupation – as a mother and full time employee – dan perkembangan terbaru pasar saham dunia serta tak lupa Alan Greenspans-nya, Allison Pearson pun menyinggung diskriminasi gender di perusahaan, peran laki-laki – sebagai suami dan ayah -- dalam sebuah keluarga, hubungan mertua-menantu, sexual harrasment yang ‘terkesan’ wajar dan akhir yang manis dari persengkokolan para wanita – haha.. saya suka sekali bagian ini :p
Jeda lunch break, saya sempatkan untuk mencari informasi mengenai Allison Pearson di Google. Ternyata buku ini mendapatkan award pada tahun 2003 untuk beberapa kategori – saya tidak ingat detailnya, mungkin Critic Book of the Year-nya UK etc. Awalnya adalah tulisan lepas di Daily Telegraph-nya Inggris dan setelah itu dibukukan. Saya tidak meneruskan pencarian informasi mengenai background Mrs Pearson. Tapi saya meyakini jika ia pernah menjadi seorang manager investasi karena menggambarkan alur yang begitu cerdas dan tepat, dan jika ternyata tidak, berarti ia penulis yang saya cintai kedua setelah Mba Imun J.
Untuk buku ini, meski Amazon.com memberinya empat jempol dari lima yang ada, maka saya memberinya satu hati saya dan teriakan : Heyy guys, buku ini sangat layak dibaca, direnungi dan ditertawakan – itu harus, karena selera humor seringnya memudahkan seesorang bertahan di sebuah dunia yang berputar. Terus berputar. Dan berputar.
Maka sore ini, saat saya menggadaikan integritas saya dan berjanji inilah hal terakhir yang tidak saya tepati, saya menelepon inibuku.com dan menambahkan satu buku dalam keranjang belanja saya sambil mengitung sisa hari hingga gajian bulan ini.
”.... ya, mba, ……judul bahasa indonesianya, Sibuk Berat.. benar… Allison Pearson, ……Oke, .. lantai 32 ya, langsung hubungi nomer saya.... cash on delivery, baiklah.. terima kasih ..”
Hhh, ada yang membuncah seketika, haru dan penghargaan…
Salam hormat saya untuk seluruh ibu di dunia. Betapa kalian begitu sangat hebatnya !!!
Ulasan Novel Negara Kelima-nya ES Ito
“Ibu, Aku Ingin Mengubah Bintang.....“
Hhhh... indah sekali. Sesederhana itu. Dan saya jatuh cinta. Seketika.
Haha.. saya tidak sedang menulis tentang seseorang. Tapi tentang sesuatu. Sebuah buku. Mmh.. sebuah novel tepatnya. Seorang teman merekomendasikannya awal Desember kemarin. Dan saya menemukannya beberapa hari yang lalu. Tadinya saya sempat hopeless. Wong, saya browse di toko buku online langganan saya aja – yang super update itu -- gak ketemu. Eh, ternyata saya menemukannya secara tidak sengaja pas lunch break jum’at siang di Gramedia, Plangi. Yee, itu kan toko buku besar, kenapa gak dari kemarin aja ke sana, haha.. iya, soalnya ga sempat. Lagipula saya pikir, sepertinya tidak mugkin ada di Gramedia kalau di toko buku onlinenya aja nihil. Yaah, ternyata saya salah. Dan akhirnya saya mencatat rekor belanja buku tercepat. Pffiuhh...
Saya menemukannya di deretan buku-buku baru. Agak tersembunyi. Yah, pertama memang karena covernya gak eye catching – hitam suram dengan guratan-guratan biru kelam. Terus judulnya juga gak komersil : Negara Kelima. Terakhir, nama pengarangnya juga ga menjual : ES Ito. Hehe.. dasar desi, komentator sejati. Tapi toh saya tidak sempat berpikir dua kali, tidak sempat intip-intip isi novelnya (iyalah, kan diplastikin), tidak sempat pilih-pilih cetakan yang lebih bagus, segera novel itu saya bawa lari ke Kassa. Pertama karena hp saya berdering terus dengan suara galak plus ancaman teman kantor saya diujung sana kalau gak keluar Gramedia sekarang juga ditinggal pulang ke kantor – hiyyy galak deh, maklum, hampir lewat jam satu. Kedua, dan yang paling penting, karena saya mengenal pengarangnya.
’ES Ito, lahir pada tahun seribu sembilan ratus delapan puluh satu. Ibunya seorang petani, bapaknya seorang pedagang.’
Yupp, hanya itu saja keterangan tentang penulis. Letaknya di halaman terakhir. Dia ingin menyembunyikan identitasnya. Dan saya akan menghargainya dengan tidak menyebutkan secara eksplisit namanya. Tapi dia senior saya di kampus. Salah seorang aktivis kampus. Dulu, saya biasa membaca guratan-guratan pikirannya di mading BOE (Badan Otonom Economica FEUI) dengan pegal. Lho, kok pegal? hehe.. kan bacanya sambil berdiri. Dan tulisannya bisa berlembar-lembar panjangnya. Sarat akan semangat, gelisah dan harapan akan sebuah perubahan. Penuh realita.
Hhm.. tadinya saya berpikir jangan-jangan saya akan menemukan realita juga di novel ini. Bukan jenis tulisan yang akan saya pilih saat week end. Saya lebih menyukai negeri-negeri dongeng pada sebuah novel. Tentang mimpi dan cita-cita. Yah, tipikal LOTR, Harry Potter atau novel-novel indah yang sarat akan rasa-nya FLP. Hahha.. karena alasan sederhana, kita terbiasa melihat realita di sekitar kita. Di kereta api. Di tivi. Di kampus. Di kantor. Di jalanan. Dan bisa jadi pikiran kita akan terlampau penat. Sedang kita harus belajar untuk bermimpi. Tentang sesuatu yang lebih baik. Sesuatu yang lebih indah. Yah, begitulah...
Tapi toh, saya justru membacanya saat libur kompensasi tahun baru. Dalam semalam. Kalimat pembukanya – seperti yang saya tulis diatas – sangat indah. Mungkin karena mengandung unsur kata ’Ibu’. Sedang menurut saya, ’Ibu’ adalah salah satu kata terindah yang tercipta. Hhh...
By the way, novel ini unik. Genre yang berbeda dari yang biasa saya baca. Berarti bukan tipe melow dong? Hehe.. yupp, bukan tipe yang menyayat-nyayat perasaan saya. Saya tidak merasa terlibat secara emosional dengan alur dan para pelakunya. Saya juga tidak merasa terjun dan menyelami perasaan tiap tokohnya. Saya merasa seperti orang lain diluar lingkaran besarnya. Menatapi setiap putaran lewat kaca jendelanya. Alurnya mengalir. Lancar. Teratur. Dan bisa ditebak endingnya – itu menurut saya. Tapi tidak demikian halnya dengan komentar Bapak Maman S. Mahayana yang dosen FIB UI itu. Beliau memuji novel ini yang katanya menjanjikan ketegangan yang tiada habis, mengalir deras, berkelok-kelok, penuh kejutan, spekulatif, penuh intrik, dan narasinya yang tak terduga.
Meski demikian, ide ceritanya kreatif. Sangat bahkan. Dan saya menyukai setiap patahan konsep ceritanya. Meski dimulai dengan kasus pembunuhan. Tapi saya melihat sesuatu yang berbeda. Tentunya karena settingnya berbeda dengan novel yang biasa saya baca. Rasanya lucu membaca Polda Metro Jaya versus Reserse Kriminal. Karena saya biasa mendapati Kepolisian New York, misalnya, atau setting New Orleans di novel-novelnya Sidney Sheldon, Agatha Christie, atau novel-novel sejenis. Hehe.. gaya bener desi. Tapi jujur, novel ini membumi sekali. Seperti yang saya duga sebelumnya. Penuh realita. Tapi juga penuh mimpi dan cita-cita. Nah lho, bingung kan? Tapi ES Ito, menurut saya, cukup cerdas mengawinkan antara keduanya, mimpi dan realitas.
Baiklah, meski saya malas menceritakan kisahnya, ada baiknya juga membuat tergiur dengan beberapa potong episode yang mungkin akan menambah rasa penasaran lebih lanjut. Pucuk ceritanya tentang sebuah benda. Bernama Serat Ilmu. Selintas mirip idenya cincin di Lord of The Ring atau Lukisan Monalisanya Da Vinci Code ya. Tapi cuma selintas kok, selebihnya bertolak belakang. Jauh lebih luas ruang lingkupnya. Dan rentang waktunya dari masa Gunung Krakatau meletus, melewati Sultan Iskandar Agung, hingga Sjafruddin Prawiranegara dan generasi terancam hilang anak muda sekarang. Juga tentang zaman Mpu Gandring hingga Museum Nasional yang minim perawatan itu. Lha, des, jadi ini novel sejarah ? Mmh.. bolehlah, karena setelah membacanya saya jadi tahu Tambo-nya suku Minang. Tahu fiosofis matrilineal-nya Padang. Tahu sejarahnya Minang. Lha, kok Padang semua ? Hehe.. iyya, teman saya bilang novel ini narsis Padang sekali. Yah, tapi bolehlah, wong suka-suka novelisnya lah. Haha.. Mmh, tapi novel ini juga diselingi episode roman yang saya pikir kurang konflik. Atau jikalau ada, kurang dipertajam konfliknya. Sehingga ruang hati saya yang bernama ruang ’ konflik’ minus drastis.
Novel ini juga bicara banyak tentang dunia remaja elite yang penuh skandal pergaulan bebas. Dan mmh.. juga bicara tentang dunia bebas di luar sana. Tentang sifat-sifat mendasar manusia, tentang egoisme, tentang ketamakan, tentang idealisme, tentang rasa bangga akan sebuah identitas, tentang semangat, tentang perjuangan, tentang jalan panjang, dan juga tentang banyak kebaikan. Sebuah novel yang humanis. Meski di beberapa sisi ada hal-hal yang ditolak logika saya, tapi ini murni kecenderungan seseorang terhadap sesuatu. Namun secara keseluruhan, novel ini layak dibaca. Dan saya memberikan satu bintang untuknya. Hanya satu. Karena saya hanya punya satu bintang untuk merasakan – hanya merasakan lho, saya nda pantas lah menilai, hanya merasakan tok, sebagai penikmat novel sejati -- novel genre ini.
Namun, terlepas dari betapa cintanya saya pada ide ceritanya, saya yakin ES Ito memiliki berjuta gelisah dan harapan akan sebuah perubahan yang sanggup ia tuangkan dalam novel-novel berikutnya. Yang mungkin di novel selanjutnya, ia akan mengenalkan saya pada pelakunya dan mendorong saya terjun untuk setiap alurnya. Tidak membiarkan saya berdiri dibalik kaca menatapi semuanya bergulir seperti dalam novel ini.
Oh ya, ada satu hal yang membuat saya terharu biru, yaitu saat membaca satu bait bab akhir yang redaksionalnya seingat saya berbunyi : “Mahasiswa adalah kegelisahan. Dan derapnya adalah pergerakan..“ juga salah satu kalimat pelaku utama yang kembali seingat saya berbunyi : “Anak muda cerdas mana di Indonesia ini yang tidak menginginkan revolusi. Bangsa ini sudah rusak.“ Aaahh...
Seketika ada yang berderak jauh di lubuk hati saya. Sebuah perubahan. Dan sebuah proses. Dan diantara keduanya ada rentang berliku yang berisi pergulatan. Dan itu berarti perjuangan. Yang semuanya adalah jalan panjang. Maka, hanya kesabaranlah yang sanggup melaluinya. Mengisinya dengan begitu banyak kebaikan. Tanpa merusak dan menghancurkan. Kesabaran menjalani setiap proses. Kesabaran menitinya dengan doa dan usaha. Bahwa di setiapnya akan tumbuh begitu banyak kebaikan. Hingga Allah mengantar kita pada sebuah titik, yang terangnya telah menyilaukan. Entah kapan. Tapi yakinlah ada. Untuk diri kita. Untuk keluarga kita. Untuk masyarakat kita. Untuk bangsa kita. Untuk Islam dan tegaknya. Untuk semuanya yang berbalut cahaya. Aamiin.
Terakhir, jika teknis penulisannya dan senjata-senjata ES Ito untuk terjun ke medan perang publik – dimana mba-mba dan mas-mas jagonya di milis FLP ini – telah terasah dan jam terbangnya sudah tinggi, saya yakin saya akan lebih bahagia setelah membacanya. Saya ingat, saat itu pukul 11:58 tengah malam saat saya menutup novel ini dan tersenyum sambil menutup mata. Tertidur. Dan setelahnya saya bermimpi tentang semburat ungu dan hijau yang bertebaran acak. Indah sekali.
Baiklah, Bapak ES Ito yang terhormat, tetap semangat berkarya, saya tunggu karya berikutnya dengan berjuta pemikiran, idealisme, semangat, gelisah, harap dan cita untuk sebuah perubahan. Ke arah yang lebih baik. Pastinya.
Desi Novita Sari
Tuesday, December 27, 2005
Sepasang Burung
Di suatu tempat,
Entah di mana, di dunia
Seseorang menunggumu, berdoa
Seperti doa yang biasa engkau ucapkan sehabis sholat
Pada suatu saat, entah apabila, di dunia
Seseorang merindukanmu, berjaga-jaga
Seperti malam-malammu yang berlalu sangat lambat
Seseorang menunggu, merindu, berjaga dan berdoa
Di suatu tempat, pada setiap..
Seperti engkau, selalu.....
(Ajip Rosidi, ”Ular dan Kabut”, 1972)
Pada akhirnya seseorang memang akan menemukan padanan sayapnya. Lalu terbang dengan sepasang. Membumbung. Ke langit.
Untuk seorang sahabat,
Untuk seluruh diskusi-diskusi kita,
Barakallahu lakum....
Aaah... Woman....
Bunderan HI, saat mentari begitu ramah menjelang hujan…
Taxi kami tersendat. Ada demonstrasi di ujung sana. Tapi sepertinya jenis yang beradab. Perempuan semua. Jumlahnya tidak lebih dari
”Is it in english, Des? I want to read it” suara Mr Punjabi dari kursi depan.
Mr Punjabi adalah CFO kami. Ia orang
Di samping saya mba Mita. Dan dibelakang saya ada dua taksi lainnya. Kami diundang Free Lunch oleh Mr Punjabi. Sebagai penghargaan atas kerja keras kami quarter end yang lalu, katanya. Tidak semua yang diundang, selected people only, and I felt so guilty because it will make others envy. Saya ingin mendebatnya tentang ini, semua orang bekerja, Mr Punjabi. Di kantor kami mana ada pekerjaan yang dimanage oleh dua orang, satu job description, satu orang yang handle. Dan untuk alasan itu dan alasan kesehatan jiwa saat bekerja, seharusnya semuanya diundang. Tapi seperti biasa, saya kalem saat menyadari mungkin maksud saya tidak akan jelas tersampaikan mengingat kemampuan bahasa saya yang tidak layak sekali. Depresi berat kalau mengingat ketidakmampuan saya ini, berkali-kali hendak reserve conversation class di The British Institute, tapi lalu di cancel lagi, gara-gara 1,5 juta per dua bulan yang satu kali seminggu, benar-benar perampokan, saudara-saudara !!
Minggu kemarinnya saya iri berat dengan mba Prita, anaknya IwanPonco itu lho, dia handle Treasury Country, mba yang cantik luar biasa ini ternyata luar biasa fasih saat presentasi tentang Investment for Your Life. Bahasa inggrisnya sempurna. Dan saya manyun sambil membesarkan hati, wajaar dong, kan lulusan Aussie. Hhhh, desi, selalu cari pembenaran. Besoknya saya berburu kaset-kaset, niatnya terlalu tinggi, british style english, tapi sampai sekarang masih sering tersandung. Pasti butuh lebih banyak niat lagi !!
Saya mengangsurkan kertas biru itu. Menjelaskan dengan patah-patah kondisi perempuan pekerja. Sebatas pengetahuan saya yang minim dan sebatas bahasa inggris saya yang luar biasa payah. Padahal saya ingin sekali menjelaskan perbedaan filosofis perempuan di berbagai negara. Latar belakang sejarah mereka. Mendebat pendapatnya tentang wanita India. Dan begitu banyak ide yang berloncatan. Tapi saya hanya merespon ucapan Mr Punjabi dengan ”yes, Mr Punjabi, you right. I don’t think so, Mr Punjabi. This is the reality, Mr Punjabi.” Duuh, sedihnya, mengapa hal sesimple bahasa begitu jadi kendala yah.
Taksi kami pun memutar, ambil jalur Kebon Sirih. Penang Bistro restaurant. Dari jauh saya melihat kumpulan perempuan yang berseragam kaus putih itu masih sibuk membagi-bagikan selebaran biru. Perusahaan kapitalis yang orientasinya hanya laba tentu akan berpikir banyak untuk merekrut perempuan. Cuti hamil tiga bulan tapi makan gaji buta full, cuti period tiap bulan, cuti karena anak sakit, cuti karena anak pertama masuk sekolah, cuti karena suami sakit, cuti karena ada pekerja bangunan di rumah dan lain-lain. Dan untuk semuanya itu mereka masih harus bekerja mencari nafkah yang seringnya diselingi kekerasan dan sindiran seksualitas. Aahh, woman.....
Penang Bistro Restaurant, saat berjuta-juta laki-laki berdoa dalam sujud panjangnya...
Mr Punjabi, menurut saya sangat nasionalis. Dia sangat India. Sudut pandangnya. Tindakannya. Filosofisnya. Saat review tahunan bulan lalu, saya – setelah stress berat karena merasa kurang puas menjawab pertanyaanya dengan baik – mengorek tentang rencana masa depannya, tanggapannya terhadap keluarga, dan pikiran-pikirannya. Langkah cerdas, des. Karena saya hanya mendengarkan dan bergumam sesekali.
Selera makan pun begitu, dia vegetarian sejati. Kami bertanya tentang motifnya menjadi vegetarian. Untuk tradisikah? Kita semua tahu India sangat terkenal akan tradisinya ini. Untuk kesehatankah ? Tapi dia menjawab, untuk semua alasan itu, untuk tradisi, untuk kesehatan dan terutama untuk agama. Saya selalu bingung jika ditanya kapan saya menjadi vegetarian, karena saya tak pernah memulainya, saya terlahir sebagai vegetarian. Orangtua saya. Saudara-saudara saya. Istri saya. Ungkapnya panjang lebar. Waah, desi, listen, he’s doing it for religion !!
Dan saya tergelak sendiri. Pasti dia melihat kami makan seperti saat seorang muslim melihat orang lain makan babi didepannya. Hidangan yang ada daging dan ikan semua. Hahaha..
Kami makan melingkar. Mejanya bundar. Titik-titik hujan buatan mengalir di dinding sebelah. Pahatannya sempurna. Seperti tidak sedang berada di Jakarta yang panas. Pohon-pohon hijau cantik menghiasi sisi sebelah. Dan langit-langitnya tinggi dan indah. Pelayanan kelas satu. Mungkin karena semua biaya tambahan ini, harga makanannya selangit.
Saya selalu risih saat makan dengan sendok dan garpu. Baik, saya tahu sendok di kanan dan garpu di kiri. Tapi saya harus membalik posisi saat makan daging atau sesuatu yang mesti dipotong. Masa makan pakai tangan kiri ? Ooh, please dong, dikira nanti kita gak cinta Rasulullah lagi.. Dan karena ribet juga bolak-balik posisi, sebisa mungkin saya optimalkan sendok. Hehe.. Biarlah Mr Punjabi senyum-senyum. Untungnya dia tidak bertanya. Jika iya, saya akan mencontek jawabannya, ”mostly for religion” J
Kami hampir memulai dessert, saat mba Emi bertanya, ”how come Mr Punjabi, your staff is 90% woman ?” Dan itu memancing reaksi dialog lebih lanjut. Mr Punjabi membawahi sekitar tujuh bidang yang dihandle tujuh manager dalam alur besar Finance and Administration . Salah satunya adalah mba Nina, manager saya. Dan heyy, saya baru sadar, manager laki-laki hanya tiga orang, dan itupun staffnya 80% perempuan. Kebanyakan ibu-ibu yang sudah bekerja disini belasan tahun. Paling wajah baru dan kebetulan laki-laki ya si Anton di procurement
Saya suka sekali tema tentang perempuan, sedikit banyak karena saya perempuan. Dan karena akhir-akhir ini di kantor issue ini mulai menghangat. Mba Ifa, manager sebelah hendak resign. Anaknya cuma satu dan kebetulan autis. Mungkin alasan klise tentang double income-lah yang lambat membuatnya memfinalisasi keputusannya ini. Suaminya karyawan biasa. Sebenarnya bintang mba Ifa cerah sekali, dia supel, cerdas, muda, pekerja tangguh dan tahan banting. Kerjanya hebat dan dipuji banyak orang. Tapi anak satu-satunya autis. Autis berarti butuh perhatian lebih. Lalu, siapa yang akan mengalah ? hhm.. tidak tepat jika saya sebut mengalah, tapi lebih kembali pada prioritas mendasar. Tapi saya tidak ingin berargumen lebih lanjut lagi, saya tidak tahu ujung masa depan saya juga akan seperti apa. Dan rasanya juga tidak terlalu adil jika menuntut masnya mba Ifa berpenghasilan seperti mba Ifa. Kemampuan setiap orang juga berbeda.
Saya jadi teringat review saya dengan Mr Punjabi. Mr Punjabi bertanya tentang rencana saya. Saya katakan lepas dua tahun kerja saya akan ambil cuti sekolah. Kemana ? inginnya Inggris atau US, saya jawab. Standar jawaban untuk orang-orang yang bermimpi terlalu tinggi. Lalu kami berbincang banyak tentang dua negara tersebut. Mengapa harus dua tahun kerja ? Saya berkata itu waktu paling minimal Mr Punjabi, saat saya mengizinkan diri saya mengikuti test TOEFL dan mengapply scholarship. Saya mengejar beasiswa dan itu tentu tidak mudah. Mungkin butuh waktu dua tahun, tiga atau lebih saat saya akhirnya mendapat beasiswa. Saya ingin bekerja, Mr Punjabi. Saya ingin melihat ilmu-ilmu yang dulu saya pelajari bergerak dinamis dalam dunia yang lebih nyata. Dan saya menikmatinya.
Lalu Mr Punjabi bertanya tentang rencana personal saya. Kapan saya akan menikah, keluarga jenis apa yang akan saya bina, apakah saya akan tetap menikmati pekerjaan saya. Saya berkata, tentu setelah menikah, sudut pandang saya akan berbeda. Dunia saya tidak akan berputar sendiri. Dunia saya akan berputar bersama dunia yang lain, mungkin berputar mengelilingi dunia lainnya yang lebih besar. Lalu, saya berkata padanya, dunia perempuan berbeda dengan dunia laki-laki. Dalam agama yang saya anut, surga termudah seorang perempuan ada dalam ridho suaminya. Jadi tentu nantinya, akan ada perubahan dalam hidup dan pencapaian-pencapaian saya setelah menikah.
Dan setelahnya saya banyak menjawab pertanyaanya dengan kata-kata yang dimulai dengan, ’itu tergantung Mr Punjabi, tergantung kompromi saya dengan suami kelak’, ’banyak pertimbangan Mr Punjabi, pertimbangan saya dan suami saya’ dan sebagainya. Dan dia pun berkata ’’mengapa begitu banyak variabel des?’ Dari sorot matanya saya menangkap sepertinya dia melihat saya tidak punya kendali apapun terhadap hidup saya sendiri. Ya bagaimana tidak, dia menanyakan sesuatu di masa depan yang saya tidak punya kendali sedikit pun padanya. Saya kan tidak tahu apakah saya akan menikahi seorang birokrat, politisi, pengusaha, eksekutif kantor, karyawan biasa, akademisi, budayawan, olahragawan atau seorang dokter maupun insinyur. Jelas saja saya tidak bisa menjawab pertanyaan teknis seperti itu, jika konsep nilai tentu akan saya ladeni. Hhh...
Tapi akhirnya, setelah saya berusaha keras menjawab pertanyaan-pertanyaanya dengan ’gaya cerdik’ tapi nampaknya dia masih berkerut entah tidak setuju dengan pendapat saya atau berusaha menangkap kata-kata saya yang tidak beraturan kala emosi saya pecah, saya jadi berpikir panjang. Mengapa begitu banyak variabel ya dalam hidup seorang perempuan ? dan kita harus menyiapkan begitu banyak planning supaya jika terjadi nanti, kita hanya tinggal memilih satu diantara begitu banyak planning. Mba Rita, teman saya di kereta yang kebetulan marketing di kantor sebelah yang sedang naik daun, baru saja resign kerja dan pindah ke Banjarmasin mengikuti suaminya yang ditempatkan disana. Mba Dian senior saya di kantor cuti sekolah ke Belanda karena mendapat STUNED tahun lalu. Dia berangkat sendiri. Suaminya punya pekerjaan bagus dan tetap di Indonesia. Baru tiga bulan di sana, dia baru tahu kalau dirinya hamil dan akhirnya dia pulang ke Indonesia, melahirkan. Sepertinya STUNEDnya hangus.
Tapi setelah saya pikir lagi, memang perempuan itu diciptakan Allah sangat fleksibel. Hidupnya penuh variabel-varibel. Teman saya bilang, it’s oke des, setelah menikah kamu hanya tinggal membelokkan rencanamu, tidak menggantinya penuh. Misalnya, jika kamu ingin sekolah lagi di luar negeri, dan suamimu tidak mengizinkan / tidak bisa / tidak mau menemanimu, ya gantilah dengan sekolah dalam negeri. Uuuhh.. dan saya merenggut, berbeda sekali sekolah di luar dan dalam negeri. Dan saya punya listnya penuh satu buku. Lha, terus, masa kamu mau menolak seorang calon potensial gara-gara merasa dia tidak mendukung impianmu ? Saya tertawa, enggak, dia pasti langsung mundur melihat kok ada perempuan yang penuh obsesi terlalu tinggi dan gak bisa diatur. Haha..
Atau idenya teman chat saya yang sedang kuliah di Jerman. Dia cerita baru berkenalan dengan ibu-ibu usia pertengahan yang baru memulai kelas masternya. Ibu ini sangat bersemangat meski ia tampak jauh dari kesan muda. Ketika ditanya, kenapa baru memulai sekarang, ibu ini menjawab, karena saat muda dulu ia memiliki prioritas lain, yaitu anak-anaknya. Sekarang saat anak-anaknya dewasa, dia baru membuka impiannya lagi. Dan hebatnya, she just made it !!
Dan saya pun akhirnya tersenyum sambil menjawab, “that’s woman, Mr Punjabi, so many variabel....’” Saya tidak ingin mendebatnya lagi, karena dia dalam posisi atasan yang mencoba mempertahankan karyawannya sedang saya melihat dari sudut kehidupan yang lain. Sedang saya tahu Mr Punjabi melarang istrinya bekerja. Anaknya cuma satu, 14 tahun, sekolah di
Lalu Mr Punjabi bertanya bidang yang ingin saya ambil kelak. Saya jawab, mungkin finance, saya suka bidang itu. Lalu dia pun mengajukan satu pertanyaan yang bisa meruntuhkan seluruh planning saya. Bagaimana jika saya beri kamu assignment yang benar-benar finance, mungkin di tempatnya Vincent, atau kamu bisa apply untuk assignment finance di KL, apakah kamu masih mau sekolah ? Hhhmm, interesting offering, tapi rencana besar saya jauh dari sekedar sekolah atau tidak. Sekolah hanya satu bagian kecil. Tapi tentunya saya tidak bisa katakan itu padanya. Pola pikir kami pun berbeda. Mr Punjabi besar secara profesional, dia punya gelar CFA, dan sederet gelar profesional lainnya. Dia hanya bachelor, bukan master apalagi doctor. Jadi saya hanya menjawab garis besar saja. Lagi-lagi soal variabel. Dan dia hanya mengangguk berkali-kali. Lebih karena semangat saya ketimbang isi dari jawaban saya.
Dari balik kaca yang berukir indah khas melayu -- maklum Penang Bistro resto Malay, saya tahu kalau Jakarta mulai hujan. Setelah hujan, biasanya Jakarta lebih bersih. Lebih hening. Lebih tenang.
Jadi saat akhirnya Mr Punjabi menjawab ’Yeah, that’s challenge for me’ menanggapi pertanyaan mba Emi, saya berpikir lagi tentang perempuan-perempuan masa kini. Betapa tantangannya begitu hebat. Di semua lini bisa kita temui perempuan tangguh. Bahkan di kantor saya yang notabene industri laki-laki, CEO-nya seorang perempuan. Dia seorang perempuan bervisi yang sejak tahun pertama di kantor menetapkan cita-citanya untuk menjadi seorang CEO perempuan pertama di kantor saya. Dan akhirnya memang tercapai.
Setelah menyelesaikan dessert dan beranjak pulang, saya pun bertanya, ’lalu, apa visimu des ?’
Hujan turun. Titik-titiknya indah. Menghujam. Melerai semua kelabu. Menghadirkan tenang. Semoga syukur yang berdengung benar-benar membumi. Hingga ke sudut-sudut penuh luka sekalipun.
Sesampainya dikantor jam sudah menunjukkan setengah dua. Jumat memang hari pendek. Saya membuka email saya dan menemukan satu undangan menghadiri Women’s Leadership Conference di Ritz
Minggu pagi, Miftahul Jannah, saat ketenangan berhimpun dalam satu asa
Kelas perdana tahsin dan tilawah. Ustadz Muzzammil dari LTQ Al-hikmah yang mengisi. Dan dibutuhkan niat dan sesal hampir enam bulan penuh untuk menghadirinya. Dan saya mengucapkan selamat pada diri saya sendiri. Selamat, desi !! Haha.. saya mendaftar dan membayar penuh untuk semester yang lalu, tapi hebatnya – atau menyedihkannya – saya tidak pernah menghadiri satu pun kelasnya. Alasan klise tentang sulit bangun pagi dan sudah stand by di Miftahul Jannah pukul 6 pagi teng di hari minggu. Pffiuhhh.. Maka dengan niat yang semoga Allah selalu menguatkannya juga rasa iri berat karena teman-teman saya sudah naik kelas tahfidz, saya akhirnya hadir disini.
Ada rasa yang membubung saat saya berada di lautan jilbab. Kain agung yang dihulurkan menutupi setiap jengkal tubuh. Aah, bukan kainnya yang agung, tapi komitmennya, niatnya.. dan saya bangga berada diantara mereka. Rasanya sesak dan terharu. Rindu sekali saya akan suasana seperti ini. Matahari baru saja menyapa, tapi mesjid ini sudah penuh. Wajah-wajah bersahaja penuh senyum. Yang melihatnya saja sudah meredam semua gejolak hati saya. Perbandingannya lima puluh persen lah. Antara ibu-ibu dengan yang single. Tapi mungkin saya salah prediksi. Karena ruangan ini pun penuh balita. Yang berlarian bebas mengelilingi luasnya mesjid. Saya jadi terpikir, ibu-ibu itu bangun jam berapa ya, membersihkan rumah, mempersiapkan sarapan untuk suami di rumah, memandikan dan menyuapi si kecil lalu berangkat ikut kelas bersama si kecil dan sudah berada disini tepat jam 6. Subhanallah, memang pejuang tangguh !!
Saya jadi teringat seorang teman. Dia sangat kontroversial dan untuk alasan kuat saya ingin dia berada disini saat ini. Dia berkata, ’kebanyakan wanita Indonesia berhenti berpikir saat dia menikah. Ia menyerahkan hidupnya pada suaminya. Dia berhenti bertumbuh. Baru mereka mulai berpikir lagi saat suaminya meninggal atau cerai, saat kendali hidupnya diserahkan lagi padanya’. Ggrhh....
Tapi heyy look, disini buktinya tidak kok. Saya melambai pada seseorang diujung
Setelah keadaan ekonomi mulai membaik, suaminya ditempatkan di luar negeri, ya di Libya itu. Teh Neneng ikut juga. Tapi saat anak-anaknya balita, dia memutuskan kembali ke Indonesia, sendiri. Alasannya, Libya tidak baik untuk perkembangan psikologis dan agama anak-anaknya. Saya terharu jika sampai bagian ini. Teh Neneng cerita soal Libya yang begini dan begitu. Dan tidak ada surga seindah Indonesia untuk perkembangan Islam. Dan akhirnya beginilah. Suaminya pulang tiga bulan sekali. Tapi sepertinya saat anak-anaknya cukup bagus pondasi agamanya, dia akan ikut suaminya lagi. Dan itu berarti tahun depan. Dan saya tahu saya akan sedih sekali saat itu.
Tapi meski tidak pernah berprofesi profesional, saya tidak pernah berpikir sedikitpun Teh Neneng berhenti bertumbuh. Ia cerdas. Diskusi kita tentang politik jalan. Analisisnya tajam. Dia cermat mengamati koran dan telivisi. Diskusi tentang harakah dan pergerakan dinamis kalau dengan dia. Dia terupdate selalu. Diskusi tentang kiprah perempuan pun maju. Dia menenangkan sekali. Rasanya wajar dan biasa saja ya, semua orang juga, tapi jika melihat dia memiliki empat orang anak yang aktif-aktif yang beda usianya cuma setahun dua tahun tanpa pembantu serta suami yang terpisah jauh, saya beri dia dua jempol. Teh Neneng cerita bangun tiap pagi pukul tiga lalu mulai belajar. Saya tanya belajar apa ? Belajar tahsin katanya. Baca buku – koleksi perpustakaanya hebat. Dan menghapal quran. Hhh.. Subhanallah. Tak terbayang saya sepertinya. Dan saya tidak ragu keempat anaknya akan tumbuh hebat.
Siapa bilang, wanita Indonesia saat menikah lalu mulai berhenti berpikir ? Heyy, des, kan kebanyakan, contoh yang tadi mungkin pengecualian yah. Hhhmm..
Pikiran saya teralih. Saya menekuri diktat baru saya. Belajar tahsin itu sulit. Kenapa mesti bacaannya begini, landasannya apa, ternyata ada semua. Dan saya jadi termenung. Dulu empat tahun kuliah saya tidak terbujuk sedikit pun untuk tahsin. Kan sudah lancar bacaanya. Tapi lancar pun tidak cukup. Harus benar bacaanya. Itu ucapannya Ust Muzammil. Ustadz muda awal tiga puluh yang sudah hafidz sejak usia 15 tahun. Dia cerita sertifikasi syahadah di LTQ Al Hikmah kemarin, dari 25 kelas tahfidz, yang lulus sertifikasi hanya empat. Dan dari kelas tahsin, tidak ada satu pun yang lulus. Wuiihh...
Seorang anak kecil berlari-lari memutari saya. Dia tertawa riang. Ibunya tekun mendengarkan kuliah perdana. Dan entah mengapa saya merasa nyaman disini. Meski suasanya ribut. Meski saya berusaha keras untuk menyimak kuliah Ustdz di depan. Meski anak kecil tadi mengajak saya bermain dengan tawanya. Ya, saya merasa nyaman. Semuanya terasa alami. Apa adanya. Banyak kebaikan disini. Mungkin kelak anak kecil ini akan tumbuh cintanya untuk mempelajari quran secara menyeluruh sedari dini karena terbiasa melihat ibunya akrab dengan quran, tidak seperti saya yang usia kepala dua baru memulai belajar secara serius.
Seperti cerita Ustdz Yusuf Qardhawi tentang seorang anak usia tiga tahun di Iran yang ajaibnya sudah hapal quran. Dan setelah ditelusuri mungkin ini karena keberkahan ibunya yang menjaga kesucian dirinya semasa mengandung. Subhanallah...
Allah memberi banyak kebaikan pada perempuan. Dan lebih banyak lagi kebaikan saat dia memutuskan menjadi seorang ibu. Mungkin tidak terlihat pada dirinya. Tapi nanti pada anak-anaknya. Cucu-cucunya. Dan keturunanya kelak.
Dan pikiran saya mengalun pada mba Ifa, mba Dian, Teh Neneng, mba Rita, dan wanita-wanita lainnya yang saya kenal. Mungkin selama ini saya selalu terpaku pada cangkir itu sendiri. Apakah itu porselen ? Jika ya, tolong berikan pada saya. Oh, bukan ya, plastik ?, oh tidak, buang jauh-jauh saja jika plastik. Dan saya mengabaikan isi didalam cangkir itu sendiri, saya tidak peduli itu teh, kopi, susu atau air mineral, asalkan porselen. Padahal justru saya harus memutuskan saya ingin teh, kopi atau susu terlebih dahulu. Bukan hanya berkisar pada porselen atau plastik saja.
Astagfirullahaladzhim...
Robb, sujud padaMu...
.........dan saat itu saya hanya ingin bersimpuh dalam sujud panjang yang tak putus, membilas semua debu hati saya, dan menenangkan setiap gelisah jiwa saya......
desi novita sari
27 nov 05